Apa itu Abses Otak?

Abses otak adalah penyakit serius yang ditandai dengan nanah yang terkumpul di dalam otak. Kondisi ini memberi tekanan abnormal pada jaringan otak yang lunak dan menyebabkan otak membengkak. Akibatnya, otak dapat mengalami kerusakan permanen. Infeksi yang terjadi juga mengganggu aliran darah ke otak. Jika aliran darah terhenti, pasien akan mengalami stroke. Itu sebabnya, abses otak diobati sebagai kondisi gawat darurat.

Ini dapat terjadi jika:

  • Infeksi pada paru-paru, jantung, dan perut menjalar ke otak melalui aliran darah.

  • Infeksi di area kepala, seperti infeksi sinus atau telinga yang menyebar ke otak.

  • Patogen memasuki otak melalui luka terbuka. Luka seperti ini dapat disebabkan oleh trauma pada kepala atau operasi otak.

Abses otak dapat berkembang dengan cepat. Namun jika segera diketahui, ini dapat ditangani cukup dengan obat-obatan atau operasi.

Penyebab Abses Otak

Abses otak dapat timbul apabila patogen-patogen menemukan jalan untuk masuk ke otak dan menyebabkan infeksi. Mereka dapat memasuki otak melalui luka terbuka pada kepala atau aliran darah. Sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap infeksi ini dengan mengirimkan lebih banyak sel darah putih ke area ini. Respons kekebalan tubuh tersebut menyebabkan iritasi dan peradangan.

Kondisi ini dapat menyerang siapa saja dari segala usia. Namun, beberapa orang lebih berisiko tinggi daripada yang lainnya. Ini termasuk orang-orang yang mengidap penyakit jantung bawaan. Penderita meningitis dan yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah pun termasuk rentan. Saat sistem kekebalan tubuh seseorang lemah, kemampuan tubuhnya untuk melawan patogen akan menurun. Sistem kekebalan tubuh dapat melemah karena penyakit dan obat-obatan tertentu. Ini termasuk obat imunosupresan yang dikonsumsi untuk membatasi aktivitas sistem kekebalan agar tidak menyerang sel dan jaringan sehat. Namun, dengan menahan sistem kekebalan, pasien menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Sistem kekebalan orang-orang tua biasanya lebih lemah dibandingkan dengan orang-orang yang lebih muda. Riwayat cedera atau operasi sebelumnya juga dapat meningkatkan risiko infeksi.

Faktor risiko lainnya yaitu kondisi cacat bawaan lahir yang memudahkan infeksi untuk menjalar ke otak, melalui usus atau gigi. Contohnya adalah cacat jantung yang disebut tetralogi Fallot.

Gejala Utama Abses Otak

Orang-orang dengan abses otak mungkin menunjukkan gejala yang berbeda. Ini tergantung kepada ukuran dan lokasinya. Gejalanya termasuk muntah, linglung, dan sakit kepala. Penderita juga mengalami letih dan demam yang dipengaruhi oleh infeksi. Pada kasus yang berat, pasien merasa kesulitan untuk mengungkapkan dan memahami pembicaraan. Mereka juga biasanya memerlukan waktu yang cukup lama untuk merespons pertanyaan dan berusaha keras untuk fokus. Gejala lainnya termasuk leher kaku, kehilangan fungsi otak, sensasi menurun, dan perubahan kemampuan melihat. Jika tekanan intrakranium terlalu besar, pasien dapat mengalami koma.

Pada anak-anak, abses otak dapat membuat fontanel atau bagian lunak pada puncak kepala mereka menonjol. Kondisi ini membuat kaki menjadi tegang.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Mendiagnosis abses otak dapat menghabiskan waktu, sebab gejalanya serupa dengan penyakit-penyakit lain. Dokter menjadi terbantu untuk segera memastikan diagnosis penyakit ini, jika pasien memiliki:

  • Riwayat infeksi atau baru menjalani operasi.

  • Baru bepergian ke negara berkembang.

  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Penting bagi dokter untuk mengetahui saat gejala pertama muncul. Jika pasien diduga menderita abses otak, dia akan dirujuk kepada dokter spesialis otak atau ahli neurologi

Penyakit ini didiagnosis dengan menggunakan tes dan prosedur berikut:

  • Tes darah - Tes darah digunakan untuk mengukur kadar WBCs di dalam tubuh pasien. Tubuh pasien memproduksi lebih banyak WBCs saat melawan infeksi dan penyakit.

  • Rontgen dada - Rontgen dada digunakan untuk menentukan apakah abses disebabkan oleh infeksi paru-paru.

  • Tes pencitraan - Tes MRI dan CT-scan digunakan untuk mendapatkan gambar otak yang jelas. Dibandingkan dengan rontgen, kedua tes ini menghasilkan informasi yang lebih detail, khususnya tentang jaringan lunak dan pembuluh darah. Itu sebabnya, tes ini membuat dokter dapat mendiagnosis penyakit pasien secara akurat dan memantau efektivitas pengobatan. Inilah alasan angka kematian akibat abses otak telah menurun drastis dalam beberapa dekade terakhir.

  • Elektroensefalogram (EEG) - Ini adalah tes untuk mendeteksi abnormalitas pada aktivitas kelistrikan otak.

  • Biopsi jarum - Prosedur pengambilan sejumlah sampel nanah untuk dianalisis. Ini dilaksanakan dengan menggunakan CT-scan.

Abses otak dapat ditangani dengan obat-obatan, aspirasi, atau operasi. Jika abses ditemukan sejak dini, pengobatan bisa dengan antibiotik intravena. Obat-obatan juga digunakan jika:

  • Operasi terlalu berisiko bagi pasien.

  • Abses terletak di jauh di dalam otak.

  • Pasien mengidap meningitis, infeksi yang menyerang membran pelindung otak.

  • Pasien mengidap hidrosefalus.

  • Pasien memiliki beberapa abses.

Jika ukuran abses mencapai dua sentimeter, abses akan diobati melalui prosedur aspirasi dan seluruh nanah di dalamnya akan dikeluarkan. Prosedur ini melibatkan pembuatan lubang kecil ke dalam tengkorak untuk dapat menjangkau abses. Jika abses masih belum sembuh melalui aspirasi dan obat-obatan, operasi menjadi pilihan terakhir. Ini mengharuskan dokter untuk membuang sedikit bagian tengkorak. Tekanan intrakranium akan keluar, sehingga dokter dapat mengobati abses secara langsung. Setelah abses berhasil diobati, bagian tengkorak yang telah diambil akan diganti dengan cangkok tulang.

Operasi adalah pilihan pengobatan terakhir karena berisiko. Beberapa risikonya bersifat mengancam nyawa. Di antaranya termasuk pembentukan darah beku di dalam otak. Darah beku dapat menyumbat atau memutuskan aliran darah ke otak. Kondisi ini dapat mengakibatkan stroke. Risiko lainnya termasuk sakit kepala yang bertahan selama beberapa lama, rahang kaku, infeksi berulang. Penggantian tulang dapat memindahkan dan menunda penyembuhan.

Pasien yang telah menjalani operasi otak harus menjalani proses penyembuhan dan dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. Mereka akan terus dipantau untuk melihat adanya tanda-tanda komplikasi dan memastikan area operasi sembuh dengan baik.

Rujukan:

  • Brouwer, MC; Coutinho, JM; van de Beek, D (Mar 4, 2014). “Clinical characteristics and outcome of brain abscess: systematic review and meta-analysis.”. Neurology. 82 (9): 806–13.

  • Nath A, Berger J. Brain abscess and parameningeal infections. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Cecil Medicine . 24th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2011:chap 421.

  • Tunkel AR. Brain abscess. In: Mandell GL, Bennett JE, Dolin R, eds. Principles and Practice of Infectious Diseases . 7th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Churchill Livingstone; 2009:chap 88.

Bagikan informasi ini: