Apa itu Efusi Perikardial?

Efusi perikardial merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya jumlah cairan yang tidak normal di antara jantung dan kantung yang mengelilinginya; kantung ini disebut perikardium, yang merupakan asal nama kondisi ini. Meskipun bukanlah penyakit yang membahayakan organ itu sendiri, kondisi ini seringnya merupakan gejala atau efek dari kondisi kesehatan yang menyebabkan dan dapat mengganggu fungsi normal jantung. Kondisi ini dapat hadir dalam efusi kecil, efusi besar dan lebih serius, serta kondisi kronis yang berlangsung lebih dari 3 bulan.

Penyebab Efusi Perikardial

Untuk memahami apa yang menyebabkan efusi perikardial, penting untuk memahami cara kerja jantung. Jantung dibungkus dalam kantung yang kuat dan berlapis yang disebut perikardium sehingga jantung dapat bergerak dengan aman setiap berdetak. Kantung tersebut diisi oleh 2-3 sendok makan cairan bening kekuningan yang disebut cairan perikardial, yang bertugas sebagai pelumas sehingga jantung dapat bergerak bebak dalam kantung. Memiiki cairan ini lebih dari jumlah normal merupakan kondisi tidak normal yang disebut efusi perikardial, yang dapat menyebabkan jumlah cairan naik hingga 100ml hingga 2 liter.

Peningkatan jumlah cairan perikardium dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk:

  • Perikarditis – Kondisi di mana perikardium meradang, sehingga memproduksi lebih cairan
  • Infeksi virus – Penyebab paling umum efusi perikardial, infeksi ini dapat mencakup cytomegalovirus, coxsackievirus, atau bahkan human immunodeficiency virus.
  • Kanker
  • Luka pada jantung atau perikardium, yang mungkin diakibatkan oleh operasi sebelumnya
  • Infark miokard atau serangan jantung
  • Uremia atau gagal ginjal parah
  • Penyakit autoimun, seperti radang sendi atau lupus
  • Infeksi bakteri

Namun, sebagian besar kasus efusi perikardial tidak memiliki penyebab yang diketahui. Kasus tersebut dikategorikan sebagai efusi perikardial idiopatik.

Gejala Utama Efusi Perikardial

Ketka efusi perikardial disebabkan oleh pericarditis, biasanya kondisi ini disertai dengan beberapa tanda gejala, sehingga membuat kondisi ini lebih mudah untuk didiagnosis. Gejalanya termasuk:

  • Nyeri dada – Biasanya merupakan tanda perikarditis, dan sering memburuk ketika penderitanya bernapas panjang. Kondisi ini dapat membaik sementara dengan menyandarkan tubuh ke depan.
  • Sesak napas
  • Kelelahan
  • Demam
  • Mual
  • Nyeri otot
  • Muntah dan diare, yaitu tanda dari infeksi virus

Namun, dalam kasus di mana efusi tidak disebabkan oleh perikarditis, gejalanya tidaklah terlalu jelas. Bahkan, beberapa pasien tidak merasakannya sama sekali. Sering kali, kondisi ini hanya didiagnosis ketika hasil dari pemeriksaan kesehatan tidak normal. Pada kasus tersebut, kondisi tersebut hanya terjadi ketika efusi membesar dan lebih serius sehingga gejalanya muncul. Gejala tersebut termasuk:

  • Sesak napas
  • Kepala terasa ringan
  • Pingsan
  • Palpitasi
  • Kulit lembap

Jika mengalami gejala ini, pasien harus dibawa ke ruang gawat darurat, karena efusi perikardial dengan keparahan seperti ini dapat mengancam jiwa.

Untuk kasus yang tidak serius, efusi perikardial biasanya didiagnosis dan dipastikan melalui pemeriksaan:

  • Pemeriksaan fisik – Dokter mungkin dapat mendeteksi suara tidak normal ketika memeriska dada. Namun, namun pemeriksaan ini tidaklah dapat terlalu diandalkan sehingga perlu diikuti oleh pemeriksaan lainnya.

  • Elektrokardiogram (EKG) – Elektrokardiogram merupakan pemeriksaan diagnostik yang digunakan untuk memeriksa aktivitas listrik jantung. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menempatkan elekroda pada dada untuk memeriksa pola listrik tidak normal yang mungkin menunjukan efusi perikardial.

  • Sinar-X dada – Sinar-X dada sederhana, terutama ketika siluet jantung membesar, dapat menunjukan tanda adanya cairan berlebih di sekitar jantung.

  • Ekokardiogram – Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan yang paling efektif dan paling penting untuk mendiagnosis efusi perikardial. Ekokardiogram, yang juga dikenal sebagai USG jantung, dapat menunjukan jumlah cairan tidak normal di sekitar jantung dengan jelas, sehingga dapat memastikan diagnosis.

Setelah diagnosis efusi perikardial berhasil, langkah tindakan pertama adalah untuk menentukan ukuran dan tingkat keparahan penyakit. Jika kecil, tidak mungkin penyakit menyebabkan masalah yang serius. Namun, jika efusinya sangat besar, efusi dapat mengganggu kemampuan jantung untuk memompa darah dengan baik, sehingga menyebabkan kondisi yang berpotensi mengancam jika yang disebut tamponade jantung.

Dokter juga mencoba untuk menentukan penyebab pasti penyakit ini untuk membuat rencana pengobatan terbaik. Untuk melakukannya, dokter mengambil sampel cairan perikardium dan menempatkannya di bawah pemeriksaan. Tindakan ini disebut perikardiosentesis di mana dokter memasukkan jarum melalui dada untuk mengakses efusi perikardial, dan kemudian mengeluarkan beberapa cairan.

Siapa yang Harus Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Kasus efusi perikardial harus segera diberikan perhatian dokter ahli jantung, yaitu dokter yang menspesialisasikan bidangnya dalam kondisi yang mempengaruhi jantung. Dokter ahli jantung akan melakukan tindakan berdasarkan tingkat keparahan dan penyebab kondisi. Efusi kecil yang tidak menyebabkan gejala dan tidak diketahui penyebabnya tidak memerlukan pengobatan. Untuk efusi ringan namun kronis, tindakan pertama yang dibutuhkan adalah pemantauan berkala; pengobatan masih belum diperlukan. Jika gejalanya mulai tampak memburuk, kelebihan cairan dapat dikeluarkan. Namun, jika efusi disebabkan oleh perikarditis, pengobatannya akan mencakup:

  • Obat anti radang non steroid atau NSAID termasuk Motrin, Indocin, atau Aleve
  • Kolkisin
  • Kortikosteroid seperti prednison atau Solu-Medrol

Dalam kasus parah di mana terdapat infesi serius, gangguan jantung, atau tamponade jantung, kelebihan cairan harus dikeluarkan secepatnya. Ada dua cara untuk melakukannya:

  • Perikardiosentesis – Serupa dengan tindakan yang digunakan untuk mengambil sampel cairan perikardium, perikardiosentesis yang juga dapat digunakan untuk menguras atau mengeluarkan cairan berlebih pada perikardium, dan menyisakan jumlah yang semestinya.

  • Perikardiektomi atau jendela perikardial – Tindakan ini dilakukan dengan membuat sayatan pada dada untuk memungkinkan dokter bedah mencapai dan memotong bagian perikardium tertentu. Tindakan ini tidak hanya efektif untuk menguras cairan berlebih namun juga dalam mencegahnya muncul kembali. Namun, tindakan ini adalah tindakan utama dengan risiko yang lebih tinggi dari perikardiosentesis dan membutuhkan penggunaan bius total.


Rujukan:

  • LeWinter MM, Tischler MD. Pericardial diseases. In: Bonow RO, Mann DL, Zipes DP, Libby P, eds. Braunwald’s Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 9th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2011:chap 75
Bagikan informasi ini: