Apa itu Cedera Kaki?

Kaki adalah bagian tubuh yang paling rentan mengalami tegang otot, dan nantinya tegang otot ini dapat menyebabkan cedera kaki, yang dapat terjadi pada semua bagian kaki, misalnya jari kaki, pergelangan kaki, atau telapak kaki. Walaupun sebagian besar cedera kaki akan menyebabkan nyeri dan pembengkakan, serta dapat sembuh dengan sendirinya, beberapa cedera dapat berkembang atau memburuk dan menyebabkan gejala lain, seperti pendarahan atau infeksi. Oleh karena itu, setiap cedera kaki akan ditangani dengan metode yang berbeda, tergantung pada penyebab, gejala, dan tingkat keparahannya.

Penyebab Cedera Kaki

Cedera kaki dapat disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya:

  • Kecelakaan
  • Kelelahan
  • Pemakaian berlebihan
  • Pemakaian jenis alas kaki yang salah
  • Sepatu yang tidak pas
  • Olahraga
  • Aktivitas kerja
  • Usia tua

Kebanyakan atlet, terutama atlet senam, pemain basket, pemain bola, dan penari adalah yang paling berisiko terkena cedera kaki, diikuti dengan orang tua yang kekuatan tulang dan massa ototnya telah berkurang.

Gejala Utama Cedera Kaki

Cedera kaki dapat memberikan efek yang berbeda pada setiap orang dan menyebabkan gejala yang beragam. Gejala cedera kaki cenderung beragam, tergantung pada jenis cedera, akut atau kronis.

Cedera akut dapat menyebabkan:

  • Memar atau lebam
  • Cedera ligamen
  • Cedera tendon atau kerusakan tendon Achilles
  • Keseleo atau cedera sendi
  • Ketegangan otot atau otot yang tertarik
  • Patah tulang
  • Dislokasi atau saat tulang berpindah posisi
  • Luka tusuk – Luka tusuk disebabkan oleh benda tajam seperti paku, pisau, jarum, dan lain-lain. Luka ini dikategorikan sebagai cedera yang lebih serius karena berisiko menyebabkan infeksi, terutama bila disebabkan oleh benda tajam yang kotor atau berkarat. Luka yang terbuka juga menyebabkan bakteri lebih mudah masuk ke tubuh.
  • Sindrom kompartemen akibat cedera yang meningkatkan tekanan dalam tubuh.

Cedera kronis atau cedera yang terjadi seiring berjalannya waktu akibat penggunaan kaki yang berlebihan atau penggunaan kaki hingga kelelahan dapat menyebabkan kondisi berikut:

  • Plantar fasciitis atau ketika plantar fascia, ligamen datar yang ada di bagian bawah kaki, mengalami peradangan dan menyebabkan nyeri di lengkungan kaki
  • Metatarsalgia atau ketika bagian depan kaki terasa sakit
  • Patah tulang akibat tekanan atau keretakan tulang
  • Achilles tendinitis atau ketika ada kerusakan pada jaringan halus di sekitar tendon Achilles
  • Tendinosis atau tendinopati
  • Retrocalcaneal bursitis atau ketika bursa mengalami peradangan, menyebabkan nyeri pada pergelangan kaki dan bagian belakang tumit, terutama saat digunakan melakukan aktivitas tertentu

Siapa yang Harus Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Cedera ringan biasanya akan sembuh dengan sendirinya dan tidak membutuhkan pengobatan dari dokter. Biasanya, metode pengobatan rumah saja sudah dapat menghentikan gejala cedera dan mempercepat proses penyembuhan alami tubuh. Namun, perbedaan cedera kaki yang dapat sembuh tanpa pengobatan dan cedera kaki yang membutuhkan pertolongan medis sangatlah tipis. Pasien harus mengetahui kapan mereka harus melakukan pengobatan di rumah dan kapan mereka harus menemui dokter. Apabila cedera terlihat parah, sebaiknya dilakukan pertolongan pertama kemudian menemui dokter.

Pengobatan cedera kaki yang terbaik sangat bergantung pada keparahan cedera, namun juga dipengaruhi oleh letak cedera, penyebab dan kapan cedera terjadi, usia dan kondisi pasien, dan aktivitasnya.

Cedera ringan dapat ditangani dengan tindakan pertolongan pertama, seperti memasang brace (alat penguat kaki), gips, atau splint (bidai) agar kaki tetap kuat dan cedera tidak bertambah parah, sedangkan cedera kaki yang serius kemungkinan akan membutuhkan alat bantu tiruan, terapi fisik, obat penghilang rasa sakit, atau operasi. Pengobatan tersebut akan dilakukan oleh ahli kesehatan yang memiliki keahlian khusus dalam ortopedi dan terapi fisik.

Tindakan pertolongan pertama meliputi:

  • Mengendalikan pendarahan
  • Melepas semua perhiasan sebelum pembengkakan memburuk
  • Melepaskan kaki yang terjepit
  • Memasang perban pada bagian tubuh yang terkena cedera
  • Menggunakan metode rest, ice, compression, elevation atau R.I.C.E untuk menyembuhkan nyeri dan pembengkakan
  • Melindungi kulit dengan bantalan yang empuk seperti flanel atau busa
  • Membersihkan luka pada kulit
  • Melancarkan peredaran darah dengan memijat secara perlahan bagian kaki yang cedera. Lakukan hal ini apabila pemijatan tidak menimbulkan rasa sakit

Saat sedang dalam masa pemulihan cedera kaki, sebaiknya Anda tidak melakukan aktivitas yang dapat memperburuk pembengkakan, seperti mandi air panas, mengompres dengan hot pack (kantong panas) atau alkohol. Ketika pembengkakan sudah hilang, menggerakkan kaki secara perlahan dapat membantu mengembalikan kekuatan dan kelenturan kaki. Latihan kaki yang dilakukan harus sesuai dengan proses MSA, yaitu movement (pergerakan), strength (kekuatan), dan alternate (alternatif).

  • Latihan pergerakan dapat membantu mengembalikan kemampuan pergerakan kaki sepenuhnya secepat mungkin dan mempersingkat waktu istirahat akibat cedera.

  • Latihan kekuatan dapat memperkuat bagian kaki yang mengalami cedera, namun latihan ini hanya boleh dilakukan ketika kaki sudah tidak bengkak dan dapat bergerak dengan normal.

  • Latihan alternatif berarti melakukan latihan, aktivitas, atau olahraga biasa tanpa menarik bagian kaki yang cedera. Saat nyeri sudah sembuh sepenuhnya, latihan keseimbangan dan pengendalian dapat ditambahkan ke rangkaian pelatihan.

Jenis latihan lainnya meliputi:

  • Latihan range-of-motion – Latihan ini dapat langsung dilakukan setelah kaki Anda mengalami cedera dan masih dikompres dengan es. Bahkan hanya dengan meletakkan kaki Anda di lantai dan menggerakkan lutut ke kanan dan kiri secara perlahan dapat membantu.

  • Latihan peregangan – Latihan ini harus dilakukan dalam waktu 72 jam setelah cedera, dan harus dipusatkan pada tendon Achilles. Latihan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti peregangan handuk atau betis. Peregangan dengan handuk adalah latihan yang sesuai bagi pasien yang tidak dapat berdiri; latihan ini dilakukan dengan melilitkan handuk di sekitar bagian depan kaki dan menarik handuk ke atas selama 30 detik sampai betis mulai meregang. Sedangkan peregangan betis hanya boleh dilakukan ketika pasien sudah dapat berdiri tanpa bantuan. Dalam latihan ini, Anda akan berdiri menghadap ke tembok dan meletakkan tangan di tembok sejajar dengan bahu Anda, kemudian meletakkan kaki Anda yang cedera di belakang kaki yang satunya sembari meletakkan tumit di lantai. Kemudian, pasien harus menekuk lutut depan sampai betis kaki yang belakang mulai tertarik. Kedua latihan peregangan ini harus dilakukan beberapa kali setiap hari sampai cedera benar-benar sembuh.

Apabila cedera kaki tidak membaik dengan perawatan rumah atau tidak ada peningkatan yang terlihat, sebaiknya Anda mencari pertolongan medis. Saat mempersiapkan diri menemui dokter, pasien harus mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tentang gejala, penyebab cedera, gangguan akibat cedera, dan pengobatan awal yang telah dilakukan.

Seperti cedera lainnya, cedera kaki lebih baik dicegah daripada ditangani. Beberapa cara untuk mencegah cedera kaki antara lain adalah:

  • Menggunakan alas kaki yang paling sesuai dan paling nyaman
  • Sering mengganti sepatu lari
  • Menggunakan alat bantu penguat kaki atau melindungi kaki dan pergelangan kaki ketika melakukan aktivitas yang berat
  • Sering menggerakkan kaki


Rujukan:

  • Abu-Laban RB, Rose NGW. Ankle and foot. In: Marx JA, Hockberger RS, Walls RM, eds. Rosen’s Emergency Medicine: Concepts and Clinical Practice. 8th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2014:chap 58.

  • LeCursi N. Sports shoes and orthoses. In: Miller MD, Thompson SR, eds. DeLee and Drez’s Orthopaedic Sports Medicine. 4th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2015:chap 115.

  • Molloy A, Selvan D. Ligamentous Injuries of the Foot and Ankle. In: Miller MD, Thompson SR, eds. DeLee and Drez’s Orthopaedic Sports Medicine. 4th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2015:chap 116.

Bagikan informasi ini: