Apa itu Kista Bartholin?

Kelenjar Bartholin adalah sepasang kelenjar sebesar kacang yang terletak di lubang vagina, tepatnya di antara labia minora dan selaput dara (sekitar arah jarum jam 5 dan 7). Ketika tidak membengkak atau terinfeksi, kelenjar Bartholin tidak dapat diraba dan dilihat dengan mata telanjang. Kelenjar ini mengeluarkan cairan untuk melumasi selama berhubungan seksual. Cairan tersebut dilepaskan melalui saluran Bartholin.

Kista Bartholin muncul apabila saluran Bartholin tersumbat. Kondisi ini membuat cairan naik kembali dan menumpuk di dalam kelenjar Bartholin. Kelenjar yang membengkak jarang menjadi penyebab kekhawatiran, karena tidak menimbulkan gejala yang menakutkan. Kista kerap sembuh dengan sendirinya. Bisa juga ditangani dengan perawatan rumahan, seperti mandi air hangat selama lima hari. Namun, kista Bartholin yang terinfeksi dapat memicu pertumbuhan abses. Akibatnya, pasien akan mengalami nyeri, vulva membengkak, kedinginan, dan demam. Abses Bartholin dapat diobati melalui prosedur drainase, minum antibiotik, dan pada beberapa kasus, prosedur bedah sederhana untuk membuat saluran Bartholin tetap terbuka.

Kista Bartholin merupakan kondisi yang sangat umum. Biasanya, menyerang wanita yang aktif secara seksual, antara usia 20 dan 30 tahun.

Penyebab Kista Bartholin

Kista Bartholin terbentuk saat saluran Bartholin tersumbat. Kondisi ini membuat cairan yang diproduksi oleh kelenjar Bartholin tidak dapat mengalir ke luar alat kelamin. Saat cairan semakin menumpuk, saluran Bartholin akan membesar dan membentuk kista. Penyumbatan dapat disebabkan oleh penyakit menular seksual dan infeksi bakteri lainnya, termasuk bakteri yang menyebabkan gonore (gonococcus), klamidia (Chlamydia trachomatis), haemorrhagic colitis (Escherichia coli or E.coli), pneumonia (Streptococcus pneumonia), dan infeksi pernapasan (Haemophilus influenza).

Gejala Utama Kista Bartholin

Kista kecil yang tidak terinfeksi biasanya tidak terasa nyeri dan tanpa gejala. Oleh sebab itu, umumnya wanita yang memiliki kista ini tidak menjalani pengobatan apapun. Kista seringkali terdeteksi oleh dokter saat pasien menjalani tes ginekologi, seperti pap smear dan pemeriksaan panggul.

Kista yang berukuran lebih besar memiliki gejala seperti:

  • Ada tonjolan di area labia

  • Abses, bila kista terinfeksi

  • Demam

  • Nyeri dan rasa sakit di area vulva, umumnya terasa ketika berhubungan seksual

  • Labia yang tampak memerah atau membengkak

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Benjolan apa pun yang ditemukan di area alat kelamin perlu segera dikonsultasikan pada dokter keluarga pasien atau dokter spesialis kebidanan. Meski kista Bartholin tidak perlu dikhawatirkan, namun beberapa jenis benjolan pada vulva dapat menjadi tanda penyakit yang lebih serius, seperti kanker.

Untuk mendiagnosis kista Bartholin dan penyakit lain, maka akan dilakukan tes dan prosedur berikut:

  • Meninjau rekam medis pasien

  • Pemeriksaan panggul - Tes ginekologis standar untuk mengevaluasi sistem reproduksi wanita. Tes yang cukup sederhana ini hanya berlangsung selama beberapa menit. Pada tes ini, pertama-tama dokter akan memeriksa vulva untuk mencari apakah ada luka, iritasi, kemerahan, pembengkakan, dan kelainan lainnya. Dokter juga dapat memilih untuk melakukan pemeriksana visual internal dengan menggunakan spekulum untuk memeriksa vagina dan leher rahim.

  • Kultur endoservikal - Tes untuk mendeteksi infeksi menular seksual.

  • Biopsi - Berdasarkan faktor risiko dan riwayat keluarga pasien, kemungkinan dokter akan memilih untuk mengangkat kista dan memeriksa apakah bersifat ganas atau mengandung kanker.

Pengobatan

Kista kecil yang tidak terinfeksi biasanya akan hilang tanpa diobati. Namun, pasien dapat melakukan perawatan rumahan, seperti mandi air hangat dan tidak berhubungan seksual sampai kista hilang.

Di sisi lain, kista yang terinfeksi dapat ditangani dengan:

  • Antibiotik

  • Aspirasi jarum - Prosedur rutin untuk mengeluarkan cairan dan nanah. Untuk mengurangi risiko infeksi, biasanya kista disuntikkan dengan larutan alkohol sebelum dikeringkan.

  • Marsupialisasi - Teknik bedah dengan menyayat hingga ke bagian dalam kista dan menjahit pinggiran kista untuk membuat lubang permanen.

  • Eksisi kista Bartholin - Prosedur ini ditujukan untuk kista dan abses Bartholin yang terus kambuh. Meski merupakan prosedur bedah sederhana, eksisi kista Bartholin adalah salah satu prosedur yang membuat pasien mengeluarkan banyak darah, karena vulva mendapat pasokan darah yang berlimpah. Oleh sebab itu, prosedur sebaiknya ini dilakukan di kamar bedah.

Prosedur ini biasanya menggunakan bius lokal. Tujuannya agar pasien tidak merasa sakit selama operasi. Namun, beberapa kasus dapat menggunakan bius total untuk membuat pasien tertidur.

Eksisi kelenjar Bartholin memiliki risiko dan kemungkinan komplikasi, termasuk:

  • Infeksi

  • Perdarahan

  • Infeksi dada

  • Pembekuan darah

Rujukan:

  • Hillard PJA (2012). Benign diseases of the female reproductive tract. In JS Berek, ed., Berek and Novak’s Gynecology, 15th ed., pp. 374–437. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.

  • Mazdisnian F (2007). Bartholin’s duct cyst and abscess section of Benign disorder of the vulva and vagina. In AH DeCherney et al., eds., Current Diagnosis and Treatment in Obstetrics and Gynecology, 10th ed., pp. 618–619. New York: McGraw-Hill.

  • Reif P, Ulrich D, Bjelic-Radisic V, Häusler M, Schnedl-Lamprecht E, Tamussino K. Management of Bartholin’s cyst and abscess using the Word catheter: implementation, recurrence rates and costs. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol. 2015 Jul. 190:81-4.

Bagikan informasi ini: