Apa itu Sirosis Non-alkoholik

Sirosis adalah istilah kedokteran yang merujuk pada luka pada hati. Kondisi ini sering kali terlihat pada orang-orang yang mengonsumsi minuman beralkohol melebihi batas ketahanan hati mereka. Akibatnya, jaringan sehat di sekitarnya akan digantikan dengan jaringan parut. Hal ini menghambat hati untuk berfungsi dengan baik. Jaringan-jaringan parut di dalam hati tidak dapat disembuhkan.

Meski begitu, kondisi ini dapat timbul pada orang yang minum sedikit alkohol, bahkan tidak sama sekali. Jaringan parut yang muncul pada hati, namun bukan disebabkan oleh konsumsi alkohol disebut sirosis non-alkoholik (NAC). NAC umumnya merupakan komplikasi dari penyakit hati yang menyebabkan kerusakan progresif pada hati dalam rentang waktu yang panjang.

Penyebab Sirosis Non-Alkoholik

Biasanya, NAC merupakan akibat dari penyakit hati yang tidak diobati atau tidak ditangani dengan baik dalam waktu yang lama. Penyakit hati yang dapat memicu NAC di antaranya:

  • Hepatitis autoimun - Kondisi ini terjadi saat sistem imun menyerang sel -sel hati, seolah mereka benda asing. Akibatnya, hati menjadi meradang. NAC sering kali terjadi setelah beberapa tahun pasca peradangan kronis.

  • Hati berlemak - Sesuai dengan istilahnya, kondisi ini timbul saat lemak terkumpul di dalam hati. Ini sering kali dikaitkan dengan diabetes, obesitas, dan kadar lemak di dalam darah yang tinggi.

  • Virus hepatitis B - Ini adalah penyebab paling umum dari NAC di negara-negara tempat anak-anak tidak diberi vaksinasi virus hepatitis B secara rutin.

  • Virus hepatitis C - Jutaan orang di seluruh dunia terinfeksi virus hepatitis C. Namun, banyak yang tidak terdiagnosis dan tidak sadar akan penyakit mereka. Infeksi virus hepatitis C yang tidak diobati juga dapat menyebabkan kerusakan hati yang tidak dapat disembuhkan.

  • Fibrosis kistik - Ini adalah penyakit turunan yang memengaruhi hati dan organ lain. Banyak pasien dengan penyakit ini yang juga memiliki gangguan hati. Penyakit turunan lain yang terkait dengan sirosis, termasuk hemokromatosis dan penyakit Wilson. Kemungkinan penyebab NAC lainnya adalah beberapa episode gagal jantung dan saluran empedu yang tersumbat. Kondisi ini pun dapat disebabkan oleh reaksi yang parah terhadap obat-obatan tertentu. Pada sekitar 10% kasus sirosis non-alkoholik, penyebabnya tidak diketahui. Artinya, kondisi muncul pada pasien yang tidak mengidap penyakit hati atau memiliki faktor risiko apa pun.

Gejala Utama Sirosis Non-alkoholik

Sirosis umumnya menyebabkan gejala saat mencapai stadium tertentu. Artinya, hati telah kehilangan kemampuannya untuk melaksanakan sebagian atau seluruh fungsinya. Ketika hal ini terjadi, pasien akan mulai merasa kelelahan setiap waktu, serta lemah dan mual.

Sklera mata dan kulit pasien menjadi kekuningan. Pasien wanita kemungkinan tidak akan lagi mendapatkan menstruasi. Sedangkan pasien pria akan menderita disfungsi ereksi dan pembesaran payudara.

Sirosis non-alkoholik juga dapat menyebabkan gejala-gejala berikut:

  • Perdarahan internal - Kondisi ini berujung pada muntah kronis dan demam.

  • Perubahan fungsi mental - Ini terjadi saat hati gagal mengeluarkan racun dari dalam darah. Apabila racun-racun itu sampai ke otak, pasien akan kehilangan kemampuan untuk fokus dan kesulitan untuk berbicara atau memahami pembicaraan.

  • Ascites - Ini merujuk pada akumulasi cairan di dalam rongga perut.

Gejala lainnya termasuk sulit melawan infeksi, kekurangan gizi, dan penyakit tulang. Kondisi ini juga meningkatkan risiko kanker hati dan gagal hati akut.

Banyak pasien yang juga dipaksa untuk menghentikan minum obat, sebab hati mereka tidak mampu memprosesnya. Ini merupakan masalah besar bagi pasien yang juga mengidap gangguan atau penyakit serius.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Banyak pasien pada stadium awal NAC yang tidak menampakkan gejala. Hal ini membuat mereka tidak mencari pengobatan. NAC sering kali terdiagnosis saat pasien menjalani tes kesehatan lain untuk gangguan kesehatan yang tidak terkait dengan NAC. Apabila dokter menduga sirosis hati, pasien akan dirujuk kepada dokter yang berspesialisasi menangani penyakit hati (ahli gastroenterologi).

Kondisi ini diperiksa melalui:

  • Memeriksa fungsi ginjal dan hati. Ini dilakukan melalui tes urine dan darah. Tes yang sama dilakukan untuk menentukan apakah pasien mengidap hepatitis B atau C.

  • Tes pencitraan - Pencitraan resonansi magnetik (MRI), CT scan, dan USG dilaksanakan jika hasil tes terdahulu menunjukkan adanya kelainan. Tes ini menghasilkan gambar hati, sehingga membantu dokter untuk melihat perubahan bentuk dan ukuran hati.

  • Biopsi - Sedikit sampel jaringan diambil dari hati untuk dipelajari lebih lanjut. Tes ini membantu menentukan luasnya kerusakan hati. Informasi ini sangatlah penting untuk memilih pengobatan yang terbaik bagi pasien.

Kerusakan apa pun yang terjadi pada hati tidak dapat disembuhkan . Itu sebabnya, pengobatan NAC berfokus pada:

  • Mencegah lebih banyak kerusakan pada hati - Ini meliputi mengobati penyakit yang memicu jaringan parut pada hati. Di antaranya termasuk hepatitis dan hati berlemak. Pasien sangat dianjurkan untuk menghentikan konsumsi minuman beralkohol. Mereka akan mengalami penurunan berat badan (jika mereka obesitas) dan memastikan faktor risiko pada pasien ditangani dengan baik. Ini termasuk diabetes dan hipertensi.

  • Mengobati komplikasi - Obat-obatan diberikan untuk merawat nyeri dan gatal. Ini juga diberikan untuk mencegah gangguan terkait tulang. Untuk mengobati infeksi, pasien diberi antibiotik.

Pasien dengan NAC diawasi secara hati-hati untuk memastikan kondisi mereka tidak berkembang. Mereka sering kali dianjurkan untuk menjalani bermacam tes secara rutin. Tes membantu dokter mendiagnosis komplikasi, sehingga dapat diobati dengan segera.

Jika hati pasien tidak lagi berfungsi, pilihan pengobatan yang tersisa hanyalah transplantasi hati. Prosedur ini melibatkan pengangkatan dan penggantian hati yang berpenyakit dengan donor hati yang sehat. Meski transplantasi hati memiliki angka keberhasilan yang tinggi, organ donor hati Hal ini membuatdaftar tunggu menjadi sangat panjang. Pada sejumlah kasus, pasien harus menunggu selama beberapa bulan atau tahun untuk mendapatkan sebuah donor organ. Serta, tidak semua pasien cukup sehat untuk menjalani prosedur itu.

Secara umum, prognosis bagi pasien sirosis sangatlah buruk. Angka ketahanan hidup lima tahun bagi pasien yang telah mengidap asites dan perdarahan internal hanya sekitar 50%.

Bagikan informasi ini: