Apa itu Kakeksia?

Kakeksia adalah kondisi penurunan berat badan dan massa otot yang parah. Ini merupakan efek samping umum dari penyakit jangka panjang (seperti kanker) dan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kematian. Kakeksia terjadi saat tubuh pasien melepaskan unsur-unsur yang menghambat perkembangan otot. Pasien akan kesulitan untuk menaikkan berat badan, sekalipun sudah makan lebih banyak. Tanpa massa otot dan tenaga yang cukup, banyak pasien yang menjadi terlalu lemah untuk menjalani pengobatan jenis apa pun. Hal ini akan memperburuk kondisi dan prognosis pasien.

Penurunan berat badan yang disebabkan oleh penyakit berbeda dengan penurunan berat badan yang disengaja. Ketika seseorang sengaja mengurangi asupan makanan dan memperbanyak olah raga, tubuhnya akan mulai membakar lemak berlebih. Ini akan membuatnya lebih kurus dan bertenaga. Dalam situasi seperti ini, massa otot tidak akan berkurang. Pasien yang menderita kakeksia akan kehilangan lemak dan massa otot, tak peduli seberapa banyak mereka makan dan olahraga. Hal ini membuat mereka menjadi sangat lemah. Mereka kesulitan untuk menahan gejala dan efek samping dari pengobatan yang sedang dijalani untuk penyakit mereka. Dalam bidang onkologi, kakeksia diyakini sebagai penyebab kematian pada hingga 40% kasus kanker.

Penyebab Kakeksia

Kakeksia dapat menyerang pasien yang menderita:

  • Gangguan makan yang parah

  • Kanker

  • Penyakit paru-paru stadium akhir

  • Penyakit ginjal stadium akhir

  • Penyakit seliak

  • Gagal jantung

  • Penyakit Crohn

  • Fibrosis kistik

  • Demensia

  • HIV/AIDS

  • Sklerosis ganda

  • Penyakit Parkinson

  • Artritis reumatoid

  • Tuberkulosis

  • Diabetes tidak terkontrol

Hubungan antara penyakit berat dan kakeksia masih belum jelas. Namun para peneliti percaya bahwa sitokin inflamasi memicu kondisi ini. Sitokin diproduksi oleh beberapa jenis sel. Tugasnya adalah menyeimbangkan respons kekebalan tubuh. Selain itu, sitokin juga mengatur sel-sel tertentu dengan memastikan sel-sel tumbuh dan matang pada waktu yang tepat. Namun sitokin pro-inflamasi yang diproduksi oleh tubuh ketika pasien sakit justru dapat memperparah beberapa penyakit. Beberapa penelitian, yang dilakukan pada hewan, menunjukkan bahwa sitokin ini dapat menyerang dan menurunkan jumlah jaringan lemak dan protein otot. Namun temuan ini perlu didukung oleh lebih banyak penelitian yang dilakukan pada manusia.

Gejala Utama Kakeksia

Kakeksia membuat pasien mengalami penurunan berat badan dan massa otot yang parah. Pasien yang menderita kakeksia memiliki:

  • Kadar albumin tinggi

  • Kadar sitokin inflamasi yang tinggi

  • Indeks massa tubuh kurang dari 20%

  • Kadar lemak tubuh kurang dari 10%

  • Penurunan berat badan hingga lebih dari 5% bobot tubuh

Gejala kakeksia di antaranya:

  • Kelelahan

  • Merasa tidak sehat

  • Tenaga rendah

  • Pembengkakan, biasanya pada pergelangan kaki

  • Hilangnya nafsu makan

  • Infeksi

  • Respons yang buruk terhadap berbagai jenis pengobatan

  • Kualitas hidup menurun

  • Berat badan turun terus-menerus

  • Lemah

Risiko kematian meningkat pada pasien yang menderita kakeksia dalam jangka waktu lama. Ini karena kakeksia membuat mereka terus-menerus kehilangan lemak dan otot yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menyimpan makanan dan glukosa. Tanpa asupan kedua nutrien tersebut, organ-organ tubuh perlahan akan mati.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Penting bagi pasien untuk tidak lagi kehilangan berat badan dan massa otot. Bila mampu, mereka dianjurkan untuk melakukan olahraga rutin dengan menggunakan beban. Mereka juga dianjurkan untuk menambah asupan makanan. Umumnya dokter memberi obat-obatan untuk merangsang nafsu makan pasien dan menghentikan sitokin pro-inflamasi. Bila penyakit ini ditangani lebih dini, ada kemungkinan pasien dapat terhindar dari efek samping serius. Namun jarang ada pasien yang dapat sembuh total.

Pada sebagian besar kasus, memperbanyak makan dan olahraga saja tidak cukup. Ini karena pasien juga menghadapi penyakit lain yang berdampak buruk terhadap kesehatannya. Untuk itu, dokter menyarankan pengobatan (rawat paliatif) yang fokus untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, alih-alih mencoba menyembuhkan penyakitnya. Pengobatan ini sering kali ditemui pada penderita penyakit stadium akhir, karena tidak banyak yang dapat dilakukan untuk menghentikan penyakit yang makin memburuk.

Prognosis bagi pasien dengan kakeksia biasanya terbilang buruk, khususnya bagi pasien yang menderita kanker jenis tertentu. Sebagian besar pengobatan kanker membuat pasien kehilangan nafsu makan dan hampir sepanjang hari merasa mual. Karena asupan makanan yang berkurang, penurunan berat badan pasien cenderung menjadi lebih parah. Hal ini mencegah mereka untuk dapat pulih total.

Rujukan:

  • Ebner, Nicole; Springer, Jochen; Kalantar-Zadeh, Kamyar; Lainscak, Mitja; Doehner, Wolfram; Anker, Stefan D.; von Haehling, Stephan (July 2013). “Mechanism and novel therapeutic approaches to wasting in chronic disease”. Maturitas. 75 (3): 199–206. doi:10.1016/j.maturitas.2013.03.014.

  • Garcia J.M.; Garcia-Touza M.; Hijazi R.A.; Taffet G.; Epner D.; Mann D.; Smith R.G.; Cunningham G.R.; Marcelli M. (May 2005). “Active ghrelin levels and active to total ghrelin ratio in cancer-induced cachexia”. J. Clin. Endocrinol. Metab. 90 (5): 2920–6. PMID 15713718. doi:10.1210/jc.2004-1788.

Bagikan informasi ini: