Apa itu Batuk Alergi?

Batuk alergi adalah istilah yang digunakan untuk membedakan batuk yang disebabkan oleh alergi dari batuk yang disebabkan oleh pilek biasa. Batuk biasanya disertai dengan hidung berair dan tersumbat, dan gejala ini terjadi secara bersamaan ketika seseorang menderita pilek biasa atau reaksi alergi. Terkadang sulit untuk memeriksa dan menangani batuk karena pasien tidak yakin apa yang menyebabkan batuknya. Akibatnya, pasien mungkin meminum obat yang salah dan tidak mendapatkan perhatian medis yang tepat.

Apa Penyebab Batuk Alergi?

Batuk alergi umumnya disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif dan merespon zat tertentu secara berlebihan hingga tubuh terserang batuk alergi. Hal ini terjadi ketika tubuh menganggap zat yang tidak berbahaya sebagai zat yang berbahaya, dan dengan demikian hal ini merangsang sistem pertahanan untuk menangkal zat tersebut. Hal ini menyebabkan pelepasan bahan kimia yang disebut histamin, yang dikeluarkan oleh tubuh ketika pasien menderita flu/pilek. Histamin merupakan penyebab dari hidung berair, batuk, bersin, dan pembengkakan pada saluran hidung, sehingga pasien mulai mengalami gejala seperti pilek bahkan tanpa mengalami flu. Inilah bagaimana seseorang terserang batuk alergi.

Tidak ada reaksi alergi yang disebabkan oleh satu penyebab, namun beberapa orang tampaknya lebih rentan terhadap penyebab tersebut dibanding dengan yang lainnya. Biasanya alergi ini terjadi dalam satu keluarga, jadi orang-orang yang memiliki alergi dalam riwayat keluarganya memiliki peluang lebih besar terserang batuk alergi. Penelitian menunjukan bahwa anak-anak dengan satu orang tua yang alergi memiliki peluang 33% terserang alergi; jumlah ini meningkat menjadi 70% jika kedua orang tuanya memiliki alergi.

Batuk alergi juga sangat dipengaruhi oleh faktor luar. Musim serbuk sari ekstrim atau pindah ke lingkungan baru yang lembab dan berjamur mungkin dapat menyebabkan gejala alergi lebih buruk dari biasanya.

Tubuh juga bereaksi terhadap alergen yang berbeda. Tubuh mungkin melemahkan alergen dan mempertahankan diri, namun tubuh juga dapat menjadi sasaran alergen lainnya. Tubuh biasanya bereaksi terhadap alergen dengan mengaktifkan sel mastosit. Pada saat ini lah biasanya gejala seperti alergi muncul. Setelah sel mastosit pecah, tubuh akan dipenuhi oleh histamin. Paparan pada alergen akan mempengaruhi jangka waktu gejala muncul, dan jumlah paparan juga mempengaruhi jenis serta keparahan gejala. Inilah sebabnya mengapa beberapa orang dapat memakan atau tersentuh sesuatu yang dapat membuat mereka alergi, namun tubuh akan bereaksi ketika paparan dengan alergen terus berlangsung, lama, atau lebih dari yang dapat tubuh atasi. Hal ini menunjukan adanya batas tertentu untuk memicu batuk alergi.

Apa Gejala Utama dari Batuk Alergi?

Ada perbedaan utama pada gejala batuk yang berhubungan dengan batuk pilek biasa dan alergi. Batuk yang disebabkan oleh alergi cenderung:

  • Berlangsung selama berhari-hari sampai berbulan-bulan, selama alergen ada
  • Dapat terjadi setiap saat sepanjang tahun, tidak seperti pilek biasa, yang paling sering terjadi pada musim dingin
  • Menyebabkan gejala mendadak yang dimulai segera setelah pasien terpapar alergen

Meski batuk alergi juga dapat disertai hidung berair, mata berair dan gatal, dan sakit tenggorokan, batuk alergi tidak pernah disertai dengan demam dan nyeri tubuh. Jika Anda terserang batuk dan Anda demam, ada kemungkinan bahwa batuk tersebut disebabkan oleh pilek biasa. Pilek juga sangat jarang berlangsung lebih dari 14 hari, jadi jika batuk nampaknya tidak hilang setelah 2 minggu dan tidak ada respon setelah perawatan dan pemberian obat pilek, maka sudah saatnya memeriksa kemungkinan adanya alergi.

Batuk alergi juga dapat disertai dengan sinus dan infeksi telinga tengah. Hal tersebut tidak dianggap sebagai gejala, namun sebagai efek tidak langsung dari reaksi alergi. Karena pembengkakan di saluran hidung, sinus menjadi sangat sensitif, sehingga meningkatkan risiko infeksi sinus, yang juga dikenal sebagai sinusitis. Gejala infeksi sinus termasuk sakit di sekitar sinus (yang menyerang dahi, bagian atas dan kedua sisi hidung, rahang atas dan gigi atas, tulang pipi dan antara mata), sinus berair, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan sumbatan parah.

Namun, batuk alergi, seperti gejala alergi lainnya, juga dapat menjadi lebih parah. Kebanyakan orang menemukan bahwa ketika memasuki usia menengah, gejala alergi menjadi lebih jarang terjadi ketika mereka terpapar alergen. Penyebab hal ini utamanya adalah melemahnya sistem kekebalan tubuh dan ketidakmampuan untuk bereaksi sekuat dulu. Namun, hal ini tidak berarti bahwa alergi tersebut hilang. Alergi terhadap jenis makanan tertentu, sengatan lebah, dan karet merupakan alergi yang paling sulit hilang.

Siapa yang Dapat Menangani Batuk Alergi? dan Apa Jenis Perawatan yang Diberikan?

Karena batuk alergi disebabkan oleh faktor yang sama sekali berbeda, batuk alergi memerlukan perawatan yang sama sekali berbeda, yang biasanya melibatkan:

  • Menghindari alergan atau penyebab iritasi yang membuat tubuh Anda sensitif; alergen yang paling sering adalah serbuk sari, jamur, bulu binatang, dan tungau debu.
  • Mengkonsumsi anthistamin, yang menghambat pelepasan histamin dan dengan demikian, mengurangi gejala hidung tersumbat, pilek, dan hidung bengkak.
  • Mengkonsumsi dekongestan, yang mengurangi gejala hidung tersumbat dan berair.
  • Menggunakan steroid hidung, yang juga meringankan peradangan dan iritasi sepanjang lubang hidung, yang membuat pasien tetap nyaman.
  • Menjalani imunoterapi, yang berarti mendapatkan suntikan alergi atau dosis kecil dari zat alergen Anda, sehingga dengan meningkatnya dosis, tubuh menjadi lebih toleran terhadap zat tersebut.

Batuk alergi sangat jarang menjadi kondisi serius, meskipun gejalanya bisa sangat merepotkan dan tidak nyaman, terutama jika pasien tidak mendapatkan bantuan medis. Jika alergi tersebut tidak ditangani dengan baik, pasien berisiko terkena asma. Jadi, meskipun gejala alerginya sangat ringan, masih merupakan hal yang terbaik untuk mengungjungi dokter untuk mendapatkan bantuan gejala serta perlindungan jangka panjang dari komplikasi.

Referensi:

  • Micallef RE. (1983). “Effect of terbutaline sulphate in chronic allergic cough.” British Medical Journal.
  • Wheatley L., Togias A. (2015). “Allergic Rhinitis.” The New England Journal of Medicine.
  • Tarlo S., Lemiere C. (2014). “Occupational Asthma.” The New England Journal of Medicine.
  • Sylvester D., Karkos P., Vaughan C., Johnston J., et al. (2012). “Chronic cough, reflux, postnasal drip syndrome, and the otolaryngologist.” International Journal of Otolaryngology.
  • Allergy, Immunology and Pulmonary Medicine Journals
Bagikan informasi ini: