Apa itu Cedera Okupasional

Cedera okupasional atau cedera pekerjaan adalah bahaya dalam pekerjaan yang dapat menyebabkan kondisi fatal maupun non-fatal. Ada banyak penyebab dari jenis cedera semacam ini, dari penggunaan otot muskuloskeletal atau persendian yang berlebihan atau kurangnya pelatihan dan orientasi.

Menurut data dari Centers for Disease Prevention and Control (CDC), lebih dari 4,000 pekerja di Amerika Serikat meninggal pada tahun 2012 dan lebih dari 3,8 juta dari sektor publik dan swasta mengalami cedera okupasional non-fatal pada tahun yang sama. Pada tahun sebelumnya, 2011, setidaknya dua juta pekerja sempat masuk unit gawat darurat, dan lebih dari 100.000 di antaranya perlu dirawat di rumah sakit.

Cedera okupasional telah menjadi masalah yang signifikan dalam kebijakan ekonomi dan ketenagakerjaan karena kebijakan tersebut berpengaruh besar dalam segi pembangunan suatu negara, selain juga dari masalah kesehatan pekerja. Menurut laporan yang dipublikasikan pada tahun 2011 di Millbank Quarterly, cedera okupasional menghabiskan biaya hingga 192 juta dolar bagi Pemerintah Amerika Serikat setiap tahunnya, yang berasal dari biaya langsung seperti layanan kesehatan, dan biaya tidak langsung seperti kehilangan gaji dan produktivitas. Kemudian, pada tahun 20114, nilai dari DART (jumlah hari tidak bekerja, pemindahan pekerjaan, atau larangan bekerja) mencapai 1.7% (3 juta pekerja) pada tahun 2014.

Penyebab Cedera Okupasional

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh National Health Institutes (NHI) tentang cedera okupasional yang melibatkan lebih dari 2,000 pekerja, kemunginkan paling tinggi dari cedera yang dialami adalah tempat bekerja itu sendiri. Beberapa penyebab yang umum adalah:

  • Bagian dari perhiasan atau baju yang tersangkut ke mesin, yang membuat bagian tubuh menjadi ikut tersangkut dan membuat pekerja menderita cedera parah.
  • Mesin dengan bagian yang liar meledak tiba-tiba.
  • Mesin atau perlengkapan kerja yang tidak dipelihara dan dirawat oleh pemakainya, yang meningkatkan resiko perlengkapan tersebut melukai pemakainya.
  • Karyawan yang menggunakan mesin tertentu berbuat kesalahan yang tidak disengaja, seperti menaruh tangannya pada mesin.
  • Rambut panjang seseorang yang tertarik ke mesin yang sedang bekerja
  • Beban berat yang tidak sengaja terjatuh, yang dapat menyebabkan cedera trauma tumpul serius di kepala

Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa cedera okupasional juga dapat diakibatkan oleh:

Tingkat ergonomis rendah – Occupational Safety and Health Administration (OSHA) mendefinisikan ergonomis sebagai “kesesuaian pekerjaan dengan seseorang”, yang tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi dan di sisi lain juga mengurangi cedera tubuh, terutama di sistem muskuluskeletal (sistem gerak tubuh), seperti punggung dan persendian. Namun, Buerau of Labor and Statistics menyebut bahwa gangguan muskuloskeletal (MSDs) menyumbang lebih dari 30% dari semua cedera okupasional yang tercatat selama tahun 2011. Tingkat ergonomis yang rendah mungkin berasal dari tempat kerja yang memberikan postur yang buruk, kebiasaan duduk atau berdiri dalam waktu lama, dan pergerakan repetitif (seperti meng-klik tetikus atau mengetik pada keyboard, yang dapat membuat pergelangan tangan menjadi tegang.

Faktor lingkungan – Resiko cedera juga dapat bertambah dari lingkungan tempat seseorang bekerja. Salah saktu faktornya adalah akses untuk menghirup oksigen, tingkat temperatur yang bervariasi, radiasi, kekuatan struktural dari bangunan tempat bekerja, keberadaan objek yang tajam, bagian yang basah di tempat kerja, penggunaan material mudah terbakar, ketinggian tempat kerja, kelistirkannya, dan tingkat kebersihannya.

Kebijakan manajemen – Kebijakan pekerjaan juga dapat memberikan efek dalam cedera yang dapat dialami pekerja, dan meskipun kebijakan bukanlah penyebab, tetapi bisa menjadi faktor risiko. Kebijakan yang berpengaruh di antaranya:

  • Mempekerjakan pekerja yang belum berpengalaman.
  • Kurangnya orientasi dan pelatihan yang diperlukan bagi pekerja, seperti bagaimana cara mengoperasikan permesinan yang baru dengan aman.
  • Tidak adanya sistem kontrol untuk memastikan lingkungan tempat kerja menjadi kondusif untuk kesehatan dan keamanan pekerja (contohnya, tempat yang terlalu banyak cahaya terang dapat meningkatkan kelelahan mata karena cahaya yang menyilaukan.
  • Program preventif yang lemah.
  • Program pekerja yang tidak sesuai standar atau tidak mengikuti arahan dari OSHA.
  • Metode pembuangan limbah yang buruk (terutama untuk limbah yang berbahaya).


Beberapa faktor risiko lainnya adalah :

Usia – Menurut penelitian NHI, cedera okupasional lebih umum ditemukan pada pekerja yang di golongan usia 19-24 tahun.

Jenis kelamin – Laki-laki lebih rentan mengalami cedera okupasional, terutama yang menyebabkan kematian, dibandingkan wanita.

Jenis Industri – Data temuan BLS mengungkapkan bahwa industri transportasi dan pergudangan, agrikultur dan perikanan, pemerintahan, dan layanan profesional memiliki jumlah kasus kecelakaan kerja fatal yang paling tinggi, meskipun nilainya (jika dibandingkan dengan populasi pekerja secara keseluruhan), jenis industri yang menduduki peringkat lima teratas adalah industri agrikultur dan perikanan, pertambangan, transportasi, konstruksi, dan perdagangan grosir.

Gejala Utama

  • Rasa sakit pada persendian
  • Adanya patah tulang
  • Pergerakan yang terbatas
  • Kehilangan kemampuan untuk mendengar
  • Reaksi alergi atau asma
  • Cedera punggung, terutama di bagian punggung bawah (lumbar)
  • Penyakit jantung ischemich
  • Disorientasi
  • Pandangan yang kabur


Gejala yang dialami pada cedera okupasional dapat bervariasi (dan beberapa pekerja bahkan langsung mati seketika). Kemudian, cedera yang dialami disebut sebagai bahaya atau resiko okupasional, pekerja harus langsung mengetahui gejala yang diakibatkan oleh cedera saat bekerja. Misalnya, kehilangan kemampuan untuk mendengar seharusnya terjadi karena berisiknya suara yang ada di tempat kerja atau jika pekerja mengalami disorientasi disebabkan oleh cedera trauma tumpul pada kepala setelah kejatuhan benda berat dari tempat yang tinggi.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Perawatan yang Tersedia

Berbagai ahli kesehatan dapat memberikan pelayanan medis yang diperlukan dan juga perawatan untuk pasien yang mengalami cedera okupasional . Dokter umum dapat memberikan diagnosis beberapa kondisi yang umum seperti asma atau kesulitan bernapas. Sementara itu, dokter spesialis di bidang ortopedi, otolaringologi, dan THT (telinga, hidung, tenggorokan) mungkin diperlukan jika pasien diberikan referensi. Dalam beberapa kasus, dokter bedah juga dapat ditemui untuk diagnosis dan perawatan. Terlepas dari dokter yang menangani, penting bagi penyedia layanan kesehatan untuk memiliki pengetahuan yang cukup dalam memberikan diagnosis dan perawatan cedera dan penyakit yang dipengaruhi tempat kerja, baik langsung maupun tidak langsung.

Perawatan untuk cedera okupasional sangat dipengaruhi oleh kondisi aktual pasien, tingkat keparahan cederanya, sebarapa banyak pasien terpapar oleh penyebabnya, dan rekam medis serta riwayat penyakit keluarga pasien. Misalnya, segala jenis patah tulang akan membutuhkan pembedahan, sedangkan MSDs dapat ditangani dengan terapi okupasional dan terapi fisik.

Dorongan dari industri pubilk dan swasta, juga dari pemerintah, adalah pencegah dari terjadinya cedera okupasional. OSHA terus memperbarui pedomannya dan melakukan audit atau pemeriksaan berbagai bisnis di Amerika Serikat. OSHA juga membantu perusahaan dalam membentuk program bagi para karyawan yang sesuai dengan pedoman dan standar dari OSHA.

Beberapa elemen dasar yang diberikan oleh OSHA adalah :

  • Partisipasi aktif dari para pekerja untuk masalah kesehatan dan kemanan mereka sendiri
  • Kepemimpinan manajemen
  • Identifikasi dan penilaian resiko
  • Pelatihan dan Pendidikan yang diperlukan
  • Evaluasi teratur dan peningkatan dari program



Rujukan:

  • Centers for Disease Prevention and Control
  • National Health Institutes (NHI)
  • Occupational Safety and Health Administration
  • Bureau of Labor and Statistics
Bagikan informasi ini: