Apa itu Syok Kardiogenik?

Syok kardiogenik adalah kondisi medis mengancam jiwa yang terjadi saat jantung rusak parah sehingga tidak mampu untuk memompa darah yang bagian tubuh lainnya. Penurunan kemampuan jantung mengakibatkan berkurangnya pasokan oksigen dan nutrisi ke organ vital, termasuk otak, jantung, dan paru-paru. Jika aliran darah normal ke tubuh tidak segera kembali, maka sel dan jaringan akan mulai mati, dan banyak organ akan berhenti berfungsi.

Meskipun sangat jarang, syok kardiogenik tetap menjadi penyebab kematian yang paling umum pada pasien infark miokard akut. Tanpa akses terhadap perawatan medis yang agresif, tingkat kematiannya bisa mencapai 80 - 90%. Kunci untuk meningkatkan hasil pengobatan adalah dengan segera mengembalikan kemampuan jantung untuk berkontraksi dengan mengkonsumsi obat dan menjalani prosedur medis tertentu.

Syok kardiogenik memiliki angka kesakitan, kematian, dan kecacatan yang tinggi. Hanya 10 - 20% pasien yang bertahan dalam kondisi ini, banyak yang gagal mendapatkan kembali fungsi jantung secara normal dan ada juga yang cacat permanen.

Penyebab Syok Kardiogenik

Syok kardiogenik biasanya terjadi pada saat ventrikel kiri rusak atau melemah, ini juga bisa terjadi pada ventrikel kanan, namun jarang. Saat hal ini terjadi, kapasitas jantung memompa darah berkurang. Kerusakan pada ventrikel kiri bisa melemahkan otot jantung dan menyebabkan gagal jantung. Di sisi lain, kerusakan pada ventrikel kanan dapat mencegah jantung memompa darah ke paru-paru.

Syok kardiogenik juga bisa disebabkan oleh:

  • Miokarditis, atau pembengkakan otot jantung

  • Aritmia berbahaya, seperti takikardia ventrikel, fibrilasi ventrikel, dan takikardia supraventrikular.

  • Tamponade perikardial - Kondisi yang ditandai dengan adanya jumlah darah atau cairan yang berlebihan di sekitar jantung yang mencegah otot jantung memompa dengan benar.

  • Embolisme paru - Mengacu pada penyumbatan tiba-tiba arteri paru-paru akibat gumpalan darah

  • Endokarditis atau infeksi katup jantung

  • Pecahnya tendon ataupun otot yang mendukung katup jantung atau dinding di antara bilik jantung bagian bawah

Faktor yang bisa meningkatkan risiko syok kardiogenik seseorang antara lain:

  • Penyakit jantung koroner (CHD)

  • Diabetes

  • Tekanan darah tinggi

  • Riwayat serangan jantung atau gagal jantung

  • Usia tua

Syok kardiogenik dapat dihindari dengan menurunkan risiko terkena serangan jantung, yang dapat dicapai dengan:

  • Berolahraga secara teratur

  • Merubah gaya hidup, seperti berhenti merokok dan mengonsumsi makanan sehat yang rendah lemak jenuh dan kolesterol

  • Menjaga tekanan darah tinggi dan mengkontrol diabetes

  • Menjaga berat badan ideal

  • Mengelola stres fisik dan emosional

Gejala Utama Syok Kardiogenik

Gejala syok kardiogenik mulai terlihat saat organ vital, termasuk otak, paru-paru, hati, dan ginjal mengalami malfungsi karena mereka tidak memiliki cukup pasokan oksigen dan nutrisi.

Gejala ini meliputi:

  • Denyut nadi yang lemah

  • Detak jantung yang tidak normal

  • Perubahan kondisi mental

  • Cemas

  • Sakit dada

  • Koma

  • Urine sedikit atau tidak keluar

  • Kelelahan

  • Hiperventilasi

  • Sulit berkonsentrasi atau kurang kewaspadaan

  • Sakit kepala ringan

  • Tekanan darah rendah

  • Kulit pucat

  • Edema paru

  • Napas cepat dan detak jantung

  • Berkeringat

Orang yang menderita syok kardiogenik juga sering menunjukkan gejala serangan jantung, di antaranya:

  • Rasa nyeri di dada yang biasanya menyebar ke rahang, punggung, bahu, dan lengan

  • Meningkatnya nyeri dada

  • Sakit yang berkepanjangan di perut bagian atas

  • Merasa sangat lelah tanpa alasan, seringkali beberapa hari sebelum serangan jantung

  • Mual dan muntah

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Syok kardiogenik adalah kondisi medis yang mengancam jiwa yang memerlukan perawatan medis segera. Biasanya, petugas medis darurat akan menghubungkan pasien ke ventilator dan segera memberi pasien aspirin setelah tiba di tempat kejadian atau segera mencapai bagian unit gawat darurat. Tujuan utama perawatan darurat adalah untuk meningkatkan tingkat oksigen tubuh dan menghilangkan bekuan darah yang mungkin menyumbat aliran darah ke arteri. Obat lain, seperti trombolitik, superaspirin, agen inotropik, dan obat pengencer darah lainnya juga sering diberikan.

Syok kardiogenik dapat didiagnosis dengan menggunakan tes dan prosedur berikut:

  • Elektrokardiogram (EKG) - Tes ini digunakan untuk mendeteksi kelainan pada aktivitas listrik jantung dan tanda-tanda kerusakan jantung yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner.

  • Angiografi koroner - Tes yang menggunakan rontgen khusus untuk mendeteksi penyumbatan di arteri koroner.

  • Tes darah - Ketika otot jantung mati karena serangan jantung yang parah, protein tertentu dilepaskan ke aliran darah. Protein tersebut dapat dideteksi dan diukur dengan tes darah.

  • Rontgen dada - Digunakan untuk mengetahui apakah kondisinya disebabkan oleh tamponade perikardial dan apakah ada perubahan struktural pada jantung dan pembuluh darahnya.

Pengobatan

  • Pengobatan - Pasien sering diberikan obat untuk mengurangi risiko pembekuan darah (aspirin dan superaspirin), melarutkan gumpalan darah yang ada (trombolitik), dan memperbaiki fungsi jantung (agen inotropik).

  • Angioplasti dan stenting - Ini adalah prosedur invasif minimal yang bertujuan untuk memperlebar arteri yang tersumbat menggunakan kateter dengan balon di ujungnya. Untuk prosedur ini, tabung tipis dan fleksibel (kateter) diulirkan melalui sayatan kecil atau tusukan di selangkangan atau lengan ke arteri yang tersumbat. Kemudian, balon ini dikembangkempiskan beberapa kali sampai penyumbatan telah terlepas. Jika arteri rusak tidak bisa diperbaiki, operasi bypass arteri koroner dilakukan. Ini melibatkan penggunaan pembuluh darah dari area lain dari tubuh untuk memotong arteri jantung yang menyempit.

  • Pembedahan - Jika kondisinya disebabkan adanya sobekan di tendon atau otot yang mendukung jantung atau di dinding antara ruang jantung bagian bawah, maka dapat dilakukan operasi terbuka tradisional untuk melakukan perbaikan yang diperlukan.

  • Transplantasi jantung - Jantung yang rusak parah dapat diangkat dan diganti dengan jantung yang sehat, biasanya dari orang yang telah menderita cedera otak ireversibel atau otaknya sudah mati. Namun, jantung yang tersedia tidak cukup banyak untuk semua orang yang menjalani prosedur ini. Dengan demikian, kandidat harus menjalani proses seleksi yang menentukan urgensi dari kondisi mereka dan risiko kematian mereka jika mereka segera menerima jantung baru. Bila semua seleksi sudah dipertimbangkan, transplantasi jantung dapat meningkatkan kesempatan sembuh pasien yang terkena syok kardiogenik. Tingkat kelangsungan hidup rata-rata satu tahun untuk pasien transplantasi jantung adalah 85%.

Rujukan:

  • Hollenberg S. Cardiogenic shock. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman’s Cecil Medicine. 25th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2016:chap 107.

  • Gheorghiade M, Filippatos GS, Felker GM. Diagnosis and management of acute failure syndromes. In: Bonow RO, Mann DL, Zipes DP, Libby P, eds. Braunwald’s Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 9th ed. Philadelphia, Pa: Saunders; 2011:chap 27.

  • What is a cardiogenic shock? National Heart, Lung, and Blood Institute. http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/Diseases/shock/shock_what.html.

Bagikan informasi ini: