Apa itu Atrial Flutter?

Atrial flutter adalah kelainan irama jantung yang membuat jantung berdenyut hingga tiga kali lipat dari tingkat normal. Hal itu dapat terjadi karena adanya masalah pada sistem kelistrikan dan impuls jantung yang menyebabkan atria dan ventrikel menjadi tidak sinkron. Untuk bisa memahami kelainan ini, ada baiknya mengetahui bagaimana jantung dan sistem kelistrikannya bekerja.

Sistem kelistrikan jantung inilah yang membuat jantung mampu memompa darah mengalir ke bagian tubuh lainnya. Organ ini pada dasarnya memiliki alat pacu alami yang bisa memicu impuls listrik untuk membuat atria kontraksi. Impuls ini akan melambat sebelum sampai ke ventrikel, yang kemudian berkontraksi untuk memompa darah keluar dari jantung.

Dengan atrial flutter, dorongan listrik ini menjadi lebih cepat dan berputar mengelilingi atrium. Dokter sering menggambarkan hal ini “seperti seekor anjing yang sedang mengejar ekornya sendiri.“ Hal ini membuat atria berkontraksi lebih cepat dari biasanya atau sampai 250 hingga 300 denyut per menit. Bila hal ini terjadi, nodus AV (alat pacu jantung alami) akan menghalangi beberapa impuls dalam upaya mengendalikan denyut jantung. Hal ini menyebabkan ventrikel dan atrium memompa pada kecepatan yang berbeda, yang menghasilkan kontraksi lebih cepat.

Atrial flutter sangat mirip dengan atrial fibrillation (AF), yang merupakan kelainan ritme jantung yang umum. Keduanya memang membuat jantung berdegup kencang, tapi tidak seperti AF, pada atrial flutter ritme atrium tidak terlalu kacau. Faktanya, ini membuat pola sawtooth yang sangat berbeda pada elektrokardiogram.

Banyak penderita atrial flutter mampu hidup lama dan aktif. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki gejala selain dari denyut jantung yang menjadi lebih cepat daripada denyut jantung normal yang cenderung muncul dan hilang. Namun, dokter tetap menganjurkan penanganan untuk kelainan yang mereka alami karena bisa merusak otot jantung jika tidak diobati. Salah satu hasil yang mungkin terjadi pada atrial flutter adalah gagal jantung atau ketika jantung berhenti bekerja dengan baik sehingga tidak dapat lagi memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Selain itu, atrial flutter juga meningkatkan risiko terjadinya pembekuan darah karena menyebabkan darah bergerak lebih lambat. Gumpalan darah dapat menyebabkan masalah serius karena mereka dapat melalui aliran darah lalu terjebak dalam arteri besar. Bila hal ini terjadi, maka darah tidak akan sampai ke otak, paru-paru, dan organ lainnya. Hal ini menempatkan pasien pada risiko stroke, serangan jantung, dan emboli paru.

Penyebab Atrial Flutter

Atrial flutter bisa terjadi bila aliran darah ke jantung tersumbat atau terhambat. Hal ini bisa terjadi jika seseorang memiliki:

  • Aterosklerosis, atau plak yang terbentuk di dalam arteri

  • Tekanan darah tinggi

  • Kardiomiopati, kelainan jantung yang membuat otot jantung terlalu kaku.

  • Kelainan katup jantung

  • Kelenjar tiroid yang terlalu aktif

  • Bekuan atau gumpalan darah yang tersangkut di arteri besar

  • Penyakit paru-paru kronis

Gejala Utama Atrial Flutter

Gejala umum atrial flutter adalah:

  • Rasa cemas

  • Sakit di bagian dada

  • Merasa kaliut atau bingung

  • Mudah kelelahan saat berolahraga

  • Detak jantung yang lebih cepat

  • Pusing

  • Tekanan darah rendah

  • Sesak napas

  • Berkeringat

Atrial flutter dan gejalanya jarang yang berdampak serius. Banyak pasien yang merasa baik-baik saja dan bisa tetap melakukan pekerjaan serta menjalani kehidupan mereka seperti biasanya.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang mengalami tanda atrial flutter dapat berkonsultasi dengan dokter umum (GP) untuk dilakukan pemeriksaan. Jika hasil tes awal menunjukkan adanya masalah jantung, maka pasien akan dirujuk ke spesialis jantung. Beberapa tes yang akan dilakukan untuk mendiagnosis kelainan tersebut adalah:

  • Elektrokardiogram (EKG) - EKG mengukur dan mencatat impuls listrik jantung. Hal ini dapat mendeteksi kelainan konduksi serta banyak tanda-tanda masalah jantung lainnya.

  • Ekokardiogram - Jenis tes ultrasound yang menggunakan gelombang suara untuk membuat gambaran rinci jantung. Ini membantu dokter dengan mudah menemukan masalah pada jantung dan katupnya. Hal ini juga dapat menunjukkan apakah pasien memiliki penggumpalan darah.

  • Monitor Holter - Perangkat yang dipakai oleh pasien untuk terus merekam ritme jantung mereka selama 24 sampai 72 jam. Ini membantu dokter mengidentifikasi apabila ada kelainan irama jantung.

Pengobatan

Atrial flutter bisa diobati dengan:

  • Pengobatan - Pasien diberi obat yang bisa mengendalikan ritme jantung dan mencegah terjadinya penggumpalan darah. Mereka juga sering diresepkan dengan kalsium dan beta-blocker untuk memperlambat konduksi melalui nodus AV.

  • Ablasi kateter - Prosedur ini menggunakan panas untuk menghancurkan jaringan jantung yang menyebabkan flutter atrium. Ini menggunakan kabel tipis dan fleksibel (kateter) yang diikatkan melalui pembuluh darah di selangkangan atau leher ke jantung.

  • Cardioversion - Menggunakan elektroda untuk mengirim guncangan ke jantung untuk mengembalikan ritme jantung menjadi normal.

Metode yang digunakan untuk mengobati atrial flutter sangat aman dan efektif. Dalam banyak kasus, masalah mereka dapat teratasi tanpa menimbulkan efek samping atau komplikasi. Prognosisnya biasanya sangat baik jika kelainan didiagnosis dan diobati sejak dini. Jika kelainan ini terdeteksi saat komplikasi sudah terjadi, perawatan lebih lanjut dan perawatan yang lebih invasif diperlukan untuk bisa mengatasi kondisi tersebut.

Rujukan:

  • Granada J, Uribe W, Chyou PH, Maassen K, Vierkant R, Smith PN, et al. Incidence and predictors of atrial flutter in the general population. J Am CollCardiol. 2000 Dec. 36(7):2242-6

  • Neumar RW, Otto CW, Link MS, Kronick SL, Shuster M, Callaway CW, et al. Part 8: adult advanced cardiovascular life support: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation. 2010 Nov 2. 122(18 Suppl 3):S729-67.

  • Falk RH, Pollak A, Singh SN, Friedrich T. Intravenous dofetilide, a class III antiarrhythmic agent, for the termination of sustained atrial fibrillation or flutter. Intravenous Dofetilide Investigators. J Am CollCardiol. 1997 Feb. 29(2):385-90.

Bagikan informasi ini: