Apa itu Alergi Obat?

Alergi obat adalah reaksi imun tubuh yang abnormal terhadap jenis obat atau bahan tertentu yang ditemukan dalam komposisi obat. Kondisi ini adalah kondisi yang cukup umum, yang dialami oleh lebih dari tiga juta orang di Amerika Serikat.

Seperti jenis reaksi alergi lainnya, alergi obat menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang, yang menganggap bahwa obat tersebut adalah zat asing yang berbahaya. Sistem kekebalan tubuh mulai menyerang apa yang dianggapnya sebagai zat asing, dalam upaya untuk mengusirnya dari tubuh. Hal ini biasanya menyebabkan produksi histamin berlebihan, peningkatan suhu tubuh, gangguan tenggorokan, dan pembengkakan yang terlihat pada bagian tubuh yang berbeda.

Sementara beberapa orang menderita gejala yang relatif ringan, alergi obat dapat menyebabkan reaksi serius yang dapat mengancam nyawa pasien. Setiap jenis obat—baik itu sintetis atau herbal, dijual dengan bebas atau dengan resep—dapat menyebabkan gejala alergi.

Penting untuk dicatat bahwa alergi obat berbeda dari efek samping yang disebabkan oleh obat-obat tertentu. Seringnya, produsen obat memasukkan daftar kemungkinan efek samping dalam kemasan mereka. Efek samping ini dapat terjadi bahkan pada konsumen tanpa alergi obat. Kondisi ini juga berbeda dari keracunan obat, yang disebabkan konsumsi obat dengan dosis yang lebih tinggi dari yang diresepkan. Ada berbagai jenis obat yang menyebabkan reaksi alergi, termasuk:

  • Obat anti kejang (misalnya karbamazepin dan fenitoin)
  • Analgesik, umumnya dikenal sebagai obat penghilang rasa sakit (seperti morfin, kodein, ibuprofen, aspirin, dan indometasin)
  • Antibiotik (misalnya tetrasiklin, obat sulfa, dan penisilin)
  • Pengobatan Kemoterapi
  • Kortikosteroid (biasanya dalam bentuk losion atau krim)
  • Pengobatan AIDS atau HIV
  • Obat yang mengandung serbuk sari lebah atau Echinacea
  • Obat untuk mengobati penyakit autoimun termasuk radang sendi

Penyebab Alergi Obat

Penyebab utama dari alergi obat adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh pasien. Seperti dijelaskan di atas, sistem kekebalan tubuh seseorang menganggap obat alergi sebagai zat asing yang menyerang tubuh dan mencoba untuk mengeluarkannya dari tubuh.

Terdapat faktor-faktor yang dapat meningkatkan peluang seseorang memiliki alergi obat, termasuk:

  • Faktor genetik, yang berarti keluarga dekat, termasuk orang tua, menderita atau telah sembuh dari asma dan alergi lainnya
  • Pasien pernah menderita alergi makanan, seperti kerang, telur, atau kedelai
  • Obat diberikan melalui jarum suntik, bukan dimakan
  • Pasien mendapatkan dosis yang lebih besar dari obat tertentu namun tidak sampai titik overdosis
  • Konsumsi berulang obat atau bahan tertentu yang menyebabkan reaksi alergi

Gejala Utama Alergi Obat

Tanda dan gejala obat dapat bervariasi antar pasien, dan dapat terjadi di berbagai bagian tubuh. Dibandingkan dengan jenis reaksi alergi lainnya, alergi obat dapat terjadi hingga beberapa jam, bahkan beberapa hari, sebelum pasien mengalami mengalami gejalanya, yang biasanya meliputi:

  • Ruam (biasanya menyerupai ruam yang disebabkan oleh campak)
  • Bintik-bintik merah
  • Sensitivitas mendadak terhadap sinar matahari. Juga dikenal sebagai fotoalergi, gejala ini juga sering menyebabkan gatal, ruam setelah terkena sinar matahari.
  • Nyeri otot dan sendi
  • Sindrom Steven Johnson (benjolan bulat gatal pada kulit, yang mungkin disertai dengan bengkak lidah atau wajah)
  • Demam
  • Napas menjadi pendek
  • Pusing atau kepala ringan
  • Pingsan
  • Mata berair, dan mata gatal
  • Pilek
  • Batuk
  • Paru-paru terasa berat atau sesak napas


Salah satu gejala yang lebih berbahaya adalah anafilaksis. Meskipun jarang terjadi, reaksi ini dapat memicu disfungsi terhadap beberapa sistem vital tubuh. Anafilaksis memiliki tanda dan gejalanya, termasuk:

  • Tekanan darah menurun drastis
  • Denyut samar-samar namun cepat
  • Masalah pernapasan, karena tenggorokan menyempit
  • Mual
  • Muntah
  • Keram perut
  • Kejang
  • Diare


Alergi obat juga dapat menyebabkan kondisi lainnya seperti:

  • Anemia – Jumlah darah merah berkurang, sehingga menyebabkan napas pendek, detak jantung tidak normal, dan kelelahan
  • Nefritis – Kondisi ini melibatkan radang ginjal, yang dapat menyebabkan pembengkakan yang terlihat di berbagai bagian tubuh, kebingungan yang tidak seperti biasanya, hematuria (adanya darah dalam urin), dan demam.
  • Penyakit serum – Gejala kondisi ini termasuk ruam, peradangan di berbagai bagian tubuh, mual, nyeri pada persendian, dan demam.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Alergi obat bukanlah kondisi yang dapat disembuhkan sepenuhnya, namun gejala yang muncul dapat diobati. Tujuan pengobatan adalah untuk meringankan gejala, bukan menangani akar penyebab alergi, yang merupakan sistem kekebalan tubuh.

Seperti pada jenis reaksi alergi lainnya, tanda-tanda dan gejala kecil seperti gatal-gatal (pada kulit, tenggorokan, hidung, atau mata), bintik merah, dan ruam kulit dapat ditangani dengan antihistamin. Bronkodilator dapat membuat saluran udara melebar, yang membuat pasien dapat kembali bernapas. Dalam kasus pasien menderita anafilaksis, bantuan dokter atau tenaga medis darurat dapat memberikan epinefrin untuk menyelamatkan hidup pasien.

Rujukan:

  • FDA: “Avoiding Drug Interactions.”
  • American Academy of Allergy Asthma & Immunology: “Medications and Drug Allergic Reactions: Tips to Remember.”
  • Celik G, Pichler WJ, Adkinson NF Jr. Drug allergy. In: Adkinson NF Jr., Bochner BS, Burks AW, et al., eds. In:Middleton’s Allergy Principles and Practice.
  • Grammer LC. Drug allergy. In: Goldman L, Schafer AI, eds.Goldman’s Cecil Medicine
Bagikan informasi ini: