Apa itu Gangguan Disk Serviks?

Disk serviks adalah organ berbentuk seperti cakram yang berisi cairan dan berada di antara serviks tulang belakang. Disk ini berfungsi sebagai peredam kejut. Untuk lebih memahami mengenai gangguan disk serviks, maka penting untuk mengetahui bagaimana tulang belakang bekerja.

Tulang belakang terdiri dari 33 susunan tulang. Tulang-tulang ini ditumpuk di atas yang lain. Di antara setiap tulang terdapat disk yang berfungsi untuk mencegah setiap tulang saling bergesekkan satu sama lain. Enam dari disk tersebut ditemukan di tulang belakang leher. Disk tersebut memungkinkan leher untuk menopang berat dan memungkinkan kepala untuk bergerak serta memutar 180 derajat.

Disk tulang belakang memiliki semacam jeli yang lembut di bagian dalam dan keras pada bagian luar. Sekitar 80-85% bagiannya merupakan air. Jika jumlah air berkurang (seringkali karena penuaan), disk menipis. Hal ini bisa membuat disk lebih rentan mengalami kerusakan dan bisa menyebabkan hernia. Selain itu, disk juga bisa pecah, sehingga jeli lembut di dalamnya keluar.

Gangguan disk serviks biasanya disebabkan oleh keausan yang disebabkan oleh hal normal, seperti penuaan. Penyakit ini bisa berkembang sangat lambat, sdalam rentang waktu bertahun-tahun. Tapi penyakit ini juga bisa terjadi tiba-tiba, jika leher mengalami cedera traumatis.

Penyebab Gangguan Disk Serviks

Banyak kasus gangguan disk serviks disebabkan oleh proses penuaan alami. Seiring bertambahnya usia, disk tulang belakangnya menjadi semakin tipis. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap sejumlah kelainan, seperti:

  • Penyakit disk degeneratif - Kelainan ini mulai berkembang bila jumlah air di dalam disk berkurang. Hal ini menyebabkan disk menjadi semakin tipis. Sehingga, memicu runtuhnya susunan tulang. Hal ini dapat mengarah pada terjadinya kompresi sumsum tulang belakang.

  • Stenosis serviks tulang belakang, atau penyempitan saluran tulang belakang di leher. Hal ini paling sering terjadi pada orang berusia 50 tahun ke atas.

  • Osteoartritis servikal, atau degenerasi tulang rawan dan tulang leher.

Penyebab lain dari gangguan disk serviks adalah luka traumatis pada leher dan rheumatoid arthritis (RA). RA merupakan penyakit autoimun. Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang organ, jaringan, dan persendian yang sehat.

Gejala Gangguan Disk Serviks

Tanda-tanda gangguan disk serviks adalah:

  • Permasalahan mengontrol kandung kemih atau inkontinensia. Hal ini terjadi apabila ada tekanan pada sumsum tulang belakang

  • Mobilitas yang terganggu

  • Kelelahan

  • Kehilangan fungsi persendian

  • Kejang otot

  • Sakit leher yang memengaruhi lengan dan tangan.

  • Mati rasa pada kaki atau kaki menjadi lemah.

  • Kekakuan yang memburuk seiring berjalannya waktu.

  • Pembengkakkan

  • Sensasi geli di leher, bahu, lengan, dan tangan.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Gangguan disk serviks biasanya ditangani oleh dokter spesialis tulang. Untuk mendiagnosa gangguan tersebut dan menentukan pengobatan terbaik untuk pasien, dokter akan:

  • Meninjau riwayat kesehatan pasien.

  • Menilai tingkat keparahan gejala.

  • Melakukan pemeriksaan neurologis. Ini membantu menilai perkembangan kondisi.

  • Melakukan tes pencitraan (seperti MRI dan CT scan) - Ini digunakan untuk memvisualisasikan sumsum tulang belakang. Hasil tes ini membantu dokter mengidentifikasi disk yang telah rusak.

Pilihan pengobatan untuk gangguan disk serviks adalah:

  • Pengelolaan rasa sakit - Sebagian besar pasien dengan gangguan disk serviks mengeluhkan nyeri leher. Ini bisa diobati dengan obat penghilang rasa sakit yang dberikan secara oral. Pada kasus yang lebih parah, steroid oral atau pelemas otot dapat digunakan. Pasien juga memiliki pilihan untuk medapatkan suntikan epidural pada serviks.

  • Manipulasi manual - Ini melibatkan penerapan kekuatan manual pada bagian leher yang terkena efek gangguan disk serviks. Ini bisa digunakan untuk meningkatkan mobilitas. Hal ini juga dapat melonggarkan jaringan ikat, sendi, atau otot ikat yang terbatas.

  • Terapi Fisik (TF) - TF melengkapi perawatan gangguan disk serviks yang lain. Terapi ini berfokus untuk membantu pasien meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas leher.

Sementara itu, prosedur pembedahan dianjurkan jika:

  • Terapi non-bedah telah gagal mengobati atau mengatasi gejala.

  • Pasien menderita gejala neurologis yang dapat mencegah mereka melakukan aktivitas kesehariannya.

  • Pasien telah kehilangan kontrol usus atau juga mengalami kesulitan berjalan.

  • Hasil tes diagnostik menunjukkan bahwa pasien berisiko mengalami kerusakan saraf permanen.

Prosedur pembedahan yang digunakan untuk mengobati gangguan disk servis adalah:

  • Diskektomi dan fusi servikal belakang (ACDF) - ACDF dilakukan untuk mengeluarkan disk serviks yang rusak. Ruang cakaramnya kemudian diisi dengan tulang yang dicangkok. Kemudian, tulang tersebut ditahan dengan menggunakan pelat, batang, dan sekrup. ACDF digunakan untuk mengobati tulang yang menonjol keluar, degenerasi disk, dan disk hernia.

  • Cervical disc replacement (CDR) - Prosedur ini dilakukan untuk menghilangkan dan mengganti disk yang berpenyakit dengan disk buatan. Disk buatan terbuat dari kobalt atau titanium. Ini terdiri dari dua lapisan yang yang dapat bergerak dan bergeser.

Kedua prosedur di atas dilakukan dengan bius total dan membutuhkan sayatan di bagian depan leher.

Setelah dibedah, pasien akan merasakan sakit atau perasaan tidak nyaman selama beberapa minggu. Jadi, mereka akan diberi obat penghilang rasa sakit. Aktivitas mereka juga menjadi terbatas sampai mereka benar-benar pulih. Pasien harus kembali ke dokter mereka enam minggu setelah prosedur pembedahan. Dokter akan mengambil gambar rontgen untuk melihat proses penyembuhan tulang. Selain itu, pasien juga harus menjalani terapi fisik dengan didampingi terapis fisik yang akan membantu mereka memperkuat otot leher dan punggung bagian atas. Proeses ini akan mempercepat penyembuhan leher.

Rujukan:

  • Rhee JM, Yoon T, Riew KD. Cervical radiculopathy. J Am Acad Orthop Surg. 2007; 15(8): 486-94.

  • McCormick, M. T., Robinson, H. K., Bone, I., McLean, A. N., & Allan, D. B. (2007). Blunt cervical spine trauma as a cause of spinal cord injury and delayed cortical blindness. Spinal Cord.

Bagikan informasi ini: