Apa itu Sindrom Putus Alkohol?

Sindrom putus alkohol adalah gejala yang timbul saat seseorang berhenti mengonsumsi alkohol. Ini hanya memengaruhi orang-orang yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap alkohol atau peminum berat selama bertahun-tahun. Terkadang, gejalanya bersifat ringan. Namun sering kali, itu dapat membuat seseorang sangat kesakitan.

Pecandu minuman beralkohol dapat mengalami gejala sindrom putus alkohol dalam enam jam setelah minuman terakhirnya. Gejala awal berupa mual dan gelisah. Beberapa orang juga mengalami nyeri perut yang timbul dan hilang. Kemudian gejalanya mulai memburuk dalam 48 - 72 jam selanjutnya. Dalam masa itu, pasien juga mengalami demam, kekacauan, tekanan darah tinggu, dan bahkan kejang. Hal yang sangat umum jika pasien terus gemetar selama masa tersebut. Setelah 72 jam, banyak gejala yang mulai mereda.

Alkoholisme terjadi pada sekitar 15% penduduk pada hampir seluruh negara Barat. Dari persentase tersebut, sekitar 4% mulai menderita gejala saat mereka berhenti meminum alkohol. Sebanyak 15% di antaranya mengalami gejala berat dan meninggal.

Karena bahaya serius terkait dari sindrom ini, sebaiknya para pecandu minuman beralkohol segera mempersiapkan untuk rawat inap dan perawatan medis. Dokter akan memandu mereka selama proses berjalan dan memberi pengobatan untuk gejala mereka saat mulai muncul.

Penyebab Sindrom Putus Alkohol

Seperti istilahnya, sindrom putus alkohol terjadi saat seseorang memutuskan untuk menghindari alkohol setelah sebelumnya menjadi peminum berat beberapa tahun.

Alkohol menekan neurotransmiter dan memperlambat aktivitas otak. Ini juga menurunkan tingkat energi dan menyebabkan tubuh melepaskan lebih banyak dopamine, unsur kimiawi yang berpengaruh terhadap sensasi rasa senang dan sakit. Makin banyak dopamine yang diproduksi membuat seseorang makin merasa lebih. Itulah sebabnya banyak orang yang menghadapi situasi sulit yang mencari alkohol. Ini dalam sementara dapat membantu mereka untuk tidak merasakan perasaan negatif, seperti sedih dan cemas.

Saat seseorang berhenti minum secara mendadak, neurotransmiter dalam otak segera kembali ke kadar awalnya. Ini menyebabkan seseorang merasa cemas dan tidak tenang. Hal ini pun dapat berujung pada gemetar dan kejang.

Gejala Utama Sindrom Putus Alkohol

Gejala sindrom putus alkohol adalah:

  • Perubahan status mental

  • Kecemasan

  • Detak jantung cepat atau palpitasi

  • Demam

  • Mendengar atau melihat hal-hal yang tidak nyata (halusinasi)

  • Kejang

  • Gemetar

  • Berkeringat

  • Muntah

Keparahan gejalanya tergantung kepada tingkat kecanduang alkohol. Ini pun dipengaruhi oleh parahnya gejala sebelumnya (bagi pasien yang sebelumnya pernah berusaha menghentikan kebiasaan minum). Dalam banyak kasus, orang-orang yang sejak pagi telah mulai meminum minuman beralkohol akan mengalami gejala yang paling berat.

Gejalanya sering kali memburuk selama tiga hari pertama sejak mereka berhenti minum. Lalu gejalanya akan mulai membaik. Namun, beberapa orang tetap terus menginginkan alkohol. Mereka juga tidak lagi merasa senang dengan hal-hal yang sebelumnya mereka anggap menyenangkan atau berarti. Beberapa gejala putus alkohol, seperti mual, kehilangan arah, muntah, dan sakit kepala yang bertahan hingga selama satu tahun. Sebagian besar pasien juga menderita insomnia. Itulah sebabnya banyak pasoen yang kerap kambuh selama proses penyembuhan.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Pecandu minuman beralkohol diperiksa berdasarkan kepada Clinical Institute Withdrawal Assessment for Alcohol (CIWA). Protokol ini membantu dokter untuk menentukan pengobatan yang paling tepat bagi pasien. Sebelum pengobatan, pasien menjalani pemeriksaan fisik dan tes darah. Kedunya berguna untuk mengukur kadar hormon tertentu di dalam darah.

Pengobatan didasarkan kepada riwayat penyalahgunaan alkohol pasien. Dokter akan mempertimbangkan berdasarkan banyaknya minuman beralkohol yang dikonsumsi pasien, serta seberapa sering dan seberapa lama mereka meminumnya. Pilihan pengobatan yang tersedia, termasuk:

  • Obat-obatan - Langkah pertama dan paling penting adalah detoksifikasi. Ini adalah tahap saat pasien menghentikan konsumsi minuman beralkohol. Lalu mereka akan dipantau untuk melihat gejala yang mungkin timbul. Kemudian dokter akan memberi obat-obatan untuk menangani gejala tersebut. Kemudian dokter akan menentukan terapi yang terbaik bagi pasien, yaitu rawat inap atau rawat jalan. Rawat inap menawarkan perawatan 24 jam dan memudahkan pasien untuk menggunakan fasilitas yang mereka butuhkan untuk pulih dengan cepat. Sedangkan rawat jalan, sangat cocok bagi pasien dengan gejala yang tidak terlalu berat. Mereka boleh menjalani rutinitas normal, namun harus memeriksakan diri ke dokter secara rutin.

  • Konseling - Masalah emosional adalah alasan utama yang mendasari alkoholisme. Minuman beralkohol membantu melupakan hal masalah yang sedang mereka hadapi meski hanya sementara. Selama masa pengobatan, seorang konselor akan membantu pasien mengatasi masalah emosional. Mereka juga akan memberi dukungan selama masa sulit menjalani putus alkohol.

  • Kelompok dukungan - Banyak kelompok dukungan, seperti Alcoholics Anonymous (AA), memberikan dukungan dan jalan keluar bagi pasien. Kelompok ini membiarkan mereka berbagi tentang tujuan dan hambatan mereka dengan orang-orang yang melalui peristiwa yang sama. Mereka berada di lingkungan aman yang tidak akan menghakimi mereka. Memiliki tempat atau kelompok yang membuat pasien merasakan dukungan, dapat membantu mereka untuk tetap termotivasi dalam mempertahankan keadaan tidak mabuk.

Prognosis

Banyak pasien yang berusaha keras untuk tidak mabuk lagi. Sebagian besar mengatakan, sangat sulit menghindari alkohol dalam tahun pertama. Ini biasanya menjadi masa saat mereka berusaha sangat keras karena mereka tidak dapat tidur nyenyak. Mereka juga kesulitan untuk mengubah gaya hidup. Contohnya, mereka mungkin merasa berat untuk menghadiri pesat orang-orang tercinta, saat di sana ada alkohol.

Statistik menunjukkan bahwa orang-orang yang berhasil menghentikan konsumsi alkohol selama sedikitnya 12 bulan, cenderung lebih bisa sembuh total.

Rujukan:

  • National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism: “Alcohol Use Disorder: A Comparison Between DSM–IV and DSM–5,” “Treatment for Alcohol Problems: Finding and Getting Help,” “Alcohol Use Disorder.”

  • National Institute on Drug Abuse: “Principles of Adolescent Substance Use Disorder Treatment: A Research-Based Guide.”

  • Substance Abuse and Mental Health Services Administration. Center for Substance Abuse Treatment. The Role of Biomarkers in the Treatment of Alcohol Use Disorders. US Department of Health and Human Services. Available at http://kap.samhsa.gov/products/manuals/advisory/pdfs/0609_biomarkers.pdf.

Bagikan informasi ini: