Apa itu Alat Bantu Bicara?

Alat bantu bicara adalah alat elektronik atau suatu sistem yang bertujuan untuk membantu orang yang mengalami kesulitan berbicara agar mereka tetap dapat melakukan komunikasi secara verbal. Alat ini juga dikenal sebagai alat penghasil percakapan atau alat komunikasi penghasil suara.

Alat bantu bicara memiliki banyak jenis, mulai dari alat yang sederhana sampai sistem yang lengkap yang dapat digunakan untuk menyampaikan emosi seseorang dengan merekam suara alami pasien secara digital. Keberhasilan alat bantu bicara banyak diketahui dari penggunaan dan pengalaman pribadi dari orang yang terkenal, salah satunya adalah Stephen Hawking.

Siapa yang Harus Menggunakan Alat Bantu Bicara dan Hasil yang Diharapkan

Alat bantu bicara diberikan bagi mereka yang tidak dapat berkomunikasi secara verbal. Kesulitan berbicara dapat terjadi karena banyak hal, seperti:

  • Refluks asam lambung
  • Tumor dan kanker tenggorokan
  • Kanker kepala dan leher
  • Polip, nodul, kista, dan pertumbuhan jinak lainnya pada pita suara
  • Gangguan pada langit-langit mulut, seperti celah pada langit-langit mulut
  • Kerusakan saraf pada pita suara
  • Kerusakan pada pita suara akibat terlalu sering digunakan
  • Aphasia
  • ALS atau amyotrophic lateral sclerosis, suatu penyakit saraf degeneratif yang menyerang sel saraf di sumsum tulang belakang dan otak
  • Kelainan bawaan
  • Jaring laring, atau suatu jaringan tipis yang terletak di antara pita suara
  • Kelumpuhan otak (cerebral palsy)
  • Gangguan berbicara

Gangguan berbicara, yang biasanya mulai terjadi saat usia dini, meliputi:

  • Kesulitan artikulasi
  • Tidak mampu berbicara dengan baik, misalnya gagap
  • Gangguan bahasa

Kebanyakan dokter akan memberikan alat bantu bicara saat pasien didiagnosis mengalami gangguan berbicara, yang dapat dilihat dari gejala yang dialaminya. Gejala tersebut biasanya meliputi:

  • Berbicara dengan gagap, yang tidak berhenti walaupun anak sudah berusia di atas 4 tahun
  • Mengeluarkan bunyi atau kata yang tidak diperlukan saat berbicara
  • Memperpanjang bunyi dari kata yang pendek
  • Merasa atau terlihat frustasi karena tidak dapat berkomunikasi dengan baik
  • Mengedipkan mata secara tidak wajar saat berbicara
  • Menggerakkan kepala saat berbicara
  • Malu untuk berbicara
  • Mengeluarkan suara yang tidak jelas
  • Subtitusi konsonan
  • Kesalahan artikulasi yang mempersulit berjalannya komunikasi

Penyakit yang memengaruhi suara dapat memiliki berbagai gejala, seperti:

  • Suara serak
  • Suara yang kasar dan serak
  • Nada suara yang tiba-tiba berubah
  • Suara yang terlalu pelan atau terlalu keras
  • Terengah-engah saat berbicara
  • Hypernasality
  • Hyponasality

Sebagian besar dari gangguan berbicara dan vokal ini cenderung hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan, kecuali gangguan yang disebabkan oleh suatu penyakit. Apabila gejala yang terjadi lebih parah, kebanyakan dokter akan melakukan terapi bicara terlebih dahulu sebelum memberikan alat bantu bicara. Dalam banyak kasus, terutama dalam kasus di mana pasien adalah seorang anak, terapi bicara sering berhasil; kemungkinan keberhasilan akan bertambah baik apabila masalahnya telah diketahui sejak dini. Namun, apabila kondisi anak tidak membaik setelah menjalani terapi, maka alat bantu bicara dapat digunakan. Alat ini diharapkan dapat sepenuhnya menggantikan kemampuan berbicara seseorang.

Selain menggantikan kemampuan berbicara alami seseorang, alat bantu bicara, terutama yang lebih canggih, juga dapat dirancang untuk melakukan hal lain, tergantung pada kebutuhan pasien.

Cara Kerja Alat Bantu Bicara

Sebelum alat bantu bicara diberikan, seseorang harus menjalani beberapa tes untuk mengetahui jenis gangguan berbicara yang ia derita. Tes yang biasanya dilakukan adalah Early Language Milestone Scale (dilakukan pada anak), Denver Articulation Screening Exam (terdiri dari dua bagian), dan Peabody Picture Test. Terkadang, tes pendengaran tambahan juga akan dilakukan untuk memeriksa hubungan antara gangguan berbicara dan gangguan pendengaran.

Alat bantu bicara biasanya terdiri dari jumlah muatan yang spesifik, yang dapat beragam dalam hal kuantitas dan kategori, tergantung pada kebutuhan penggunanya. Namun, biasanya hal yang paling diperhatikan adalah daftar kosakata yang beragam dan dapat digunakan dalam percakapan sehari-hari, sehingga dapat sering digunakan dalam berbagai konteks. Dengan begitu, alat ini dapat berfungsi dengan baik dan sangat bermanfaat bagi penggunanya. Namun, penelitian terus dilakukan untuk memperbanyak kosakata dari alat bantu bicara serta meningkatkan kemampuan penghasil bicaranya.

Namun, muatan dari alat bantu bicara akan dihasilkan dalam bentuk percakapan digital atau percakapan sintesis. Keduanya merupakan dua jenis hasil percakapan yang berbeda dari alat bantu bicara.

Percakapan digital adalah sistem percakapan yang hanya memutar kata dan frasa yang direkam secara langsung dan disimpan di alat bantu bicara. Karena kata dan frasa yang digunakan adalah hasil rekaman, seringkali hasilnya terdengar lebih alami dan dapat menyampaikan emosi dari pengguna. Kata dan frasa tersebut biasanya direkam oleh individu yang memiliki usia dan jenis kelamin yang sama dengan pengguna alat bantu biacara. Namun walaupun sistem ini dapat menghasilkan komunikasi yang terdengar lebih alami, pesan yang dapat disampaikan dengan percakapan digital sangatlah terbatas, tergantung pada berapa banyak kata dan frasa yang direkam dan dapat disimpan dalam alat bantu bicara.

Sementara itu, percakapan sintesis adalah percakapan yang dilengkapi dengan sistem terjemahan yang dapat mengubah pesan yang ditulis oleh pengguna menjadi pesan verbal. Hal ini menyebabkan pengguna dapat menciptakan susunan kata atau pesan dan menggunakan bahasa, nada, jenis kelamin, bunyi, kecepatan berbicara, dan cara pengucapan yang beragam. Penyampaian pesan seringkali dilakukan melalui kombinasi kata dan frasa yang ditulis atau dengan gambar dan simbol. Karena metode ini tidak dibatasi oleh jumlah kata yang dapat disimpan, maka pengguna akan lebih bebas dalam melakukan komunikasi secara verbal.

Kemungkinan Resiko dan Komplikasi

Berikut ini adalah komplikasi yang dapat dialami pengguna alat bantu bicara:

  • Kemampuan menyampaikan pesan yang terbatas
  • Hanya dapat menggunakan kata atau frasa tertentu, terutama dengan percakapan digital
  • Penyimpanan muatan yang terbatas, apabila menggunakan sistem percakapan digital
  • Tidak dapat menambahkan muatan baru, misalnya nama dari kenalan baru, ke dalam sistem apabila dibutuhkan
  • Privasi pengguna akan dilanggar dalam proses pemilihan dan penambahan muatan

Selain itu, pasien juga harus memiliki harapan yang sesuai tentang alat bantu bicara mereka. Alat ini tidak dirancang untuk memenuhi semua kebutuhan pasien dalam berkomunikasi, walaupun berbagai usaha terus dilakukan untuk memenuhi sebanyak mungkin kebutuhan pasien.

Kemungkinan risiko yang lain adalah saat alat bantu bicara digunakan terlalu dini, sehingga semakin mengurangi kesempatan anak untuk belajar berbicara.

Selain itu, jenis alat bantu bicara berbeda satu sama lain, sehingga pengguna harus mencari alat yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Tidak ada alat bantu bicara yang dapat memenuhi kebutuhan dari semua pasien. Biasanya, pasien harus mencoba berbagai jenis alat bantu bicara sebelum menemukan satu alat yang paling sesuai dengan kebutuhannya.

Rujukan:

  • American Speech-Language-Hearing Association – www.asha.org/public

  • National Institute on Deafness and Other Communication Disorders – www.nidcd.nih.gov

  • Alexander Graham Bell Association for the Deaf and Hard of Hearing – www.agbell.org U.S. Centers for Disease Control and Prevention – www.cdc.gov/ncbddd/hearingloss/index.html

Bagikan informasi ini: