Apa itu Fraktur Serviks?

Fraktur serviks adalah istilah yang merujuk pada fraktur atau patah pada leher. Ini merupakan kondisi ortopedis yang muncul ketika vertebra pada bagian serviks tulang belakang patah atau bergeser karena trauma parah seperti kecelakaan motor atau cedera olahraga berdampak tinggi. Kondisi ini sering terjadi karena serviks adalah bagian kolom tulang belakang yang paling banyak bergerak dan rentan terhadap cedera.

Serviks tulang belakang tediri dari tujuh segmen tulang vertebra yang dihubungkan oleh sendi facet. Dua bagian paling atas disebut segmen C1 dan C2, keduanya bertanggung jawab untuk pergerakan tengkorak kepala. Segmen C1 adalah penopang utama tengkorak kepala dan memungkinkannya bergerak memutar. Sedangkan segmen C2 memungkinan kepala serta leher berputar dan juga bergerak maju dan mundur. Namun, sekitar 50% fraktur serviks terjadi pada segmen C6 dan C7, dan hanya 25% yang terjadi pada segmen C2. Kebanyakan fraktur serviks bertaraf ringan hingga sedang. Akan tetapi, jika segmen C1 dan C2 yang patah atau bergeser, maka dianggap serius dengan potensi fatal yang tinggi.

Cedera apapun pada serviks tulang belakang dapat membawa konsekuensi yang parah karena saraf tulang belakang menghubungkan tubuh ke otak. Dalam kasus parah, kondisi ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen dari leher ke bawah atau bahkan kematian.

Penyebab Fraktur Serviks

Sering ditemukan bahwa fraktur serviks atau leher disebabkan oleh trauma yang cukup kuat hingga bisa mematahkannya. Trauma tersebut, antara lain:

  • Locat ke air yang dangkal

  • Terjatuh

  • Olahraga non-kontak seperti gimnastik, selancar, angkat beban, ski, sepeda gunung, dan motor balap

  • Trauma tusuk pada leher

  • Pukulan berat pada leher atau kepala

  • Olahraga yang melibatkan kontak fisik dengan kekerasan, termasuk gulat, sepak bola, hoki es, dan rugby, antara lain

  • Leher terpelintir secara mendadak

  • Tabrakan kendaraan

  • Cedera yang berhubungan dengan pekerjaan

Setiap trauma mendadak atau yang memelintir leher dapat mematahkan atau mengeser vertebra pada bagian serviks. Ini mengakibatkan kerusakan parah dan tidak dapat disembuh, tidak hanya pada saraf tulang belakang tapi juga struktur saraf lainnya.

Gejala Utama Fraktur Serviks

Fraktur serviks atau leher dapat memicu gejala yang berbeda tergantung tingkat keparahannya. Termasuk:

  • Berkurangnya sensasi pada lengan dan kaki

  • Pergerakan leher terbatas

  • Nyeri terlokalisasi dan kekakuan

  • Nyeri otot

  • Cedera dan melemahnya anggota gerak tubuh, jika saraf tertekan atau mengalami iritasi

  • Nyeri menyeluruh

  • Pembengkakan dan memar

  • Lumpuh temporer atau permanen dari leher ke bawah

  • Hilangnya fungsi usus atau kandung kemih

  • Hilangnya refleks tendon dalam

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Perawatan yang Tersedia

Fraktur serviks atau leher menjadi kecurigaan saat seseorang terlibat kecelakaan atau trauma. Untuk memastikannya, prosedur diagnosis seperti pemeriksaan klinis dan radiologi perlu dilakukan. Di antaranya:

  • Rontgen pada tulang belakang leher - Rontgen adalah tes pencitraan yang berguna yang sering digunakan di bidang ortopedi untuk memeriksa struktur tulang termasuk tulang belakang. Dengan menggunakan dosis radiasi pengion yang sangat kecil, rontgen dapat menunjukkan fraktur serviks dan lokasinya dengan tepat. Tes ini aman untuk anak-anak dan orang dewasa.

  • CT Scan (CT) - Dalam beberapa kasus, patah tulang tanpa pergeseran atau pergeseran minimal displaced tidak terdeteksi oleh rontgen biasa. Jika hasil rontgen tidak menunjukkan fraktur secara jelas, namun pasien menunjukkan beberapa gejala, dokter mungkin meminta pasien menjalani CT scan. Tes ini menggabungkan teknologi komputer dan sinar X untuk menghasilkan gambar tubuh yang lebih rinci.

  • Rontgen fleksibel atau ekstensi - Digunakan untuk mendeteksi ketidakstabilan ligamen. Tidak seperti rontgen biasa yang menghasilkan gambar statis, rontgen fleksibel/ekstensi diambil saat pasien menggerakan vertebra yang terkena. Prosedur ini biasanya disarankan jika dokter mencurigai adanya fraktur serviks minor namun hasil rontgen atau MRI normal.

  • Magnetic Resonance Imaging (MRI) - Tes ini berguna untuk mengevaluasi tingkat keparahan cedera tulang belakang atau kompresi saraf. MRI memberikan gambar beresolusi tinggi dari jaringan lunak dan menentukan apakah ada kerusakan pada sumsum tulang belakang.

  • Pemeriksaan neurologis - Digunakan untuk menilai fungsi saraf atau kerusakan.

  • Tes laboratorium - Terkadang, tes laboratorium disarankan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya kondisi metabolik atau infeksi yang menyebabkan beberapa gejala pasien.

Semua cedera leher dianggap parah atau mengancam jiwa sampai terbukti sebaliknya. Pada sebagian besar kasus, perawatan awal diberikan oleh tim medis darurat atau perawat terlatih. Mereka biasanya menjaga kestablikan leher dengan menggunakan kerah leher lembut, namun kaku untuk mencegah dislokasi fraktur lebih lanjut. Imobilisasi harus tetap ada sampai pergerakan leher dan kepala terbukti aman.

Pengobatan tergantung pada luas dan lokasi kerusakan dan mungkin melibatkan terapi non-bedah atau prosedur bedah invasif.

  • Kawat dan orthotics - Fraktur leher yang stabil atau tidak serius biasanya diobati dengan kawat dan orthotics, yang dirancang untuk menjaga kesejajaran tulang belakang. Kedua alat ini dapat membuat tulang belakang tetap pada tempatnya untuk mengendalikan rasa sakit dan memungkinkan tulang yang retak sembuh lebih cepat. Kebanyakan pasien harus memakai kawat atau orthotics sampai dua belas minggu atau sampai tulang sembuh. Dokter juga biasanya meresepkan obat untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan.

  • Fusi serviks - Fraktur yang tidak stabil diobati dengan operasi dengan tujuan untuk menggabungkan dua tulang belakang yang retak menggunakan cangkok yang diambil dari panggul atau tulang. Cangkok ini akan ditahan ditempatnya di oleh kait, batang, piring, atau sekrup pedikel. Prosedur memakan waktu sekitar dua jam dan pasien perlu tinggal di rumah sakit dua hari. Untuk melakukan operasi ini, dokter perlu membuat sayatan di bagian belakang atau depan leher.

Sebelum operasi, pasien diberi tahu tentang risiko dan kemungkinan komplikasi prosedur, yang meliputi:

  • Efek negatif bius total

  • Penggumpalan darah di pembuluh darah dalam

  • Pecahan implan logam

  • Perdarahan berlebihan, yang dalam beberapa kasus. memerlukan transfusi darah

  • Kegagalan fusi

  • Penolakan cangkok

  • Infeksi

  • Nyeri pada lokasi donor

  • Cedera sementara atau permanen pada tulang belakang atau saraf

Operasi untuk pengobatan fraktur serviks atau leher biasanya diikuti langsung dengan terapi fisik.

Rujukan:

  • Stiell IG, Wells GA, et al. (2001). “The Canadian C-spine rule for radiography in alert and stable trauma patients.”. JAMA. 286 (15): 1841–8. PMID 11597285. doi:10.1001/jama.286.15.1841.

  • Jump up^ Hoffman JR, Wolfson AB, Todd K, Mower WR (1998). “Selective cervical spine radiography in blunt trauma: methodology of the National Emergency X-Radiography Utilization Study (NEXUS).”. Ann Emerg Med. 32 (4): 461–9. PMID 9774931. doi:10.1016/s0196-0644(98)70176-3.

Bagikan informasi ini: