Apa itu Angina?

Angina merupakan istilah medis yang mengacu pada rasa nyeri di dada. Rasa nyeri tersebut terjadi karena kurangnya suplai darah ke otot jantung. Pasien angina mendeskripsikan rasa nyeri yang dirasakan seperti sedang diperas, tertekan, sesak, ataupun sensasi terbakar di daerah dada. Rasa nyeri seringkali berawal dari daerah di belakang tulang dada, kemudian bisa menyebar ke daerah punggung, bahu, rahang, tenggorokan, dan leher.

Angina sendiri sebenarnya bukanlah sebuah kelainan atau penyakit. Angina adalah gejala umum yang mendasari permasalahan pada jantung. Sering kali kondisi ini terjadi pada saat peredaran darah ke jantung mengalami gangguan, yang biasanya disebabkan karena tersumbat atau menyempitnya arteri.

Penyebab Angina

Berikut ini adalah empat jenis angina beserta dengan penyebabnya :

  • Stable angina - Jenis angina ini biasanya terjadi pada saat seseorang mengalami stres emosional. Suhu dingin atau panas yang ekstrem juga bisa menyebabkan stable angina. Selain itu, merokok dan mengonsumsi makanan berat juga merupakan penyebab umum stable angina. Stable angina dapat menyebabkan rasa nyeri di dada karena memaksa otot jantung bekerja lebih keras untuk memompa cukup darah ke bagian tubuh lainnya. Rasa nyeri yang disebabkan oleh stable angina umumnya mudah untuk ditangani. Biasanya, pemberian obat-obatan dan beristirahat secukupnya sudah dapat mengurangi rasa nyeri yang timbul.

  • Unstable Angina - Tipe angina ini seringkali terjadi tanpa bisa diduga sebelumnya. Rasa nyeri mungkin saja timbul saat pasien sedang beristirahat. Penyebab unstable angina adalah terhambatnya arteri yang memasok darah ke jantung. Dengan demikian, jika seseorang mengalami unstable angina, harus segera mendapatkan bantuan medis karena dapat menyebabkan serangan jantung.

Pengobatan konservatif seringkali tidak bisa mengatasi nyeri yang disebabkan oleh unstable angina. Oleh karena itu, pasien mungkin perlu menjalani prosedur tertentu untuk membuat pembuluh darah menjadi lebih lebar. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki aliran darah ke jantung.

  • Variant angina - Tipe angina ini juga sering terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan rasa nyeri dada yang ekstrem. Penyebab utama dari variant angina adalah kejang arteri koroner (CAS). Tidak seperti tipe angina lainnya, variant angina sangat jarang terjadi. Variant angina adalah kondisi kronis yang membutuhkan manajemen jangka panjang, namun memiliki prognosis yang baik.

  • Angina mikrovaskuler - Angina tipe ini terjadi karena kejang pada pembuluh darah terkecil jantung. Sehingga, jumlah darah yang mengalir melalui jantung menjadi terbatas.

Ada beberapa kondisi tertentu yang dapat menyebabkan angina dan meningkatkan risiko terkena penyakit jantung. Di antaranya kadar kolesterol tinggi, diabetes, dan obesitas. Selain itu, sindrom metabolik, riwayat keluarga dengan penyakit jantung serta usia lanjut juga dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung. Berdasarkan penelitian, seseorang yang berusia 45 tahun ke atas memiliki risiko lebih tinggi terkena masalah jantung.

Gejala Utama Angina

Pasien yang terkena angina bisa saja akan merasakan nyeri dada pada saat melakukan aktivitas fisik atau bahkan saat sedang beristirahat, ini tergantung pada jenis angina seperti apa yang dimiliki pasien. Rasa nyeri yang timbul bisa berlangsung selama 5 sampai 20 menit. Biasanya, rasa nyeriiasanya menyebar ke bagian atas tubuh seperti di bahu, rahang, serta lengan. Selain itu, pasien juga mungkin akan mengalami gejala lain seperti mudah lelah dan sesak napas. Terkadang rasa nyeri akibat angina bisa menjadi sangat hebat sehingga dapat mengganggu tidur pasien atau menyebabkan pasien merasa menjadi sangat lemah.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Apabila pasien merasakan gejala seperti yang telah disebutkan di atas, maka mereka sebaiknya berkonsultasi dengan dokter umum terlebih dahulu. Jika memang hasil pemeriksaan awal menunjukkan angina, maka pasien akan dirujuk ke spesialis jantung (http://www.docdoc.com/info/specialty/cardiologists). Pemeriksaan umum yang biasa digunakan untuk mengetahui penyebab nyeri dada adalah sebagai berikut:

  • Tes darah - Tes darah dapat digunakan untuk mendeteksi apakah pasien mengalami serangan jantung atau berisiko terkena penyakit jantung. Selain itu, tes darah juga bisa digunakan untuk mendeteksi masalah penggumpalan darah, dimana bekuan darah bisa menghalangi arteri seseorang.

  • ECG - Tes ini digunakan untuk mendeteksi masalah jantung. Masalah jantung yang sering terjadi diantaranya denyut jantung abnormal, serangan jantung, dan gagal jantung. ECG dapat dikombinasikan dengan stres test. Prosedur dari tes ini ialah dengan menempatkan elektroda pada dada pasien dan juga manset untuk mengukur tekanan darah di sekitar lengan. Kemudian, pasien akan diminta berjalan di atas treadmill dan seorang teknisi akan memonitor aktivitas jantungnya selama prosedur tersebut berlangsung.

  • Rontgen dada - Tes ini digunakan untuk mendapatkan gambar organ di area dada. Hasil tes ini dapat menunjukkan apakah ada perubahan yang abnormal pada ukuran serta struktur paru-paru, jantung, dan pembuluh darah.

  • Kateterisasi jantung - Tes ini digunakan apabila hasil tes di awal menunjukkan pasien terkena penyakit jantung atau ada masalah pada otot jantung dan arteri. Prosedur ini menggunakan kateter yang dimasukkan dari pembuluh darah besar sampai mencapai jantung. Katerisasi jantung juga menggunakan pewarna kontras yang disuntikkan melalui kateter. Pewarna berfungsi untuk menunjukkan gambar rontgen sehingga bisa memastikan apakah arteri pasien tersumbat atau menyempit.

  • CT scan jantung - CT scan merupakan prosedur yang lebih sensitif daripada rontgen dada. Hasil dari CT scan dapat menunjukkan letak penyumbatan di arteri jantung serta juga bisa menggambarkan detak jantung pasien. Selain itu, CT scan juga dapat digunakan untuk mengkonfirmasi adanya jaringan parut pada pasien serangan jantung. Penggabungan hasil dari semua tes yang telah disebutkan di atas dapat memudahkan dokter spesialis jantung untuk dapat mendiagnosis pasien secara definitif. Dokter dapat memastikan apa yang menjadi penyebab rasa nyeri dada pada pasien, serta jenis apa angina yang dimiliki pasien. Sehingga pada akhirnya dokter mampu untuk mengidentifikasikan metode pengobatan yang terbaik bagi pasien.

Stable angina merupakan jenis angina yang dapat ditangani dengan pengobatan non-bedah. Artinya, pasien akan diajarkan teknik relaksasi dan metode bagaimana agar mereka dapat secara efektif menangani stres emosional yang dimiliki pasien. Mereka juga disarankan untuk tidak merokok dan menjalani gaya hidup yang sehat, seperti misalnya mengonsumsi makanan yang seimbang dan berolahraga sesering mungkin.

Di sisi lain, jenis angina lain sebaiknya harus segera diobati. Karena jika tidak diobati, angina dapat menyebabkan serangan jantung. Dokter mungkin akan memberikan pasien resep dengan obat tertentu. Obat yang dimaksud diantaranya seperti, pengencer darah untuk mencegah pembekuan darah dan obat yang berfungsi untuk membuat dinding arteri menjadi lebih rileks dan bisa digunakan. Sehingga aliran darah menuju jantung pasien menjadi lebih baik.

Dalam kasus yang lebih serius, Aagioplasti bisa menjadi pilihan untuk mengaatasi angina. Prosedur ini bertujuan untuk menghilangkan plak yang telah terbentuk di arteri. Selain angioplasti, pilihan lain yang bisa digunakan untuk melancarkan bagian arteri pasien yang tersumbat adalah dengan menggunakan transplatansi yang diambil dari bagian lain tubuh pasien. Tujuan transplantasi ini adalah untuk menciptakan rute lain agar darah kaya oksigen dapat mencapai otot jantung dengan mudah. Perbaikan atau penggantian katup jantung mungkin juga diperlukan untuk menangani beberapa pasien.

Rujukan:

  • The American Heart Association. http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/HeartAttack/DiagnosingaHeartAttack/Angina-Chest-Pain_UCM_450308_Article.jsp#.WipXXbT1VE7. Accessed December 08, 2017.

  • Jneid H, et al. 2012 ACCF/AHA focused update of the guideline for the management of patients with unstable angina/Non-ST-elevation myocardial infarction (updating the 2007 guideline and replacing the 2011 focused update): A report of the American College of Cardiology Foundation/American Heart Association Task Force on practice guidelines. Circulation. 2012;126:875.

  • Papadakis MA, ed., et al. Current Medical Diagnosis & Treatment 2014. 53rd ed. New York, N.Y.: The McGraw-Hill Companies; 2014. http://accessmedicine.mhmedical.com/book.aspx?bookId=330.

Bagikan informasi ini: