Apa itu Biofeedback?

Biofeedback adalah istilah umum yang mengacu pada serangkaian teknik untuk mengendalikan respon tubuh tak terkendali untuk mengobati penyakit tertentu, menangani stres dan kelelahan, serta meningkatkan kesehatan pasien secara keseluruhan.

Tubuh manusia terdiri dari berbagai bagian tubuh yang saling bekerjasama sehingga manusia dapat berfungsi secara normal. Otak adalah pusat kendali, dan semua bagian tubuh lainnya menerima dan mengirimkan respon ke otak melalui jaringan saraf yang luas dan neurotransmiter (pembawa pesan antar saraf). Oleh karena itu, ketika seseorang berusaha untuk mengambil suatu barang, ia akan mengirimkan pesan ke otak, yang akan mengirim pesan kepada lengan dan tangan untuk bergerak, menjangkau barang, dan mengambil barang tersebut.

Sementara itu, ada beberapa aktivitas tubuh yang tidak dapat dikendalikan oleh manusia. Aktivitas ini dianggap sebagai pergerakan tak terkendali. Beberapa contoh yang baik adalah detak jantung, tekanan darah, metabolisme, dan suhu tubuh. Aktivitas tubuh tersebut biasanya bereaksi terhadap perangsang atau lingkungan di sekitar mereka.

Sebagai contoh, apabila seseorang sedang berlari atau berolahraga, detak jantung diperkirakan akan menjadi jauh lebih cepat daripada ketika tubuh sedang beristirahat. Ketika seseorang sedang berada di bawah banyak tekanan, tubuh akan memasuki sistem melawan-atau-kabur dan menghasilkan hormon seperti kortisol, yang meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Hal ini dapat membuat seseorang menjadi lebih waswas apabila ia harus lari atau menjauh dari penyebab tekanan.

Tujuan dari biofeedback adalah untuk memberikan kendali lebih besar kepada seseorang atas kondisi tubuh yang tak terkendali agar dapat meningkatkan kualitas kehidupan dan kesehatan mereka, serta menangani dan mengobati penyakit tertentu.

Biofeedback berasal dari kata “bio”, yang berarti tubuh, dan “feedback” atau respon, yang bisa didapatkan ketika tubuh terhubung ke sebuah alat yang mengawasi tanda-tanda vital seseorang. Dengan alat ini, terapis dan pasien dapat langsung membaca respon tubuh secara akurat. Alat-alat ini dapat membaca suhu (suhu tubuh), neurofeedback (aktivitas gelombang otak), dan elektromiografi (ketegangan otot).

Teknik yang biasanya digunakan untuk biofeedback adalah:

  • Kesadaran penuh
  • Pernapasan normal
  • Visualisasi
  • Relaksasi otot

Siapa yang Perlu Menjalani Biofeedback dan Hasil yang Diharapkan

Terapi biofeedback merupakan terapi yang sesuai bagi:

  • Orang yang sedang berada di bawah banyak tekanan
  • Orang yang menderita penyakit yang ditandai dengan pergerakan yang tak terkendali, seperti buang air kecil secara tidak sadar, kontraksi otot, migrain, atau asma
  • Orang yang telah mengonsumsi obat-obatan namun tidak memberikan hasil
  • Wanita dan pria yang berani menjalani biofeedback dengan alat yang akan dipasang pada tubuh

Terapi ini juga dapat berguna bagi pasien yang mengalami nyeri, baik nyeri yang berulang, kronis, atau akut. Hal ini juga berlaku bagi pasien yang telah didiagnosis menderita fibromialgia atau sindrom kelelahan kronis.

Biofeedback juga dapat membantu atlet dan orang yang banyak melakukan kegiatan berat, karena tubuh mereka selalu mengalami pengencangan otot, kerobekan, rasa sakit pada ligamen akibat terlalu sering digunakan, dan nyeri.

Terapi ini juga telah terbukti efektif untuk pasien yang menderita gangguan jiwa, termasuk depresi, penyakit bipolar, dan kegelisahan yang parah. Terapi ini dapat membantu pasien agar mereka tidak terlalu bergantung pada obat-obatan.

Walaupun biofeedback sudah cukup lama digunakan, para ahli masih belum yakin bagaimana atau mengapa terapi ini dapat berhasil. Biarpun begitu, banyak pasien yang telah menjalani biofeedback menyatakan bahwa:

  • Dengan terapi ini, mereka bisa lebih mengendalikan kesehatan mereka
  • Mereka menjadi tidak terlalu bergantung pada obat-obatan
  • Terapi ini 100% aman dan merupakan alternatif yang baik dari bedah dan obat-obatan.

Cara Kerja

Hal pertama harus dilakukan pasien yang ingin mencoba biofeedback untuk mengurangi rasa sakit, meningkatkan kesehatan, atau menangani penyakit tertentu adalah mencari terapis yang tepat.

Sampai saat ini, belum ada standar proses sertifikasi bagi terapis biofeedback, oleh karena itu semua orang dapat melakukan terapi ini. Namun, Applied Psychophysiology and Biofeedback Society sangat menyarankan pasien untuk mencari seseorang yang telah mendapatkan sertifikat dari Biofeedback Certification International Alliance (BCIA). Organisasi ini juga dapat membantu pasien mencari terapis yang ada di daerah tempat tinggal mereka.

Terapis yang bersertifikat telah mendapatkan pelatihan mendalam, memiliki latar belakang yang mendukung, dan bahkan beberapa di antaranya adalah psikolog, psikiater, atau pekerja sosial berlisensi. Namun, bukan berarti orang yang memiliki ketiga pekerjaan tersebut adalah terapis biofeedback. Untuk menjadi terapis biofeedback, seseorang harus memiliki pelatihan dan pengalaman khusus.

Terapis memiliki metode biofeedback yang beragam karena terapi ini harus disesuaikan dengan respon pasien pada teknik tertentu.

Namun biasanya, terapi akan diawali dengan pemasangan alat biofeedback, yang memiliki banyak bentuk dan fungsi, pada tubuh pasien. Elektroda akan dipasang pada kulit, yang kemudian akan mendapatkan respon dari tubuh yang akan dibaca oleh alat biofeedback.

Tergantung pada respon dari tubuh, pertama terapis akan membantu pasien mengendalikan tanda vital, seperti detak jantung.

Terapi ini dilakukan tiap sesi dan tidak ada batasan jumlah sesi, karena hal tersebut bergantung pada penyakit yang ditangani atau diobati, respon pasien terhadap terapi, reaksi alami tubuh terhadap terapi, dan lain-lain. Biasanya, untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, pasien akan membutuhkan setidaknya delapan sesi dan setiap sesi berlangsung selama sekitar satu jam.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Biofeedback

Terapi biofeedback merupakan terapi yang aman. Terapi ini dapat dijalani oleh anak, remaja, dan wanita hamil.

Namun ada beberapa masalah yang berkaitan dengan biofeedback. Pertama, biofeedback tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan karena terapi ini dianggap sebagai pengobatan alternatif. Hal ini dapat menyebabkan seseorang harus berhenti menjalani terapi. Walaupun biofeedback dapat dipelajari agar pasien tidak perlu lagi mengunjungi terapis, namun proses pembelajarannya membutuhkan waktu yang lama.

Kedua, biofeedback dilakukan dengan trial and error (terus dilakukan sampai mendapatkan hasil). Terapi ini bergantung pada banyak faktor, seperti respon tubuh, yang kebanyakan masih tidak terkendali. Oleh karena itu, terapi ini mungkin harus dilakukan beberapa kali sebelum pasien bisa mulai merasakan hasil yang diinginkan. Terkadang terapi ini membutuhkan waktu yang terlalu lama, sehingga pasien dapat merasa lebih frustrasi dan tertekan, dan kesehatannya memburuk. Ada juga kasus di mana terapi ini sama sekali tidak memberikan hasil.

Ketiga, hanya ada sangat sedikit bacaan atau buku mengenai terapi ini, sehingga ada kemungkinan orang tertentu akan meragukan terapi ini. Selain itu, karena pekerjaan sebagai terapis biofeedback belum memiliki aturan yang sejelas pekerjaan lainnya, ada kemungkinan pasien akan memilih terapis yang belum berpengalaman atau lebih buruk lagi, terapis yang palsu.

Belum lama ini, ada perusahaan tertentu yang menjual alat biofeedback yang bisa digunakan di rumah. Walaupun ada beberapa di antaranya yang dapat bekerja, alat yang lainnya hanyalah produk dari pemasaran yang berlebihan.

Rujukan:

  • Haas DJ. Complementary and alternative medicine. In: Feldman M, Friedman LS, Brandt LJ, eds. Sleisenger and Fordtran’s Gastrointestinal and Liver Disease Pathophysiology/Diagnosis/Management. 9th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Saunders; 2010:chap 127.

  • Lumpkin M, Rakel D. Relaxation techniques. In: Rakel D, ed. Integrative Medicine. Philadelphia, Pa: Elsevier Saunders; 2012:chap 93.

  • Magis D, Schoenen J. Treatment of migraine: update on new therapies. Curr Opin Neuro. 2011;24(3):203-210.

  • Payne CK. Conservative management of urinary incontinence: behavioral and pelvic floor therapy, urethral and pelvic devices. In: Wein AJ, Kavoussi LR, Novick AC, et al., eds. Campbell-Walsh Urology. 10th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Saunders; 2011:chap 69.

Bagikan informasi ini: