Apa itu Penyakit Hati Kronis?

Penyakit hati kronis adalah istilah yang mengacu pada sejumlah kondisi medis progresif yang memengaruhi hati atau liver. Kondisi tersebut dianggap kronis apabila bertahan setidaknya enam bulan. Yang termasuk ke dalam kondisi adalah hepatitis kronis, sirosis, dan kanker hati.

Hati adalah organ perut terbesar yang memainkan peranan penting dalam proses pencernaan. Organ ini bekerja sama dengan pankreas, kantong empedu, dan usus untuk mencerna, menyerap, dan mengolah makanan. Hati juga organ yang menghasilkan faktor pembekuan darah seperti protein, kolesterol, trigliserida, dan empedu. Selain itu, hati juga membersihkan racun dari tubuh. Hati yang berfungsi dengan baik sangat penting untuk kesehatan dan vitalitas.

Penyakit hati terjadi pada saat organ tersebut mengalami kerusakan. Kerusakan ini bisa disebabkan oleh faktor lingkungan, genetik, dan gaya hidup tertentu. Seperti, penyalahgunaan alkohol berkepanjangan dan beberapa jenis infeksi tertentu. Penyebab lain ialah pertumbuhan abnormal dan respons imun yang abnormal.

Dengan sedikit pengecualian, kebanyakan penyakit hati hanya dapat dikendalikan namun tidak bisa disembuhkan. Hal ini karena kerusakan hati seringkali tidak dapat diperbaiki lagi. Apabila dibiarkan bertahun-tahun, kerusakan ini bisa menyebabkan jaringan parut, yang bisa mencegah organ berfungsi normal.

Penyebab Penyakit Hati Kronis

Penyakit hati kronis meliputi hepatitis kronis, sirosis, dan kanker hati.

Hepatitis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peradangan hati. Penyakit ini bisa bertahan selama bertahun-tahun dan bahkan puluhan tahun. Penyebab utamanya adalah:

  • Virus, terutama virus hepatitis B dan C.

  • Respons imun yang tidak normal, atau bila sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan hati yang sehat.

  • Penyalahgunaan alkohol jangka panjang - Banyak pasien dengan hepatitis kronis memiliki masalah ketergantungan alkohol.

  • Obat-obatan tertentu - Ini termasuk obat yang digunakan untuk mengobati tuberkulosis, gangguan kejang, dan tekanan darah tinggi.

Kerusakan yang disebabkan oleh hepatitis dapat terbentuk seiring berjalannya waktu dan meningkatkan risiko terkena sirosis. Kondisi ini terjadi ketika jaringan hati sehat digantikan oleh jaringan parut. Selain karena hepatitis kronis, kondisi ini bisa juga terjadi karena:

  • Kondisi tertentu yang diwariskan, termasuk fibrosis kistik dan penyakit Wilson

  • Saluran empedu tersumbat, yang mencegah aliran empedu normal dari hati ke usus.

  • Terkena paparan bahan beracun tertentu

  • Gagal jantung, yang bisa menyebabkan darah menumpuk di hati

Hepatitis dan sirosis kronis adalah penyebab kegagalan hati yang paling umum. Mereka juga merupakan faktor risiko utama kanker hati. Kegagalan hati adalah penyakit hati yang paling serius. Seorang pasien akan didiagnosis dengan kondisi ini pada saat hati atau liver berhenti bekerja sepenuhnya.

Gejala Utama Penyakit Hati Kronis

Kerusakan hati dapat menyebabkan sejumlah gejala. Awalnya, pasien akan mengalami mual dan merasa sangat lelah sepanjang waktu (kelelahan). Nafsu makan mereka juga buruk yang menyebabkan penurunan berat badan yang tidak direncanakan. Banyak gejala masalah hati yang sangat ringan pada tahap awal. Namun, karena penyakit hati terus memburuk, gejala yang lebih mengkhawatirkan akan mulai terlihat. Yang paling mencolok adalah menguningnya warna mata dan kulit (sakit kuning). Penderita juga akan mengalami radang perut dan mudah memar. Tanda lainnya adalah sakit perut yang parah dan pembengkakan pada tangan dan kaki bagian bawah. Gejala lainnya juga bisa meliputi gatal parah, kehilangan otot, muntah darah, dan vena terlihat seperti laba-laba di kulit.

Kasus penyakit hati kronis yang parah dapat menyebabkan sejumlah komplikasi yang mengancam jiwa. Jika tidak ditangani atau dirawat dengan segera, pasien akan mengalami gejala serius lainnya, meliputi:

  • Asites - Ini mengacu pada penumpukan cairan di perut. Hal ini bisa terjadi bila hati berhenti bekerja dengan baik. Asites adalah komplikasi yang mematikan karena menyebabkan kerusakan parah pada berbagai organ dalam.

  • Hilangnya fungsi otak - Hal ini terjadi saat hati berhenti menghilangkan racun dari darah. Hal ini mengakibatkan pusing, perubahan kepribadian atau mood, dan penurunan tingkat konsentras. Pada kasus yang berat, hal ini bisa berakibat koma.

  • Gagal ginjal – Penyakit hati kronis dapat mengganggu aliran darah normal ke ginjal. Tanpa suplai darah yang cukup, sel dan jaringan pada ginjal bisa mati.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Orang dengan penyakit hati kronis harus menjalani serangkaian tes untuk mengetahui tingkat kerusakan hatinya. Tes ini meliputi:

  • Tes darah - Tes darah berguna dalam mengukur fungsi hati. Tes ini akan mengukur kadar protein, enzim, dan bilirubin dalam darah. Bila hati tidak berfungsi dengan baik, maka kemampuannya untuk menghasilkan protein dan albumin terganggu. Selain itu hati juga kehilangan kemampuannya untuk membuang bilirubin, sehingga menyebabkan penumpukan dalam darah. Kelainan tersebut bisa dideteksi dengan tes darah.

  • Biopsi hati - Tes ini dilakukan jika pasien menunjukkan tanda-tanda penyakit hati dan hasil tes darah menunjukkan kelainan pada organ tersebut. Dalam prosedur ini, sampel jaringan kecil akan diambil dari hati. Hal ini bisa dilakukan melalui operasi terbuka atau biopsi jarum. Jaringan sampel kemudian dipelajari di bawah mikroskop. Tes ini membantu menentukan tingkat kerusakan hati. Hal ini penting untuk mengidentifikasi pilihan pengobatan terbaik bagi pasien.

  • Tes pencitraan - Dokter juga dapat memperoleh rincian tambahan dengan menggunakan tes pencitraan. Ini termasuk CT scan, MRI, dan ultrasound. Tes ini membuat gambar organ dalam dan struktur yang mengelilinginya. Hasil test ini bisa membantu menentukan penyebab masalah, seperti penyumbatan aliran darah ke hati.

Tujuan pengobatan penyakit ini bukan untuk menyembuhkan, melainkan mencegahnya berkembang lebih jauh. Pasien dengan hepatitis B atau C kronis dapat diobati dengan obat antiviral. Obat ini dapat membantu mengurangi pembengkakan hati. Hal ini juga dapat menurunkan risiko penyakit hati yang lebih serius.

Tidak ada perawatan yang bisa menyembuhkan sirosis. Penyakit ini ditangani dengan cara mencegah kerusakan lebih lanjut pada hati. Hal ini bisa dilakukan apabila pasien membuat pilihan gaya hidup sehat. Pasien disarankan segera berhenti minum alkohol. Dokter juga akan fokus pada penanganan komplikasi penyakit ini. Ini termasuk asites, masalah ginjal, dan penurunan fungsi mental. Sebagian besar komplikasi ini dapat ditangani dengan pengobatan.

Jika terjadi gagal hati, satu-satunya pilihan pengobatan pada pasien adalah transplantasi hati. Tindakan ini melibatkan pengangkatan dan penggantian hati yang sakit dengan hati yang sehat yang didapat dari donor. Prosedurnya diketahui rumit tapi bisa memberi pasien kesempatan hidup. Prosedur ini memiliki tingkat kelangsungan hidup lima tahun sebesar 73%. Tanpa transplantasi, pasien dengan gagal hati stadium akhir hanya memiliki kemungkinan 5% untuk bertahan hidup.

Rujukan:

  • Feldman M, et al. Sleisenger & Fordtran’s Gastrointestinal and Liver Disease: Pathophysiology, Diagnosis, Management. 9th ed. Philadelphia, Pa.: Saunders Elsevier; 2010. http://www.clinicalkey.com.

  • National Digestive Diseases Information Clearinghouse, National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. “Liver.”

Bagikan informasi ini: