Apa itu Trombosis Vena Dalam?

Trombosis Vena Dalam atau Deep Vein Thrombosis (DVT) adalah penyakit yang ditandai dengan pembekuan darah di dalam salah satu vena dalam. Kondisi ini umumnya terjadi di bagian kaki dan seringkali menyebabkan gejala seperti nyeri dan kaki membengkak.

DVT adalah penyakit umum yang menyerang ratusan juta orang setiap tahun. Deteksi dini dan pengobatan berperan penting dalam mencegah komplikasi yang berpotensi mengancam nyawa penderita. Salah satunya adalah emboli paru-paru, kondisi mengancam nyawa yang terjadi apabila gumpalan darah di dalam vena lepas dan memasuki paru-paru. Hal ini membuat pasien berisiko penyumbatan aliran darah. Komplikasi ini terjadi pada seperempat dari seluruh kasus DVT dan merupakan penyebab utama kematian yang dapat dicegah di berbagai negara.

Trombosis vena dalam dan emboli paru adalah contoh nyata dari penyakit vena perifer, tromboembolisme vena atau venous thromboembolism (VTE).

Penyebab Trombosis Vena Dalam

Salah satu faktor risiko terbentuknya trombosis vena dalam adalah gangguan pembekuan darah. Meski umumnya bersifat turunan, DVT tidak terjadi begitu saja. Namun, risiko DVT akan meningkat bila didukung oleh faktor lain, seperti cedera atau menjalani suatu operasi.

Pembekuan darah juga dapat dipicu oleh seseorang kurang bergerak dalam waktu yang lama. Hal ini umumnya terjadi pada pasien yang harus selalu beristirahat di tempat tidur. Di antaranya, pasien yang mengalami cedera parah, telah menjalani operasi ekstensif, dan telah lama menderita paralisis. Kurang gerak membuat otot tidak sering terkontraksi, sehingga darah tidak dapat beredar dengan baik.

Faktor risiko DVT lainnya adalah:

  • Kehamilan

  • Terapi penggantian hormon

  • Kontrasepsi oral

  • Obesitas atau kelebihan berat badan

  • Merokok

  • Kanker

  • Gagal jantung

  • Penyakit radang usus, seperti penyakit Crohn atau kolitis ulseratif - Penyakit ini sangat berkaitan dengan tromboembolisme berulang.

  • Aktivitas atau pekerjaan yang mengharuskan pasien untuk duduk dalam waktu yang lama, seperti berkendara atau terbang

  • Jenis kelamin - DVT lebih sering ditemukan pada pria dibanding wanita.

  • Usia - Orang-orang di atas 60 tahun, khususnya dengan riwayat keluarga mengidap DVT atau emboli paru-paru, berisiko mengalami DVT.

Ada beberapa faktor genetik yang berpotensi menyebabkan DVT, di antaranya:

  • Mutasi genetik karena faktor V Leiden

  • Kekurangan antitrombin, protein C, dan protein S

Gejala Utama Trombosis Vena Dalam

Gejala utama dari trombosis vena dalam termasuk pembengkakan di area kaki. Meski pembengkakan dapat menyerang kedua kaki, namun kondisi tersebut cukup jarang terjadi.

Selain pembengkakan, pasien juga dapat mengalami:

  • Rasa sakit di bagian kaki - Gejala ini menyerang lebih dari 50% pasien DVT.

  • Nyeri kaki - Gejala ini terjadi pada sekitar 75% pasien DVT.

  • Kemerahan

  • Perubahan warna kulit

  • Eritema atau sensasi hangat pada area terbentuknya gumpalan darah

Jika DVT telah menyebabkan emboli paru-paru, gejalanya akan meliputi:

  • Nyeri dada

  • Batuk berdarah

  • Sakit kepala

  • Pingsan

  • Pening

  • Detak jantung menjadi cepat

  • Napas pendek

Komplikasi yang berpotensi muncul adalah sindrom post-phlebitic atau sindrom pasca-trombosis. Kondisi ini terjadi apabila gumpalan darah menimbulkan kerusakan pada vena, sehingga terjadi edema atau pembengkakan berlanjut, perubahan warna kulit, dan luka pada kulit.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Diagnosis pada pasien yang diduga mengidap DVT dilakukan dengan bantuan tes berikut:

  • USG

  • Tes darah

  • Venografi

  • Computed Tomography (CT) scan

  • Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pada sebagian besar kasus, USG dapat memperkuat diagnosis DVT, sehingga tidak memerlukan tes yang lebih invasif.

DVT dapat sembuh secara langsung tanpa menyebabkan komplikasi serius. Namun, pasien sebaiknya segera mencari pengobatan ketika mulai merasakan gejala. Tujuan pengobatan DVT adalah mencegah perkembangan gumpalan darah dan pelepasannya. Hal ini dapat diwujudkan dengan:

  • Obat-obatan pengencer darah - Disebut juga sebagai pengencer darah atau antikoagulan. Obat-obatan ini dapat diminum dan dimasukkan melalui selang infus. Meski tidak dapat menghancurkan gumpalan darah, antikoagulan dapat mencegah perkembangan gumpalan darah.

  • Obat pemecah darah - Obat ini bekerja dengan memecah gumpalan darah. Ini juga disebut sebagai trombolitik, yang disuntikkan langsung ke dalam gumpalan darah atau pembuluh vena.

  • Stocking kompresi - Alat ini dipakai untuk membantu mengurangi pembengkakan pada kaki. Tekanan yang meningkat pada kaki mengurangi risiko genangan darah dan mencegah perkembangan gumpalan darah.

  • Filter - Filter atau penyaring bekerja dengan cara mencegah gumpalan darah agar tidak lepas dan tersangkut pada paru-paru. Filter ditanam pada vena cava (vena besar) di dalam perut.

Selain itu, ada intervensi endovaskular dan prosedur bedah yang dapat dilakukan bila kondisi pasien tidak membaik setelah minum obat dan menjalani terapi. Ini termasuk:

  • Trombolisis kateter-langsung untuk mengangkat trombus

  • Angioplasti

  • Stenting obstruksi vena

  • Trombektomi mekanis

Setelah operasi, pasien dianjurkan untuk minum obat pengencer darah selama tiga bulan atau lebih. Tujuannya untuk mencegah kondisi berulang.

Rujukan:

  • Kesieme E, Kesieme C, Jebbin N, Irekpita E, Dongo A. “Deep vein thrombosis: a clinical review.” J Blood Med. 2011; 2: 59-69. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3262341/

  • Thompson AE. “Deep Vein Thrombosis.” JAMA. 2015; 313(20): 2090. http://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2297171

  • Bates SM, Ginsberg JS. “Treatment of Deep-Vein Thrombosis.” N Engl J Med. 2004; 351:268-277. http://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMcp031676

Bagikan informasi ini: