Apa itu Sindrom Kelelahan Kronis?

Sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome/CFS) adalah kondisi medis kompleks yang ditandai dengan kelelahan atau capek yang ekstrem dan tak kunjung hilang, biarpun pasien telah banyak tidur. Kondisi ini unik karena tidak disebabkan oleh kelainan fisik atau mental tertentu. Pasien CFS menderita kelelahan tanpa penyebab jelas yang membuat mereka tidak dapat menjalani hidup normal. Lebih dari 50% pasien tidak dapat bekerja dan banyak pasien harus mengambil cuti sakit atau disabilitas. Hanya kurang dari 20% pasien dapat bekerja penuh waktu.

Kondisi ini juga dikenal sebagai sindrom kelelahan kronis mialgia ensefalomielitis (ME/CFS). Di Amerika Serikat, jumlah penderitanya mencapai lebih dari 1 juta orang. Wanita memiliki risiko empat kali lebih tinggi dibandingkan pria.

Sindrom ini menyebabkan gejala yang dapat muncul mendadak atau berkembang perlahan. Gejala-gejala tersebut dapat muncul dan menghilang selama beberapa bulan atau tahun.

Penyebab Sindrom Kelelahan Kronis

Biarpun sindrom kelelahan kronis sudah lama diakui sebagai kondisi medis, namun penyebabnya belum diketahui. Namun, para ilmuwan percaya kondisi ini dapat disebabkan oleh perpaduan faktor genetik dan lingkungan, termasuk:

  • Ketidakseimbangan hormon - Ilmuwan mencari hubungan antara sindrom kelelahan kronis dan ketidakseimbangan hormon. Kedua kondisi ini cenderung lebih umum pada wanita. Hormon adalah senyawa kimia yang berpengaruh langsung terhadap fungsi organ dan sel tubuh. Fluktuasi hormon dapat terjadi karena gaya hidup yang tidak seimbang, racun, atau masa tertentu dalam kehidupan wanita, seperti pubertas dan menopause.

  • Sistem imun yang tertekan - Kebanyakan pasien memiliki kelainan yang memengaruhi sistem imun mereka. Kondisi ini membuat seseorang lebih rentan terkena infeksi dan penyakit, dan diyakini berperan penting dalam timbulnya CFS.

  • Infeksi tertentu - Peneliti juga berusaha mencari hubungan antara CFS dan infeksi virus tertentu, termasuk virus Epstein-Barr, human herpes, dan leukemia.

  • Kejadian yang membuat tertekan - Banyak pasien melaporkan bahwa gejala CFS mulai muncul setelah tekanan fisik (misalnya pembedahan) atau emosional (kematian orang terdekat atau perceraian) berat.

Gejala Utama Sindrom Kelelahan Kronis

Selain kelelahan berat yang bertahan selama setidaknya enam bulan, pasien CFS juga mengalami gejala berikut:

  • Nyeri pada beberapa sendi, tanpa bercak merah atau pembengkakan

  • Kelenjar getah bening membesar pada ketiak dan/atau leher

  • Tidak dapat berkonsentrasi

  • Hilang ingatan

  • Nyeri otot tanpa penyebab jelas

  • Sakit kepala terus menerus

  • Sakit tenggorokan

  • Tidak terasa bugar setelah tidur

  • Depresi

  • Isolasi sosial

  • Semakin sering tidak datang bekerja

  • Penyakit tidur kronis, seperti insomnia

  • Berkurangnya frekuensi aktivitas fisik

  • Malaise

  • Kelelahan mental berat setelah aktivitas fisik atau mental

CFS dapat bersifat ringan atau berat. Biarpun beberapa pasien dapat hidup dengan normal, namun pasien lain tidak dapat merawat diri sendiri dan tidak dapat meninggalkan tempat tidur.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Saat ini, belum ada tes khusus untuk mendiagnosis sindrom kelelahan kronis. Tes kesehatan yang tersedia bertujuan mengeliminasi kondisi medis lain dengan gejala serupa. Di antaranya adalah infeksi kronis, kelainan tidur kronis, dan gangguan jiwa, seperti depresi berat. Sehingga, mendapatkan diagnosis pasti dapat membutuhkan proses yang panjang. Pasien akan didiagnosis terkena sindrom kelelahan kronis apabila:

  • Menunjukkan gejala CFS, terutama kelelahan ekstrem dan berkepanjangan yang tidak hilang setelah banyak istirahat

  • Mengalami gejala tersebut selama setidaknya enam bulan

  • Tes diagnosis tidak memberikan hasil pasti dan tidak dapat mengidentifikasi penyebab gejala pasien

CFS belum dapat disembuhkan. Fokus pengobatan adalah meredakan gejala dan berusaha meningkatkan kualitas hidup pasien. Pasien yang menunjukkan tanda depresi dan tidak dapat tidur seringkali diberi antidepresan dan obat tidur. Obat lain yang dapat diberikan meliputi obat anti-kegelisahan, obat anti peradangan non-steroid, dan obat pereda nyeri. Aktivitas yang terbukti dapat membantu mengurangi gejala meliputi:

  • Olahraga dengan impaksi rendah, seperti yoga dan tai chi

  • Gaya hidup sehat - Sebisa mungkin, pasien sebaiknya berhenti merokok dan menghindari minuman beralkohol. Pola makan yang sehat dan seimbang, serta tidur minimal delapan jam per hari juga terbukti dapat membantu

  • Menghindari stres

  • Konseling psikologis, khususnya bagi pasien yang menunjukkan tanda depresi dan gangguan jiwa

Sayangnya, karena penyebab sindrom kelelahan kronis belum diketahui, belum ada panduan untuk mencegah kondisi ini.

Penelitian baru sedang dilakukan untuk memahami penyebab kondisi ini. Pengobatan baru juga diuji untuk meningkatkan hasil pengobatan. Selain itu, peneliti juga mencari cara baru agar dokter dapat lebih cepat mengidentifikasi dan mendiagnosis sindrom kelelahan kronis.

Rujukan:

  • Chronic fatigue syndrome/myalgic encephalomyelitis. Chicago, Ill.: International Association for Chronic Fatigue Syndrome/Myalgic Encephalomyelitis. http://www.iacfsme.org/Portals/0/PDF/PrimerFinal3.pdf.

  • Smith MEB, et al. Treatment of myalgic encephalomyelitis/chronic fatigue syndrome: A systematic review for a National Institutes of Health Pathways to Prevention workshop. Annals of Internal Medicine. 2015;162:841.

Bagikan informasi ini: