Apa itu Neuroma Akustik?

Neuroma akustik adalah tumor jinak yang tumbuh di sel Schwann, yang dapat ditemukan di selubung mielin di saraf vestibulokoklear; saraf yang menghubungkan bagian dalam telinga dan otak.

Di Amerika Serikat, setiap tahun ada sekitar 3000 kasus diagnosis neuroma akustik baru. Penyebab utama dari hal ini adalah perkembangan terbaru dalam pencitraan kesehatan seperti MRI scan. Kebanyakan pasien yang menderita penyakit ini berusia 30-60 tahun.

Pertumbuhannya lambat dan sangat jarang terjadi, neuroma akustik memengaruhi pendengaran dan keseimbangan pasien. Namun, ada beberapa kasus di mana tumor jinak ini tumbuh dengan lebih cepat, sehingga memengaruhi fungsi penting otak lainnya.

Bertambahnya jumlah diagnosis neuroma akustik disebabkan oleh berkembangnya teknologi pencitraan kesehatan, yang bahkan dapat mendeteksi tumor kecil yang sebelumnya tidak dapat terlihat. Tes auditori untuk memeriksa pendengaran dan tingkat pemahaman pasien dapat menjadi langkah pertama untuk mendapatkan diagnosis, karena dokter akan mencari penyebab gangguan pendengaran. Di kebanyakan rumah sakit dan klinik, MRI scan yang menggunakan gadolinium sebagai pembanding merupakan peralatan yang lebih diminati untuk mendiagnosis neuroma akustik.

Penyebab Neuroma Akustik

Pada beberapa kasus neuroma akustik, penyebabnya tidak dapat diketahui dengan mudah; beberapa dokter mendiagnosis pasien mereka dengan penyakit ini dan menyatakan bahwa penyebabnya tidak diketahui (idiopatik). Penelitian menunjukkan bahwa kelainan pada gen penekan, terutama gen yang ada di kromosom 22, adalah penyebab umum dari dari penyakit ini. Pada individu normal, gen di kromosom 22 akan menghasilkan protein yang berfungsi untuk mengendalikan produksi dan perkembangan sel Schwann di saraf vestibulokoklear di selubung mielin.

Tanpa protein ini, pertumbuhan sel Schwann dapat menjadi tidak terkendali dan menyebabkan tumbuhnya tumor di selubung saraf. Namun, penelitian tidak dapat menunjukkan penyebab gen penekan tersebut tidak bekerja dengan normal.

Ada beberapa studi yang menemukan bahwa kelainan gen tersebut merupakan kelainan bawaan, dan biasanya diturunkan dengan penyakit lainnya, yaitu neurofibromatosis tipe 2. Penyakit ini adalah pertumbuhan tumor pada saraf yang berfungsi untuk menciptakan keseimbangan di kedua bagian kepala. Neurofibramatosis dapat menyebabkan ketulian total apabila tidak terdeteksi dan tidak diobati.

Namun, sekitar 90% kasus neuroma akustik terjadi dengan sendirinya, tanpa ada riwayat penderita neurofibromatosis tipe 2 di keluarga pasien. Walaupun ketulian total biasanya tidak diketahui atau dilaporkan oleh pasien, sebaiknya pasien langsung menjalani pengobatan setelah didiagnosis menderita penyakit ini, agar dapat mencegah komplikasi serius seperti gangguan pendengaran yang parah atau kehilangan keseimbangan total.

Gejala Utama Neuroma Akustik

Pada banyak kasus neuroma akustik, tumor tumbuh secara perlahan seiring bertambahnya waktu, 1-2 milimeter setiap tahunnya. Saat bertambah besar, tumor akan menempati bagian otak yang seharusnya ditempati oleh jaringan normal otak, sehingga menyebabkan gangguan fungsi normal, pemberi kehidupan otak. Seiring bertumbuhnya tumor, tumor ini tidak akan memasuki otak, namun akan mendorong dan menggantikan jaringan otak. Hal ini akan menyebabkan tekanan yang berat pada otak, cerebellum, dan batang otak.

Kebanyakan gejala utama dari tumor ini sering disalahartikan sebagai penyakit lain, atau bagian dari proses penuaan alami. Beberapa pasien ada yang diberitahu bahwa gejala yang mereka alami terjadi karena mereka sering mendengarkan suara yang nyaring. Dulu, banyak dokter yang salah mendiagnosis stadium awal neuroma akustik karena gejalanya mirip dengan penyakit lain.

Pada 90% kasus neuroma akustik, gejala pertama adalah berkurangnya pendengaran di salah satu telinga, dikenal sebagai kehilangan pendengaran unilateral. Seiring tumbuhnya tumor, pendengaran akan semakin memburuk. Gejala ini biasanya disertai dengan tinnitus, atau suara dering yang terus terdengar oleh pasien yang tidak berasal dari luar. Tinnitus dapat terjadi bersamaan atau tidak bersamaan dengan neuroma akustik.

Pasien yang menderita penyakit ini juga dapat mengalami pusing dan kesulitan menyeimbangkan diri. Pada beberapa kasus, ketidakseimbangan tubuh sering timbul hilang dan biasanya tidak terlalu parah. Banyak pasien neuroma akustik yang mengeluhkan kesulitan berjalan dalam gelap. Mereka juga mengalami kelainan stabilitas penglihatan, yang dapat menyebabkan pusing dan gangguan kinerja proprioceptor di otak.

Banyak pasien yang juga mengalami sakit kepala saat sebelum dan sesudah pengobatan. Nyeri wajah juga dapat menjadi gejala neuroma akustik, terutama karena tumor ini biasanya menyerang saraf di otak yang mengendalikan pergerakan otot wajah.

Siapa yang Harus Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pengobatan untuk penyakit ini ada beragam dan tergantung pada ukuran dan tahap pertumbuhan tumor. Dokter umum dan dokter keluarga biasanya akan memberikan tiga pilihan pengobatan neuroma akustik, yaitu: pengawasan, operasi pengangkatan, dan terapi radiasi.

Pengawasan meliputi observasi yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Pengawasan adalah pengobatan untuk kasus di mana tumor bersifat jinak dan pertumbuhannya lambat, sehingga banyak dokter yang menyarankan pengawasan proses pertumbuhan tumor daripada melakukan pengobatan yang agresif. Namun, harus diingat bahwa pengawasan adalah pilihan yang tepat saat gejala yang dialami tidak serius dan tidak membahayakan nyawa.

Operasi dapat menggunakan beberapa pendekatan, termasuk middle fossa, retrosigmoid atau sub-oksipital, dan translabyinthine. Setiap pasien akan dievaluasi untuk mengetahui letak dan ukuran tumor, tujuan tindakan (misalnya penyelamatan pendengaran atau penghilangan tekanan berlebih di batang otak), serta pengalaman dan keahlian dokter bedah yang akan melakukan tindakan. Operasi mikro juga dapat dilakukan untuk mengangkat sebagian atau seluruh bagian tumor.

Sedangkan terapi radiasi menggunakan gelombang radiasi kecil yang diarahkan pada tumor tanpa membahayakan jaringan otak di sekitarnya. Penelitian menunjukkan bahwa radioterapi memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan operasi dalam pengangkatan tumor dan menyelamatkan pendengaran pasien.

Rujukan:

  • Baloh RW, Jen J. Hearing and equilibrium. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman’s Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2011:chap 430.

  • Brackmann DE, Arriaga MA. Neoplasms of the posterior fossa. In: Cummings CW, Flint PW, Haughey BH, et al, eds. Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 5th ed. Philadelphia, PA: Mosby Elsevier; 2010:chap 177.

  • Battista RA. Gamma knife radiosurgery for vestibular schwannoma. Otolaryngol Clin North Am. 2009;42:635-654.

  • Sweeney P, Yajnik S, Hartsell W, Bovis G, Venkatesan J. Stereotactic radiotherapy for vestibular schwannoma. Otolaryngol Clin North Am. 2009;42:655-663.

  • Conley GS, Hirsch BE. Stereotactic radiation treatment of vestibular schwannoma: indications, limitations, and outcomes. Curr Opin Otolaryngol Head Neck Surg. 2010 Oct;18(5):351-6.

Bagikan informasi ini: