Apa itu Urtikaria dan Angioedema?

Urtikaria dan angioedema adalah dua kondisi berbeda yang dapat terjadi bersamaan. Keduanya terjadi karena edema pada kulit.

Urtikaria, yang dikenal dengan istilah awam sebagai biduran, adalah reaksi peradangan yang terjadi pada bagian atas lapisan dermis kulit. Sementara itu, angioedema terjadi pada lapisan kulit yang lebih dalam dan jaringan subkutan. Kedua kondisi ini disebabkan oleh edema; serat kolagen di lapisan kulit menjadi sangat terpisah, dan pembuluh darah akan melebar.

Urtikaria dan angioedema biasanya terjadi sebagai reaksi alergi. Saat rangsangan yang menyebabkan alergi masuk ke aliran darah, sel mast yang ada di kulit akan mengikat immunoglobulin. Setelah itu, sel mast akan menjadi aktif dan mengalami degranulasi. Hal ini akan menyebabkan dihasilkannya zat yang dapat menyebabkan peradangan, misalnya histamin. Zat ini akan menyebabkan reaksi alergi serta urtikaria dan angioedema.

Urtikaria dan angioedema dikategorikan berdasarkan durasinya. Apabila gejalanya hilang dalam waktu kurang dari 6 minggu, maka kondisi ini dikategorikan sebagai kondisi akut; dan apabila gejala tidak hilang selama lebih dari 6 minggu, maka kondisi ini dikategorikan sebagai kronis. Kondisi ini biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dan saat terjadi hanya pada bagian kecil dari kulit, tidak membutuhkan penanganan di rumah sakit atau konsultasi dengan dokter. Lesi ini dapat diderita oleh pasien dari segala usia, namun lebih sering diderita oleh pasien yang berusia 30-an.

Penyebab Urtikaria dan Angioedema

Urtikaria dan angioedema dapat disebabkan oleh beberapa faktor lingkungan. Reaksi alergi akibat memakan seafood atau makanan laut, terutama kerang, coklat, kacang dan susu adalah penyebab yang relatif umum. Penyebab lainnya adalah terkena atau menghirup serbuk bunga, spora jamur, dan bulu hewan.

Suhu yang dingin juga dikenal dapat menyebabkan urtikaria. Setelah terkena suhu dingin, pasien dengan kondisi ini akan mengalami urtikaria lokal dalam hitungan menit, seiring kembalinya suhu tubuh ke suhu yang normal. Walaupun kondisi ini biasanya bersifat lokal, namun kondisi ini juga dapat menjadi sistemik dan menyebabkan berhentinya peredaran darah apabila seluruh bagian tubuh terkena suhu dingin, misalnya saat pasien berenang di air dingin.

Kondisi ekstrim lainnya adalah urtikaria kolinergik, yang dipercaya disebabkan oleh suhu tubuh yang tinggi. Kondisi ini dapat dipicu oleh demam, olahraga, atau mandi air panas. Pasien dengan kondisi ini kulitnya terlihat merah karena ada bagian kulit yang besar yang mengalami eritema (pembesaran pembuluh kapiler).

Urtikaria dan angioedema dapat disebabkan oleh faktor fisik lain yang lebih tidak umum. Dermografisme adalah jenis urtikaria khusus yang hanya ditemukan pada 1-4% individu. Lesi kulit akan timbul saat kulit terbentur keras dengan suatu benda, misalnya kuku. Urtikaria juga dapat disebabkan oleh tekanan yang berkepanjangan, misalnya pada bagian tubuh di mana pakaian atau tali pengikat yang ketat dikenakan. Penyebab lainnya meliputi sinar matahari (urtikaria solar), terkena air (urtikaria aquagenic), dan interaksi dengan zat kimia (urtikaria kontak) dan bisa serangga. Beberapa obat-obatan, yaitu NSAID dan inhibitor ACE, telah dilaporkan dapat menyebabkan kondisi ini.

Urtikaria kronis biasanya bersifat idiopatik, yang berarti tidak ada penyebab yang jelas dari kondisi ini. Beberapa studi telah menemukan hubungan antara urtikaria kronis dan penyakit tiroid autoimun, misalnya tiroiditis Hashimoto. Suatu penyakit langka yang bernama defisiensi inhibitor C1 adalah kondisi bawaan yang dapat menyebabkan angioedema yang tidak terjadi bersamaan dengan urtikaria.

Gejala Utama Urtikaria dan Angioedema

Lesi urtikaria adalah bilur yang bagian pinggirnya menonjol dan berwarna merah. Lesi ini batasnya terlihat jelas dan bagian tengahnya berwarna keputihan. Lesi biasanya terasa pruritus atau gatal. Lesi ini dapat terjadi pada seluruh bagian tubuh, namun biasanya timbul pada wajah dan bagian pinggir tubuh. Lesi urtikaria dapat tidak hilang selama beberapa jam sampai lebih dari satu hari.

Sementara itu, angioedema biasanya hanya timbul di bagian sekitar mata dan bibir. Karena lapisan kulit yang terkena angioedema adalah lapisan kulit yang lebih dalam, maka kulit kemungkinan akan terlihat normal, walaupun mengalami pembengkakan. Angioedema biasanya akan menyebabkan rasa sakit. Angioedema juga dapat timbul di bagian tubuh lainnya, misalnya pada usus dan saluran pernapasan. Saat angioedema mengenai saluran pencernaan, pasien dapat mengalami nyeri perut dan muntah. Apabila angioedema terjadi pada saluran pernapasan, kondisi ini dapat mengenai laring, sehingga menyebabkan terhalangnya pernapasan dan kesulitan bernapas.

Gejala yang lebih parah dari reaksi alergi atau anafilaksis dapat terjadi bersamaan dengan urtikaria dan angioedema. Gejala ini merupakan gejala sistemik dan meliputi suara mengi serta tekanan darah rendah.

Siapa yang Harus Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Salah satu aspek penanganan urtikaria dan angioedema yang paling penting adalah mengetahui alergen yang menyebabkan kondisi tersebut. Ahli alergi adalah seorang ahli yang dapat mendiagnosis dan menangani kondisi ini. Pemeriksaan riwayat kesehatan dan fisik pasien harus dilakukan untuk mengetahui agen yang menyebabkan alergi dan mencegah agar kondisi ini tidak terjadi lagi. Apabila alergen tidak dapat teridentifikasi, uji kulit mungkin harus dilakukan untuk mengetahui apa yang menyebabkan alergi pasien. Kemudian, pasien akan diminta untuk tidak mengonsumsi atau melakukan kontak dengan alergen tersebut.

Kasus urtikaria dan angioedema yang akut dapat ditangani dengan antihistamin, seperti loratadine atau ceritizine. Urtikaria dan pruritus biasanya ditangani dengan obat-obatan tersebut. Pasien yang tidak dapat diobati dengan antihistamin dapat diberi kortikosteroid. Pasien dengan urtikaria tekanan dan angioedema idiopatik juga dapat diberi steroid sistemik. Pasien dengan urtikaria vaskulitis dapat diberi obat-obatan tambahan, seperti colchicine atau hydroxychlorquine.

Pasien dengan urtikaria kronis dapat diobati dengan kortikosteroid sistemik. Antagonis reseptor leukotrien, seperti montelukast, juga dapat diberikan pada bagian tubuh tersebut. Obat-obatan baru, seperti omalizumab, juga dapat diberikan pada pasien. Pasien yang tidak berhasil disembuhkan dengan obat-obatan tersebut kemungkinan harus diberi obat yang lebih kuat, biasanya immunosuppressant seperti cyclosporine. Namun, obat seperti ini biasanya dianggap sebagai pilihan pengobatan terakhir karena dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan.

Untuk reaksi alergi yang lebih parah, pasien akan disuntik dengan epinefrin. Apabila pasien menemui dokter dengan keluhan yang berkaitan dengan kesulitan bernapas, maka dokter akan memberikan bantuan pernapasan dengan intubasi dan alat bantu pernapasan bernama ventilator.

Rujukan:

  • Habif TP. Clinical Dermatology: A Color Guide to Diagnosis and Therapy. 5th ed. Philadelphia, Pa.: Elsevier Mosby; 2009:chap 9.

  • Dreskin SC. Urticaria and angioedema. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman’s Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 260.

  • Grattan CEH. Urticaria and angioedema. In: Bolognia JL, Jorizzo JL, Schaffer JV, eds. Dermatology. 3rd ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 18.

Bagikan informasi ini: