Apa itu Anoreksia Nervosa?

Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang serius dan kompleks. Kondisi ini berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental pasien. Penyebabnya adalah oleh pemahaman penderita yang tidak realistis mengenai berat badan dan ketakutan akan menjadi gendut. Hal ini membuat mereka sengaja kelaparan. Kondisi ini bukan hanya soal asupan makanan, tapi juga cara penderita dalam menangani gangguan emosional. Sebagian besar pasien menderita depresi berat, stres, gangguan kecemasan, atau menghadapi masalah berat yang mengancam nyawa, seperti perceraian atau kematian orang yang dicintai.

Kondisi ini dapat terjadi pada pasien dari segala usia, jenis kelamin, dan ras. Namun, umumnya dialami oleh remaja dengan jenis kelamin perempuan.

Karena menolak makan dan memenuhi kebutuhan gizi, penderita anoreksia mengalami efek malnutrisi. Ini termasuk kepadatan otot menurun, stamina menurun, sulit bernapas, reaksi kekebalan tubuh yang lambat, dan masalah kesuburan. Kondisi mereka pun meningkatkan risiko kegagalan pernapasan, hipotermia, dan infeksi. Jika tidak segera ditangani, anoreksia dapat berujung pada kematian mendadak akibat kegagalan beberapa organ atau serangan jantung.

Penyebab Anoreksia Nervosa

Sama seperti gangguan makan lainnya, penyebab anoreksia nervosa masih belum diketahui. Namun, para ahli percaya bahwa kondisi ini merupakan akibat dari perpaduan faktor psikologis, lingkungan, biologis, dan genetik, seperti:

  • Kecemasan dan depresi

  • Menahan emosi

  • Kekhawatiran berlebihan

  • Terlalu stres, dalam hal kejiwaan dan fisik

  • Fobia terhadap menjadi gendut

  • Membuat tujuan dan standar yang tidak masuk akal

  • Mendapat siksaan fisik dan seksual

  • Pubertas - Perpaduan antara perubahan hormon, rasa rendah diri, dan kecemasan dapat memicu gangguan makan

  • Tekanan sosial dan teman-teman – Hal ini dapat memperkuat keinginan untuk menjadi kurus, yang seringkali dianggap sebagai cantik dan sukses di berbagai belahan dunia

  • Peristiwa yang menyebabkan tekanan mental

Meski dapat menyerang siapa pun, beberapa orang lebih berisiko terhadap kondisi ini. Di antaranya:

  • Anak perempuan dan wanita dewasa

  • Pasien dengan riwayat keluarga yang mengidap anoreksia nervosa

  • Orang yang telah melewati masa transisi yang sulit

  • Orang-orang yang bekerja di industri dunia hiburan, karena sangat besar tekanan bagi mereka untuk selalu terlihat sempurna

Gejala Utama Anoreksia Nervosa

Karena penderita anoreksia kekurangan gizi dan menghadapi masalah psikologis dan emosional, mereka cenderung mengalami banyak gejala. Ini termasuk:

  • Amenoria, atau tidak mengalami menstruasi (bagi wanita)

  • Berat badan yang sangat ringan

  • Tubuh yang sangat kurus

  • Aritmia

  • Jemari berwarna kebiruan

  • Pengeroposan tulang

  • Kuku rapuh

  • Depresi

  • Sulit tidur

  • Pusing dan pingsan

  • Kulit kering

  • Tidak mampu berkembang di sekolah atau pekerjaan

  • Gangguan pencernaan

  • Gangguan jantung dan ginjal

  • Mudah marah

  • Apatis

  • Tidak lagi tertarik pada aktivitas yang pernah digemari sebelumnya

  • Tekanan darah rendah

  • Kadar natrium, potassium, dan kalsium yang rendah

  • Rendah diri atau tidak percaya diri

  • Kurang berminat pada aktivitas seksual

  • Menarik diri dari kehidupan sosial

  • Pembengkakan pada lengan dan kaki

Untuk berusaha mengurangi berat badan, penderita anoreksia seringkali:

  • Tidak makan dengan sengaja

  • Berbohong jika mereka sudah makan

  • Sangat menghitung asupan kalori

  • Olahraga berlebihan

  • Mengkonsumsi diuretik untuk mengeluarkan cairan tubuh

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Para dokter menaati standar American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) dalam mendiagnosis anoreksia nervosa. Pasien yang dinyatakan mengidap kondisi ini kerap membatasi asupan makanan, bermasalah dengan penampilan tubuh, dan sangat takut jika berat badannya bertambah.

Untuk membuat diagnosis dan menentukan penyebab penurunan berat badan, dokter akan melaksanakan tes dan prosedur berikut:

  • Pemeriksaan fisik menyeluruh untuk mencari tanda dan gejala seperti sulit bernapas, dan abnormalitas pada rambut dan kulit.

  • Meninjau rekam medis pasien

  • Tes darah dan urin - Keduanya untuk mengukur kadar hormon tertentu dan memeriksa hati, tiroid, dan fungsi ginjal.

  • Tes pencitraan - Dokter juga akan meminta pasien untuk menjalani rontgen dan tes pencitraan lain untuk memeriksa tanda-tanda gangguan yang memengaruhi sistem muskuloskeletal dan organ dalam pasien. Tes ini dapat mendeteksi fraktur, pneumonia, dan abnormalitas pada jantung.

Setelah dokter memastikan diagnosis anoreksia nervosa, maka pengobatan akan segera dimulai. Pasien biasanya ditangani oleh tim dokter dari beberapa bidang. Umumnya terdiri dari ahli kesehatan mental, dietitian, dan dokter spesialis anak (jika pasien masih anak-anak atau remaja). Tim dokter akan fokus memperbaiki kebiasaan dan pola makan agar berat badan pasien bertambah, dan mengubah pola pikir yang membuat pasien membatasi makan. Pasien dapat diobati dengan cara rawat jalan atau rawat inap sampai komplikasi yang berbahaya ada di bawah kendali. Ini tergantung pada keparahan gangguan yang dialami pasien dan komplikasinya.

Pengobatan psikologis untuk anoreksia nervosa termasuk:

  • Terapi Analisis Kognitif atau Cognitive Analytic Therapy (CAT)

  • Terapi Perilaku Kognitif atau Cognitive Behavioural Therapy (CBT)

  • Terapi Interpersonal atau Interpersonal Therapy (IPT)

  • Terapi Psikodinamik atau Focal Psychodynamic Therapy (FPT)

Program perawatan akan menambah asupan makanan pasien secara perlahan. Tujuannya agar berat badan pasien dapat bertambah setiap minggu hingga mencapai berat badan ideal. Untuk memastikan pasien mendapat asupan gizi yang seimbang, dokter akan memberi vitamin dan suplemen mineral. Selama dalam program ini, tingkat hidrasi dan tanda vital pasien akan terus dipantau.

Saat ini tidak ada obat-obatan dengan izin FDA untuk mengobati anoreksia nervosa. Namun, beberapa jenis obat biasanya diberikan untuk menghalau gangguan psikologis, seperti depresi dan gangguan obsesif kompulsif (OCD).

Anoreksia nervosa merupakan salah satu masalah psikiatri denhgan angka kematian tinggi. Sebanyak 6% penderita meninggal akibat komplikasi anoreksia, termasuk ketidakseimbangan elektrolit dan henti jantung. Meski telah menjalani intervensi medis, setidaknya 20% pasien masih saja mengidap gangguan ini dan berusaha keras untuk sembuh total karena faktor tertentu, termasuk kebiasaan mengeluarkan makanan, gangguan kepribadian obsesif, dan bulimia nervosa.

Rujukan:

Bagikan informasi ini: