Apa itu Bell’s Palsy?

Bell’s Palsy ditandai dengan kelemahan atau kelumpuhan sementara pada salah satu sisi wajah. Ini terjadi saat saraf yang mengatur otot wajah meradang atau membengkak.

Bell’s Palsy bukanlah gejala stroke. Nyatanya, ini sangat jarang bersifat serius atau mengancam nyawa. Sebagian besar pasien dapat pulih total dalam satu tahun. Pengobatan untuk melegakan radang saraf wajah dan gejalanya sudah banyak tersedia.

Berdasarkan statistik, Bell’s Palsy menyerang satu dari 5.000 orang. Ini dapat dialami oleh pria maupun wanita. Namun ini lebih umum di antara orang yang berusia 15 dan 60 tahun.

Penyebab Bell’s Palsy

Bell’s Palsy terjadi akibat saraf yang mengendalikan otot-otot wajah mengalami trauma. Saraf ini, yang juga dikenal sebagai saraf kranium ketujuh, melintasi area sempit di dalam tengkorak. Saat saraf ini meradang, ia akan menekan tulang pipi. Kondisi ini menyebabkan kerusakan lapisan pelindung saraf. Saat ini terjadi, sinyal dari otak tidak dapat diteruskan dengan baik kepada otot-otot wajah, sehingga mereka akan melemah dalam sementara.

Dokter tidak yakin dengan penyebab saraf wajah dapat meradang. Namun mereka telah menduga jika beberapa infeksi virus di bawah ini berperan dalam situasi tersebut:

  • Infeksi Sitomegalovirus

  • Virus Epstein-Barr, yang menyebabkan mononukleosis

  • Herpes simpleks, penyebab umum dari lepuh demam and herpes genitalis

  • Cacar api, yang menyebabkan cacar air dan dampa

  • Influenza B, penyebab umum dari flu

  • Penyakit gondong (virus mumps)

  • Penyakit pernapasan (adenovirus)

  • Rubela, yang menyebabkan campak Jerman

Risiko Bell’s Palsy tampak meningkat pada wanita hamil dan baru saja melahirkan. Orang yang menderita penyakit pernapasan dan diabetes juga memiliki risiko yang lebih tinggi.

Gejala Utama Bell’s Palsy

Gejala of Bell’s palsy cenderung timbul secara tiba-tiba. Sangat sedikit orang yang melaporkan tanda peringatan sebelum penyakit ini berkembang. Pada sebagian besar kasus, saat pasien tertidur, dia lalu terbangun tanpa mampu menggerakkan salah satu sisi wajahnya. Mereka juga sering kali mengalami gejala berikut pada sebagian wajah mereka:

  • Sulit menutup dan membuka mulut dan mata

  • Berliur

  • Wajah mengendur

  • Sakit kepala

  • Nyeri di sekitar rahang

  • Nyeri di belakang telinga

  • Kelemahan otot mendadak, dapat bersifat ringan (paralisis parsial) atau berat (tidak dapat bergerak sama sekali)

  • Produksi air mata menurun

Jika tidak diobati, gangguan ini dapat berujung kepada komplikasi. Beberapa di antaranya dapat menyebabkan kekhawatiran pasien. Contohnya adalah infeksi mata serius karena pasien tidak dapat menutupnya, bahkan saat tidur. Ini dapat menyebabkan kornea kering, atau pada kondisi yang berat, berujung kepada kehilangan penglihatan.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Bell’s Palsy didiagnosis dan diobati oleh neurologis. Neurologis berspesialisasi menangani gangguan yang menyerang otak, sumsum tulang, dan saraf. Gangguan itu didiagnosis melalui proses eliminasi. Dengan metode ini, dokter akan mengobati penyakit lainnya yang menyebabkan gejala serupa, seperti stroke, tumor, dan penyakit Lyme.

Biasanya, dokter memulai dengan memeriksa fisik pasien. Mereka sering kali mencoba menutup kelopak mata pada sisi wajah pasien yang tidak dapat bergerak. Pada pasien Bell’s Palsy, kelopak mata tidak terus menutup, kecuali bila menggunakan plester bedah. Ini umumnya diikuti dengan tes untuk mendeteksi kerusakan saraf dan keparahannya (elektromiografi). Ini menggunakan elektroda untuk mengukur kecepatan dan kekuatan sinyal melintasi saraf tertentu.

Tes pencitraan, seperti tomografi komputer (CT scan) dan pencitraan resonansi magnetik (MRI), juga dapat digunakan untuk memeriksa tumor otak dan fraktur tengkorak.

Pengobatan

Bell’s Palsy diobati dengan mengonsumsi obat-obatan anti-peradangan (kortikosteroid) yang mengurangi pembengkakan saraf wajah. Obat-obatan anti-virus juga diberikan jika pasien terjangkit infeksi virus.

Pengobatan lainnya yang terfokus untuk mengobati atau menghilangkan gejala penyakit ini, di antaranya:

  • Obat tetes mata - Pasien Bell’s Palsy tidak mampu mengedipkan mata yang berada di bagian wajah yang kaku. Mereka juga tidak dapat memejamkan mata saat tidur. Ini membuat mata hanya memproduksi sedikit air mata, sehingga risiko infeksi dan kerusakan mata menjadi meningkat. Untuk mencegahnya, pasien diberi obat tetes dan salep mata. Mereka juga dianjurkan untuk memakai plester bedah agar mata mereka tetap terpejam kapan saja.

  • Terapi fisik - Ini untuk memperkuat otot-otot wajah pasien.

  • Botoxnjections - Ini digunakan untuk melemaskan otot-otot wajah dan mengurangi kontraksi otot.

Prognosis

Prognosis jangka panjang bagi pasien Bell’s Palsy umumnya baik. Banyak pasien yang dapat sembuh total, terutama jika mereka didiagnosis dan diobati sejak awal. Namun, ada sejumlah pasien yang menderita masih gejala ringan, bahkan setelah satu tahun pasca mengalami Bell’s Palsy. Gejala itu bisa bersifat permanen pada beberapa pasien.

Rujukan:

  • Facial nerve palsy.The Merck Manual Professional Edition. http://www.merckmanuals.com/professional/neurologic_disorders/neuro-ophthalmologic_and_cranial_nerve_disorders/facial_nerve_palsy.html?qt=&sc=&alt=.

  • Berg, T., Bylund, N., Marsk, E., Jonsson, L., Kanerva, M., Hultcrantz, M., &Engström, M. (2012, May).The effect of prednisolone on sequelae in Bell’s palsy. Arch Otolaryngol Head Neck Surg, 138(5), 445-449. Retrieved from http://jamanetwork.com/journals/jamaotolaryngology/fullarticle/1157682

  • Peng, K.-P., Chen, Y.-T., Fuh, J.-L., Tang, C.-H., & Wang, S.-J. (2014, December 17). Increased risk of Bell palsy in patients with migraine [Abstract]. Neurology, 84(2), 116-124. Retrieved from http://neurology.org/lookup/doi/10.1212/WNL.0000000000001124

Bagikan informasi ini: