Apa itu Abses Skrotum?

Abses skrotum adalah kondisi di mana nanah terkumpul di dalam skrotum, yaitu kantong kulit yang berfungsi menampung testikel. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan munculnya kondisi ini. Salah satunya komplikasi dari infeksi bakteri pada kandung kemih atau ureter. Infeksi semacam ini dapat berpindah ke skrotum. Selain itu, kondisi ini juga dapat disebabkan oleh penyakit menular seksual, seperti klamidia dan gonorea.

Jika didiagnosa dan diobati sejak dini, kondisi ini mudah diatasi dengan pengobatan. Namun, jika dibiarkan atau terlambat mendapatkan pengobatan, maka beberapa komplikasi dapat terjadi. Seperti, kemandulan akibat infeksi kronis. Akibatnya, kemampuan penderitanya untuk menghamili pasangan terganggu.

Penderita kondisi ini biasanya menimbulkan gejala yang sama dengan penyakit menular seksual dan infeksi saluran kemih. Seperti, keluarnya cairan dari penis, nyeri, dan lebih sering berkemih. Kondisi ini dapat diobati dengan antibiotik dan nanah yang terkumpul akan dikeluarkan.

Penyebab Abses Skrotum

Abses skrotum dapat disebabkan oleh sejumlah faktor. Di antaranya folikel rambut yang terinfeksi hingga infeksi bakteri. Dalam beberapa kasus, ketika nanah sudah dikeringkan, ditemukan bahwa infeksi berasal dari radang usus buntu yang menemukan jalan untuk mencapai skrotum.

Seseorang yang telah menjalani pembedahan apapun yang melibatkan skrotum juga memiliki risiko lebih tinggi mengembangkan abses skrotum. Setiap luka terbuka bisa menjadi pintu gerbang bagi bakteri dan patogen lainnya untuk masuk ke dalam tubuh. Hal ini bisa dicegah dengan penggunaan antibiotik. Dalam kasus lain, abses skrotum terjadi sebagai bentuk komplikasi pengobatan kandung kemih neurogenik dan striktur uretra.

Obat tertentu juga bisa menyebabkan infeksi pada skrotum. Contohnya adalah konsumsi obat untuk mengobati aritmia serius. Dan seperti yang disebutkan di atas, abses skrotum dapat dipicu oleh penyakit menular seksual dan infeksi lainnya seperti tuberkulosis.

Gejala Utama Abses Skrotum

Gejala utama abses skrotum meliputi adanya massa pada skrotum yang bisa diraba oleh jari dan timbulnya rasa nyeri mendadak yang menyebar ke punggung, perut, dan/atau selangkangan. Sebagian penderitanya juga melaporkan bahwa skrotumnya terasa berat. Ada juga yang mengalami pembengkakan atau testikel dan skrotum yang mengeras. Sering kali kondisi ini dibarengi dengan demam dan penderitnya lebih sering berkemih.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Seseorang yang menunjukkan gejala yang disebutkan di atas perlu berkonsultasi dengan dokter umum untuk penilaian awal. Jika ada kekhawatiran terhadap abses skrotum, pasien mungkin dirujuk ke dokter spesialis bedah.

Awalnya, pasien perlu didiagnosis dengan sejumlah tes dan prosedur. Dokter sering memulai dengan pemeriksaan fisik menyeluruh dan meninjau riwayat kesehatan pasien. Tes urin dan kultur luka juga digunakan untuk mengonfirmasi infeksi. Kedua tes juga bisa menentukan jenis patogen yang menyebabkan kondisinya.

Selain itu, ultrasound juga sering digunakan. Ini adalah tes pencitraan tanpa rasa sakit yang memanfaatkan gelombang suara untuk menghasilkan gambar struktur di dalam tubuh. Tes ini sangat berguna dalam mengidentifikasi penyebab infeksi, pembengkakan, dan nyeri. Terlebih lagi, tes ini juga dapat membantu dokter membuat diagnosis pasti dan menyingkirkan kondisi medis lain yang menyebabkan gejala serupa.

Guna mengobati kondisi ini, nanah dalam skrotum pasien perlu dikeringkan. Dokter bedah akan membuat sayatan dan membuka akses ke skrotum untuk mengeluarkan nanah. Dengan demikian, daerah yang terinfeksi memungkinkan untuk sembuh. Jika ada jaringan mati (yang sering terjadi saat perawatan tertunda), pengobatan akan melibatkan eksplorasi bedah dengan biud total. Semua jaringan mati harus diangkat. Pasien diberi antibiotik spektrum luas untuk mencegah infeksi lebih lanjut.

Dokter bedah sering kali membiarkan luka terbuka sampai sembuh. Namun, pasien perlu mendapatkan perawatan luka yang tepat untuk mencegah infeksi baru. Selain itu, perawatan yang tepat juga mendorong penyembuhan kulit dan kerusakan struktur di dalam skrotum.

Bed rest disarankan setelah operasi. Penting bagi skrotum untuk disanggah. Pasien bisa melakukannya dengan meletakkan handuk di bawahnya. Pasien juga disarankan untuk tidak berhubungan seks sampai benar-benar sembuh. Pasien juga perlu menjalani konsultasi lanjutan dalam waktu satu atau dua minggu setelah operasi untuk memastikan bahwa luka mereka sembuh dengan benar. Area operasi juga diperiksa untuk tanda-tanda komplikasi.

Rujukan:

  • Okwudili OA. Temporary Relocation of the Testes in Anteromedial Thigh Pouches Facilitates Delayed Primary Scrotal Wound Closure in Fournier Gangrene With Extensive Loss of Scrotal Skin-Experience With 12 Cases. Ann Plast Surg.

  • Thakur A, Buchmiller T, Hiyama D, Shaw A, Atkinson J. Scrotal abscess following appendectomy. Pediatr Surg Int. 2001 Sep. 17(7):569-71.

Bagikan informasi ini: