Apa itu Afasia?

Afasia adalah gangguan otak yang dapat memengaruhi keterampilan berbicara dan menulis seseorang. Ini dapat menyebabkan penderita kehilangan kemampuan untuk berbahasa dan memahami orang lain dengan baik. Ini terjadi saat bagian otak yang mengandung pemahaman berbahasa mengalami kerusakan (biasanya akibat stroke). Orang dengan afasia sering kali susah payah menemukan kata yang tepat digunakan. Mereka cenderung menggunakan kata-kata yang salah dan mengubah pengucapannya. Contohnya, mereka akan mengatakan, “piring pencuci”, padahal yang dimaksud adalah “pencuci piring.” Karena mereka tidak melakukannya dengan sengaja (bahkan tidak menyadarinya), mereka dapat merasa frustrasi ketika orang lain tidak memahami apa yang berusaha mereka ungkapkan. Gangguan ini juga dapat memengaruhi keterampilan mendengar dan membaca. Namun, ini tidak berdampak apa pun terhadap kecerdasan.

Berdasarkan statistik, sekitar satu juta orang di Amerika Serikat menderita gangguan ini. Ini berdampak buruk terhadap kualitas hidup seseorang. Banyak yang memilih untuk memisahkan diri dari keluarga dan teman-teman. Sebagian besar dari mereka bahkan menderita kecemasan dan depresi. Namun, ada terapi yang tersedia untuk membantu mengembalikan keterampilan berbahasa mereka.

Penyabab Afasia

Gangguan ini dapat terjadi saat bagian otak yang mengatur kemampuan berbahasa, mengalami kerusakan akibat cedera atau penyakit. Ini termasuk stroke, tumor otak, dan cedera otak traumatik. Afasia dapat berkembang secara bertahap pada orang yang menderita gangguan saraf progresif.

Pengobatan awal untuk afasia berfokus pada mengobati penyakit yang mendasarinya. Contohnya, pasien stroke diobati dengan tujuan melancarkan aliran darah menuju otak. Sedangkan pasien kanker otak kemungkinan perlu menjalani operasi untuk mengangkat tumor pada otak. Terapi wicara dan bahasa dapat dimulai tepat setelah prosedur tersebut.

Ada dua jenis afasia, yaitu lancar dan tidak lancar. Orang dengan afasia lancar dapat menyusun kalimat yang cukup panjang, namun sering kali dengan kata yang salah. Di sisi lain, orang yang menderita afasia tidak lancar berusaha keras untuk mengungkapkan kata-kata dan mengucapkannya dalam kalimat yang sangat pendek. Contohnya, mungkin hanya mengatakan, “mau keju” atau “pergi restoran.”

Gejala Afasia

Pasien afasia kemungkinan sulit untuk:

  • Fokus dengan apa yang dia katakan

  • Memberi atau mengikuti petunjuk

  • Mengartikan bahasa abstrak

  • Mempelajari informasi baru

  • Memproses informasi visual

  • Mengingat kenangan

  • Mengenali dan membuat pemecahan masalah

  • Tetap berada dalam satu topik dalam suatu percakapan

  • Menceritakan peristiwa secara berurutan

  • Memahami isyarat non-verbal

  • Menggunakaan ekspresi wajah yang tepat

  • Mengingat kata-kata tertentu

  • Membaca atau menulis dengan benar

  • Mengungkapkan kalimat yang lengkap, sebagian besar hanya memakai kata benda dan kata kerja

  • Memakai kata-kata yang tepat, pasien sering kali memakai kata-kata yang salah

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Kasus afasia ringan kemungkinan dapat sembuh tanpa pengobatan. Namun, sebagian besar kasus memerlukan terapi wicara dan bahasa. Terapi ini sebaiknya dimulai segera agar hasilnya pun lebih baik. Saat menjalani rehabilitasi, pasien akan berlatih cara menulis dan membaca dengan lantang. Mereka juga akan belajar berkomunikasi dengan orang lain dan mengikuti petunjuk.

Terapi dapat menjadi proses yang lambat dan membuat banyak pasien frustrasi. Namun, sangatlah penting bagi mereka untuk berkomitmen tinggi terhadap progam itu. Mereka pun sebaiknya tetap termotivasi untuk menghadiri seluruh sesi terapi.

Ahli terapi wicara membantu meningkatkan kemampuan pasien untuk berkomunikasi menggunakan beragam teknik dan peralatan. Ini termasuk penggunaan:

  • Gambar objek sehari-hari, yang membantu meningkatkan perbendaharaan kosakata pasien. Ini juga membantu meningkatkan kemampuan mengingat kata.

  • Papan gambar yang memperlihatkan aktivitas sehari-hari.

  • Buku catatan, yang digunakan untuk membangun kemampuan pasien untuk membaca dan menulis

  • Komputer - Kini, banyak perangkat lunak yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kemampuan mendengar, membaca, mengingat, dan berbicara.

Pasien dengan cedera otak berat kemungkinan tidak akan mampu untuk mengembalikan kemampuan berbahasa sepenuhnya. Dalam kasus seperti itu, terapi akan berfokus untuk membantu mereka memperlajari cara berkomunikasi yang baru. Ini bisa termasuk penggunaan gambar, bahasa tubuh, dan dukungan visual lainnya.

Saat ini, belum tersedia obat-obatan untuk mengobati afasia. Namun, beberapa obat dapat dikonsumsi untuk membuat hasil terapi menjadi lebih baik. Obat-obatan itu dirancang untuk mengganti neurotransmiter dan melancarkan aliran darah ke otak, bagi pasien yang stroke. Ada juga obat-obatan yang membantu mempercepat pemulihan otak.

Keberhasilan terapi tergantung pada beberapa faktor, di antaranya:

  • Seberapa cepat terapi dimulai

  • Penyebab dan tingkat keparahan kerusakan otak

  • Bagian otak yang mengalami cedera

  • Usia pasien

  • Kesehatan pasien secara keseluruhan

  • Kemauan pasien untuk berpartisipasi dalam terapi wicara

Rujukan:

  • Aphasia. National Institute on Deafness and Other Communication Disorders. http://www.nidcd.nih.gov/health/voice/Pages/aphasia.aspx.

  • Harciarek M, Kertesz A (September 2011). “Primary progressive aphasias and their contribution to the contemporary knowledge about the brain-language relationship”.Neuropsychol Rev. 21 (3): 271–87.PMC 3158975 Freely accessible. PMID 21809067. doi:10.1007/s11065-011-9175-9.

  • Beeson, P. M., Egnor, H. (2007), Combining treatment for written and spoken naming, Journal of the International Neuropsychological Society, 12(6); 816-827.

Bagikan informasi ini: