Apa itu Hepatitis Autoimun?

Sistem imun adalah pertahanan tubuh untuk melawan berbagai penyakit. Sistem ini terdiri dari sel, jaringan, dan organ yang menciptakan antibodi yang dapat membunuh patogen, sebelum mereka merusak tubuh. Sehingga, infeksi dapat dicegah dan individu tetap sehat.

Kadang sistem imun dapat menyerang sel yang sehat dengan pemicu yang tidak diketahui. Akan tetapi, dokter menyakini bahwa kondisi tersebut terjadi karena gen yang mengontrol fungsi sistem imun berinteraksi dengan faktor pemicu tertentu dari lingkungan, seperti obat-obatan dan patogen.

Saat sistem imun menyerang hati, individu dapat mengembangkan hepatitis autoimun, di mana hati akan meradang. Jika dibiarkan, hati dapat mengalami sirosis. Dalam kondisi ini, jaringan hati sehat terganti dengan jaringan parut yang menghalangi aliran darah normal yang melalui hati. Akibatnya, gagal hati dapat terjadi.

Hati adalah organ yang bekerja sama dengan usus dan pankreas untuk mencerna, menyerap, dan mengolah makanan. Selain itu, hati menyaring darah yang mengalir melalui saluran pencernaan dan menghasilkan cairan empedu. Cairan tersebut berwarna hijau pekat atau kuning kecoklatan yang membantu mencerna dan menyerap lemak. Ada juga fungsi hati lainnya yaitu mendetoksifikasi bahan kimia dan memetabolisme obat-obatan.

Ada dua tipe hepatitis autoimun yang disebut dengan tipe 1 dan tipe 2. Tipe 1 lebih sering ditemui dan biasanya muncul berbarengan dengan penyakit autoimun lainnya. Sementara, tipe 2 sangat langka. Umumnya ditemukan pada anak perempuan usia 2 – 14 tahun dan muncul berbarengan dengan penyakit autoimun lainnya.

Penyebab Hepatitis Autoimun

Hepatitis autoimun terjadi karena adanya masalah pada sistem imun. Bukannya menyerang patogen, sistem imun malah melepaskan antibodi yang menyerang sel dan jaringan sehat. Saat antibodi tersebut menyerang hati, seseorang dapat menderita hepatitis autoimun.

Pemicu sistem imun menyerang sel, jaringan, dan organ sehat, belum diketahui. Namun, risiko terjadinya hal tersebut meningkat, berdasarkan faktor berikut:

  • Usia dan jenis kelamin - Penyakit ini lebih umum dialami wanita berusia 14 - 40 tahun

  • Gangguan autoimun lainnya

  • Riwayat infeksi tertentu

  • Keluarga dengan riwayat hepatitis autoimun

Belum ada obat untuk kondisi ini. Pasien umumnya diresepkan obat yang dapat mencegah sistem imun menyerang hati.

Gejala Utama Hepatitis Autoimun

Gejala utama hepatitis autoimun adalah demam, nyeri otot, dan rasa sakit pada bagian perut. Gejala lainnya adalah bagian putih mata dan kulit menguning. Selain itu, ruam pada kulit juga dapat muncul.

Semakin parahnya penyakit, pasien akan menyadari gejala berikut:

  • Pembuluh darah seperti laba-laba pada kulit

  • Pembengkakan perut

  • Air seni berwarna gelap

  • Gatal karena penumpukan toksin dan cairan empedu

Jika diobati segera, hepatitis autoimun bisa menyebabkan sirosis hati dan kemudian gagal hati. Dengan gejala, di antaranya:

  • Mudah berdarah dan memar

  • Asites atau penumpukan cairan pada perut

  • Pembesaran payudara pada pria

  • Kebingungan atau disorientasi

  • Kantuk dan perasaan tidak enak badan

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Hepatitis autoimun dapat didiagnosis dengan tes darah dan biopsi hati. Tes darah dapat memastikan keberadaan virus hepatitis. Selain itu, kedua tes juga bisa menentukan tipe hepatitis autoimun yang dimiliki pasien. Diagnosis hepatitis autoimun bisa dikonfirmasi dengan biopsi hati. Untuk prosedur ini, jarum panjang dimasukkan ke dalam perut. Hal ini memungkinkan dokter mengeluarkan sebagian kecil jaringan hati. Jaringan tersebut kemudian dikirim ke laboratorium untuk pengujian.

Hasil kedua tes tersebut membantu dokter menilai sejauh mana kondisi yang dialami pasien. Hal ini penting dalam memilih pengobatan terbaik untuk pasien.

Hepatitis autoimun diobati dengan imunosupresan. Ini adalah jenis obat yang menghentikan sistem kekebalan tubuh untuk menyerang hati. Bekerja dengan menurunkan aktivitas sistem kekebalan tubuh. Pasien harus mengonsumsi obat selama sisa hidup mereka. Jika obat tersebut dihentikan dengan alasan apapun, penyakit akan kembali. Banyak pasien merespon dengan baik terhadap terapi medis. Tapi penggunaan obat-obatan tersebut dalam jangka waktu lama memiliki banyak efek samping. Ini termasuk osteoporosis, diabetes, dan tekanan darah tinggi serta glaukoma dan katarak.

Transplantasi hati mungkin diperlukan jika pasien tidak merespon dengan baik terhadap pengobatan. Hal ini juga dapat disarankan pada kasus yang parah. Untuk prosedur ini, hati yang rusak pasien akan diangkat. Kemudian diganti dengan hati sehat dari donor hidup atau yang sudah meninggal. Dalam transplantasi donor hidup, hanya sebagian hati sehat yang diberikan kepada penerimanya. Sebagian tetap berada dalam tubuh donor. Kedua hati akan mulai beregenerasi tepat setelah operasi. Prosedur ini sering memberikan hasil yang bagus. Tingkat kelangsungan hidup lima tahunnya adalah 70 - 80%.

Rujukan:

  • Feldman, M, et al. Autoimmune hepatitis. In: Sleisinger and Fordtran’s Gastrointestinal and Liver Disease: Pathophysiology, Diagnosis, Management. 10th ed. Philadelphia, Pa.: Saunders Elsevier; 2016. http://www.clinicalkey.com.

  • Lim, Kie N.; Casanova, Roberto L.; Boyer, Thomas D.; Bruno, Christine Janes (2001). “Autoimmune hepatitis in African Americans: presenting features and response to therapy”. The American Journal of Gastroenterology. 96 (12): 3390–3394. ISSN 0002-9270. doi:10.1111/j.1572-0241.2001.05272.x.

Bagikan informasi ini: