Apa itu Cor Pulmonale?

Cor pulmonale mengacu pada gagal jantung bagian kanan. Hal ini biasa terjadi pada orang dengan penyakit paru-paru kronis. Penyakit semacam itu bisa meningkatkan tekanan darah di pembuluh darah paru-paru. Akibatnya, ventrikel kanan dipaksa bekerja lebih keras agar bisa memompa darah. Jika tidak diobati, ventrikel kanan akan membesar dan lama kelamaan tidak bisa memompa darah ke paru-paru secara normal.

Penyebab Cor Pulmonale

Cor pulmonale dapat terjadi karena beberapa alasan. Namun, penyebab paling umum adalah chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Ini adalah istilah untuk sejumlah gangguan paru-paru. Ini termasuk emfisema dan bronkitis kronis.

Hal ini juga dapat terjadi karena:

  • Fibrosis sistik - Kelainan yang bisa menyebabkan banyak kerusakan organ dalam tubuh. Kelainan ini menyebabkan sekresi seperti lendir, menjadi kental dan lengket. Jadi, alih-alih bertindak sebagai pelumas, sekresi malah menjadi menghambat jalan.

  • Apnea tidur obstruktif - Kelainan yang menyebabkan seseorang berhenti bernapas selama beberapa detik saat tertidur. Hal ini terjadi saat otot tenggorokan menjadi rileks. Akibatnya, mereka memblokir jalan napas saat pasien sedang tidur. Hal ini juga menyebabkan seseorang mendengkur keras. Hal ini bisa menjadi perhatian karena bisa terjadi setidaknya lima kali per jam.

  • Bekuan darah - Gumpalan darah bisa terjadi di mana saja di dalam tubuh dan menyebabkan penyumbatan. Bekuan darah yang kecil dapat menyebabkan penyumbatan sebagian. Namun, yang besar bisa menghentikan aliran darah ke organ yang berbeda. Ini bisa memotong suplai oksigen ke bagian tubuh lainnya.

Gejala Utama Cor Pulmonale

Cor pulmonale tidak menunjukkan gejala pada tahap-tahap awal. Sehingga seringkali penyakit ini baru terdeteksi ketika sudah memasuki tahap lebih lanjut. Akibatnya, penyakit menjadi sulit ditangani.

Oleh karena itu menjadi sangat sulit untuk ditangani. Gejala pertama dari penyakit ini adalah napas menjadi lebih pendek dari biasanya serta sakit kepala ringan ketika sedang beraktivitas. Namun, karena gejala tersebut sangat mirip dengan apa yang dirasakan oleh orang yang sedang beraktivitas, mereka seringkali tidak segera memeriksakan diri ke dokter.

Ketika kondisinya mulai memburuk, gejala tetap muncul walaupun ketika pasien sedang beristirahat. Gejala lain juga mulai berkembang, termasuk detak jantung yang lebih cepat dari biasanya. Akibatnya, penderita cor pulmonale sehingga sering merasa letih.

Pasien juga mengalami gejala yang timbul dari kondisi paru-parunya. Ini termasuk mencuit-cuit dan lemah seperti ketika batuk yang kronis dan kelelahan.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Cor pulmonale selalu dicurigai pada pasien dengan COPD. Ini merupakan kasus yang sama dengan seseorang yang kondisi pernapasannya terpengaruhi. Kondisi tersebut bisa dikonfirmasi dengan:

  • Echodiography - Bisa juga disebut gaung/gema, tes ini menciptakan gambar bergerak dari jantung menggunakan gelombang suara. Ini merupakan prosedur yang simpel, di mana tidak membutuhkan obat pembuat mati rasa. Prosedur ini juga tidak sakit dan menimbulkan efek samping. Melalui prosedur ini perubahan bisa terdeteksi tidak hanya di ventrikel kanan, tapi juga ventrikel bagian kiri.

  • Tes Pencitraan (Rontgen Dada, CT scan, dan MRI) juga bisa meberikan gambar dari area dada. Prosedur tersebut juga bisa menampilkan ventrikel kanan ataupun arteri paru-paru yang diperbsar. MRI juga bisa menampilkan isi dari arterri paru-paru. Melalui prosedur ini juga bisa menilai bilik dan fungsi jantung.

  • Kateterisasi jantung kanan - Tes ini mungkin diperlukan untuk mengonfirmasi. Untuk prosedurnya, kateter akan diarahkan ke sisi kanan jantung lalu masuk ke pembuluh darah yang menuju ke paru-paru. Dokter kemudian akan mengamati aliran darah melalui jantung. Tekanan darah di arteri juga diukur. Tes ini juga memungkinkan dokter untuk memantau fungsi jantung pasien. Jika ada tanda-tanda bahwa pasien menderita gagal jantung, dokter akan segera memberikan perawatan.

Pasien dari penyakit ini sering diobati dengan:

  • Terapi oksigen - Pasien dengan kondisi penyakit ini sulit bernapas dengan benar. Dengan demikian, mereka tidak memiliki cukup pasokan oksigen. Hal ini dapat menyebabkan sejumlah masalah karena semua organ dalam tubuh membutuhkan oksigen untuk berfungsi. Dengan demikian, dokter segera menghubungkan pasien dengan tangki oksigen.

  • Diuretik - Ini bekerja dengan meningkatkan jumlah air dan garam dalam urin. Ini membantu karena terlalu banyak garam dapat menyebabkan cairan menumpuk di pembuluh darah. Oleh Karena itu, lebih banyak darah bisa mengalir melalui arteri.

  • Vasodilator - Obat ini bekerja dengan memperlebar pembuluh darah. Obat ini melakukannya dengan mencegah pengencangan otot. Akibatnya, darah akan lebih mudah mengalir melalui pembuluh darah.

  • Antikoagulan - Tubuh membuat bekuan darah untuk mencegah kehilangan darah yang parah saat seseorang terluka. Namun, bekuan ini bisa menimbulkan masalah jika mereka memblokir pembuluh darah. Dengan demikian, pasien diberi antikoagulan untuk mencegah pembekuan darah.

  • Bronkodilator - Ini adalah obat yang membantu mengendurkan otot di paru-paru untuk membantu pasien bernapas secara normal. Mereka juga membantu memperluas saluran udara.

  • Antibiotik - Digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan.

Untuk menyembuhkan cor pulmonale adalah dengan cara mengobati kondisi paru-paru yang mendasarinya. Sayangnya, ini tidak mungkin terjadi dalam banyak kasus. Meski banyak kemajuan di bidang kedokteran, masih belum ada obat untuk COPD. Pengobatan yang tersedia hanya bisa mengendalikan gejalanya dan memperlambat perkembangan kondisinya. Pasien mungkin lebih memilih untuk menjalani transplantasi paru-paru. Dalam prosedur ini, paru-paru yang sakit dikeluarkan dan diganti dengan paru-paru sehat yang didapatkan dari donor. Namun, penting untuk dicatat bahwa tingkat kelangsungan hidup 5 tahun pasien transplantasi paru hanya 52%.

Rujukan:

  • Tunariu N, Gibbs SJ, Win Z, et al. Ventilation-perfusion scintigraphy is more sensitive than multidetector CTPA in detecting chronic thromboembolic pulmonary disease as a treatable cause of pulmonary hypertension. J Nucl Med. 2007 May. 48 (5):680-4.

  • Shih WJ, Kousa K, Mitchell B, Huang WS. Permanently increased brightness of right ventricle (D-shaped left ventricle) on myocardial perfusion imaging in a patient with chronic cor pulmonale: an autopsy correlation. J NuclCardiol. 2006 Mar-Apr. 13(2):294-6.

  • Singh H, Ebejer MJ, Higgins DA, Henderson AH, Campbell IA.Acute haemodynamic effects of nifedipine at rest and during maximal exercise in patients with chronic cor pulmonale. Thorax. 1985 Dec. 40(12):910-4.

Bagikan informasi ini: