Apa itu Cedera Klavikula

Klavikula atau lebih dikenal dengan sebutan tulang selangka, adalah tulang panjang yang membentang antara tulang belikat dan tulang dada. Tulang ini terletak di bagian atas dada, antara leher dan bahu. Fungsinya adalah menjaga tulang belikat tetap pada posisinya. Hal ini memungkinkan lengan untuk mencapai rentang gerak maksimal.

Cedera tulang selangka sangat umum terjadi. Di Amerika Serikat saja, setiap tahun bisa terjadi sekitar 200.000 kasus. Cedera ini menyebabkan pembengkakan dan memar di wilayah bahu dan lengan. Saat mencoba menggerakkan lengan atau bahu, cedera ini membuat pasien merasakan nyeri yang luar biasa.

Dengan diobati secepatnya, cedera tulang selangka sering kali sembuh dalam satu hingga tiga bulan. Pada sejumlah kasus, tidak menyebabkan masalah kesehatan dan fisik berkepanjangan. Tidak sedikit pasien yang mampu menjalani aktivitas seperti sebelum cedera, seperti olahraga kompetitif.

Penyebab Cedera Klavikula

Seperti halnya tulang di bagian tubuh lain, tulang selangka dapat mengalami cedera atau patah. Tulang ini, adalah salah satu tulanga yang paling umum mengalami cedera. Kebanyakan kasus disebabkan oleh cedera olahraga. Biasanya dialami oleh mereka yang melakukan olahraga gimnastik, pesepeda, dan pemain basket dan sepak bola.

Cedera ini sering kali terjadi, setelah cedera yang melibatkan sendi bahu. Selain itu, cedera ini juga dapat terjadi saat seseorang terjatuh dengan lengan yang terulur. Penyebab umum lainnya adalah kecelakaan kendaraan bermotor dan jatuh.

Cedera tulang selangka dapat dialami siapa saja dari segala usia. Namun, anak-anak dan remaja lebih rentan terhadap kondisi ini. Sebab, tulang mereka belum sepenuhnya mengeras. Sebab, tulang mengeras saat manusia mencapai usia 20 tahun. Risiko tinggi juga dimiliki oleh lansia, karena kekuatan dan kepadatan tulang mereka berkurang secara alami seiring dengan pertambahan usia.

Gejala Utama Cedera Klavikula

Cedera tulang selakang menyebabkan nyeri berat yang menghambat gerakan normal. Gejala lainnya termasuk:

  • Memar, nyeri, dan bengkak di sepanjang tulang selangka

  • Tonjolan pada atau di sekitar bahu - Pada kasus yang langka, tulang yang patah dapat menusuk kulit dan menjadi terlihat dengan jelas.

  • Bahu yang cedera menurun atau merosot

  • Kesulitan menggerakkan lengan yang cedera

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien dengan cedera tulang selangka ditangani oleh spesialis ortopedi. Dokter ini memiliki spesialisasi mengobati gangguan dan penyakit tulang dan otot. Kondisi ini didiagnosis menggunakan tes-tes berikut:

  • Pemeriksaan fisik - Dokter akan mulai memeriksa bahu untuk menemukan tanda-tanda cedera. Ia akan meminta pasien untuk mengangkat lengan yang cedera untuk mengukur kekuatannya. Ia juga akan mencari tanda-tanda kerusakan saraf.

  • Rontgen - Dokter akan meminta prosedur rontgen jika hasil pemeriksaan fisik menunjukkan kemungkinan cedera. Rontgen adalah cara tercepat bagi dokter untuk melihat dan memeriksa cedera tulang. Tes ini juga dapat menunjukkan apakah tulang patah atau tergelincir.

  • CT-scan - Kasus cedera tulang selangka ringan kemungkinan tidak tampak pada saat rontgen. Dalam situasi seperti itu, dokter akan meminta pasien menjalani CT-scan. Tes ini memberikan gambar area cedera yang lebih detail daripada rontgen. Oleh sebab itu, prosedur diagnosis ini membantu dokter dalam memeriksan tingkat perluasan cedera secara akurat. Pada beberapa kasus, tes pencitraan lain juga akan digunakan. Di antaranya termasuk MRI dan pemindaian tulang. Keduanya dapat membantu memastikan apakah jaringan di sekitarnya juga terluka.

Pengobatan cedera tulang selangka tergantung pada keparahan kondisinya. Terapi tanpa bedah dilaksanakan jika fragmen-fragmen tulang yang cedera masih tersusun dengan baik. Untuk jenis cedera ini, dokter berfokus untuk memastikan jika tulang yang cedera akan tetap berada pada posisinya sampai sembuh total. Pasien perlu mengenakan ambin sebagai penyangga selama beberapa minggu. Mereka juga diberi obat-obatan untuk meredakan nyeri.

Terapi fisik diperlukan saat tulang mulai sembuh. Hal ini dilakukan karena tulang yang dilumpuhkan selama beberapa waktu cenderung kehilangan kekuatannya. Hasilnya, rentang gerak tulang akan berkurang. Dengan terapi fisik, pasien perlahan akan mampu mengembalikan fungsi, gerakan, dan fleksibilitas normal.

Cedera diobati dengan operasi, jika ujung tulang yang patah telah bergeser. Pembedahan juga dapat dipertimbangkan jika cedera tidak membaik setelah menjalani pengobatan tanpa bedah selama sepuluh minggu. Tujuan pembedahan adalah:

  • Memastikan bagian-bagian tulang yang patah tersusun dengan sempurna selama tulang dalam masa penyembuhan

  • Mengembalikan panjang normal tulang

Dibandingkan dengan terapi tanpa bedah lainnya, masa pemulihan dari pembedahan kurang lebih sama. Pada prosedur bedah, dokter bedah membuat sayatan di wilayah bahu. Lalu, dokter akan mengembalikan posisi fragmen-fragmen tulang, memastikan semuanya telah tersusun lurus. Tulang tersebut diletakkan dengan pelat, peniti, dan sekrup. Meski alat-alat tersebut dapat dibiarkan, bahkan saat tulang telah sembuh. Namun, semuanya akan dikeluarkan jika menyebabkan nyeri. Pasien akan perlu memakai ambin atau alat serupa untuk melumpuhkan tulang. Pada sejumlah kasus, ambin perlu dibiarkan selama 4 - 6 minggu.

Pasien sering kali mengeluh merasa nyeri pascaoperasi. Hal ini dapat ditangani dengan kompres es dan obat pereda nyeri generik. Jika nyeri terasa menyiksa, kemungkinan pasien diberikan obat opioid. Obat ini hanya boleh dikonsumsi dalam jangka waktu yang singkat. Jika disalahgunakan, pasien akan menderita overdosis opioid, yang dapat bersifat mematikan pada sejumlah kasus.

Operasi juga diikuti dengan terapi fisik. Bekerja sama dengan ahli terapi fisik dapat mempercepat proses penyembuhan. Ini berarti, pasien akan mampu kembali menjalani aktivitas pracedera dengan segera.

Bedah untuk mengobati cedera tulang selangka memiliki beberapa risiko. Ini termasuk perdarahan dan infeksi. Ada juga risiko kecil akan pembentukan darah beku. Ini bisa menyebabkan kekhawatiran, sebab darah beku dapat memperlambat atau menghambat aliran darah. Hal ini meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke. Selain itu, penderita diabetes dan perokok kemungkinan mengalami masalah penyembuhan luka yang tertunda pascaoperasi.

Seluruh risiko dan manfaat harus dijelaskan secara terperinci kepada pasien sebelum prosedur dilakukan. Operasi hanya dilaksanakan jika manfaatnya lebih besar daripada risiko.

Dengan pengobatan segera, pasien dapat sembuh dalam satu atau dua bulan. Banyak pasien yang mendapatkan kembali kekuatan bahu mereka. Mereka juga tidak mengalami gangguan tulang yang berkepanjangan.

Rujukan:

  • Clavicle fracture (broken collarbone). American Academy of Orthopaedic Surgeons. http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00072. Accessed November 13, 2017.

  • Clavicular fractures in adults. DeLee J, Drez D, eds. DeLee and Drez’s Orthopaedic Sports Medicine: Principles and Practice. 2nd ed. Philadelphia, Pa: Saunders; 2003. 958-68.

  • Kim W, McKee MD. Management of acute clavicle fractures. Orthop Clin North Am. 2008 Oct. 39(4):491-505, vii.

Bagikan informasi ini: