Pengertian dan Gambaran Umum

Apnea tidur obstruktif merupakan bentuk umum dari apnea, yang didefinisikan sebagai berhentinya napas saat tidur.

Otot pada tubuh menjadi rileks pada saat tidur. Namun, jika otot di bagian belakang tenggorokan terlalu rileks dan kemudian kempis, otot ini akan menghalangi udara yang memasuki paru-paru sehingga menyebabkan kekurangan oksigen. Ketika otak merasa tubuh kekurangan oksigen, hal ini akan membuat tubuh Anda terengah-engah dan menghirup udara, yang kemudian membangunkan Anda dan membuat Anda untuk bernapas dengan normal.

Beberapa orang mungkin megalami kondisi ini hanya sekali atau dua kali dalam semalam. Kondisi ini disebut sebagai apnea tidur (sleep apnea). Orang lain mungkin mengalaminya berkali-kali sehingga menyebabkan mereka menjadi kurang tidur dan merasa lelah di pagi hari. Hal ini disebut apnea tidur obstruktif.

Apnea tidur obstruktif membuat organ dalam tubuh Anda kekurangan oksigen yang dibutuhkan, yang menyebabkan komplikasi seperti irama detak jantung menjadi tidak teratur. Namun, dengan perawatan yang tepat, komplikasi ini dapat dihindari.

Penyebab Kondisi

Bayi, anak-anak, dan orang dewasa dapat memiliki apnea tidur obstruktif. Pada bayi dan anak-anak, penyebab yang paling umum adalah membengkaknya amandel. Pada orang dewasa, apnea tidur obstruktif terjadi ketika amandel membesar dan menghalangi masuknya napas. Jika terdapat terlalu banyak jaringan di belakang tenggorokan, seperti uvula dan langit-langit lunak, hal ini juga dapat menyebabkan kondisi apnea tidur obstruktif. Penyebab lainnya adalah lidah yang besarnya melebihi rata-rata atau septum yang menyimpang.

Meski penyebab apnea tidur diketahui, ada juga beberapa faktor yang dapat membuat seseorang berisiko lebih tinggi memiliki masalah ini, seperti:

  • Keturunan – Jika seseorang mewarisi saluran napas yang sempit, maka risiko memiliki masalah ini menjadi tinggi
  • Hipertensi
  • Leher yang tebal – Jika leher Anda memiliki lingkar yang lebih besar dari 17 inci untuk laki-laki, dan 16 inci untuk wanita, ada kemungkinan Anda memiliki masalah apnea tidur obstruktif. Leher yang tebal biasanya identik dengan napas yang sempit.
  • Merokok
  • Umur – Meskipun orang dari segala usia dapat terserang apnea tidur obstruktif, masalah ini diketahui lebih umum menyerang mereka yang berusia 18 hingga 60 tahun.
  • Sejarah Keluraga
  • Hidung tersumbat
  • Jenis kelamin – Apnea tidur obstruktif lebih umum terjadi pada laki-laki daripada perempuan.

Jika dibiarkan, kemungkinan komplikasi dapat meningkat. Hal ini termasuk kelelahan sepanjang hari, masalah jantung, komplikasi dengan obat-obatan dan tindakan bedah yang memerlukan bius total, dan masalah mata.

Gejala Utama

Apnea tidur obstruktif biasanya menunjukan berbagai gejala dan yang paling umum adalah dengkuran keras. Gejala umum lainnya adalah kurang tidur, yang mengakibatkan kantuk berlebihan di siang hari, sakit kepala di pagi hari, perubahan mood, mudah marah, dan bahkan depresi.

Banyak orang yang tidak peduli dengan kondisi mereka, namun mereka seharusnya peduli. Apnea tidur obstruktif biasanya menyebabkan berbagai masalah kesehatan, beberapa dari penyakit ini dapat mengancam jiwa. Jika Anda mengalami salah satu gejala yang disebutkan di atas, Anda sangat dianjurkan untuk konsultasi ke dokter umum atau dokter keluarga.

Dokter yang Perlu Dikunjungi dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang diduga menderita apnea tidur obstruktif perlu berkonsultasi dengan dokter keluarga atau dokter yang dapat memberikan pemeriksaan atau membuat rujukan ke dokter spesialis tidur, tergantung pada separah apa kondisinya. Untuk memeriksa kondisi, pemeriksaan fisik, yang mencakup pemeriksaan kelainan pada bagian belakang tenggorokan, akan dilakukan. Tekanan darah, berat, dan lingkar leher pasien juga akan diperiksa.

Setelah pemeriksaan fisik, dokter akan berfokus pada penentuan tingkat keparahan kondisi dengan melakukan Polysomnography, yaitu tes yang mencatat denyut jantung dan pernapasan, tingkat oksigen dalam darah, gelombang otak dan kaki serta gerakan mata.

Setelah kondisi pasien telah diketahui, dokter akan merumusukan rencana perawatan pribadi atau dalam kasus penyumbatan pada tenggorokan atau hidung, merujuk pasien ke spesialis THT.

Bentuk yang paling umum dari pengobatan apnea tidur obstruktif adalah perangkat seperti continuous positive airway pressure (CPAP), mouthpiece, serta obat-obatan yang dapat mengurangi rasa kantuk di siang hari.

Jika pengobatan tersebut masih gagal menangani kondisi ini, tindakan bedah akan dianjurkan. Bentuk pembedahan yang paling umum adalah Uvulopalatopharingoplasty (pengangkatan jaringan di belakang tenggorokan), bedah rahang (melibatkan pemindahan tulang rahang ke depan) dan tindakan Pillar (melibatkan penempatan implan kecil pada langit-langit lunak mulut atau menciptakan pembukaan bedah pada leher). Tindakan Pillar hanya akan dilakukan jika tindakan bedah lainnya gagal untuk menangani kondisi dan jika apnea tidur obstruktif telah semakin parah hingga mengancam jiwa. Tindakan bedah yang juga disebut trakeostomi ini melibatkan pemasukan logam atau tabung plastik melalui sebuah lubang di leher sehingga udara dapat melewati bagian yang tenggorokan yang terhalang.

Referensi:

  • Aurora RN, Casey KR, Kristo D, et al. Practice parameters for the surgical modifications of the upper airway for obstructive sleep apnoea in adults. Sleep. 2010;33:1408-1413.
  • Epstein LJ, Kristo D, Strollo PJ Jr., et al. Adult Obstructive Sleep Apnoea Task Force of the American Academy of Sleep Medicine: Clinical guideline for the evaluation, management, and long-term care of obstructive sleep apnoea in adults. J Clin Sleep Med. 2009;5:263-276.
  • Kasai T, Bradley TD. Obstructive sleep apnoea and heart failure: pathophysiologic and therapeutic implications. J Am Coll Cardiol. 2011;57:119-127.
  • McArdle N, Singh B, Murphy M, et al. Continuous positive airway pressure titration for obstructive sleep apnoea: automatic versus manual titration. Thorax. 2010;65:606-611.
Bagikan informasi ini: