Apa itu Diabetes Insipidus?

Diabetes insipidus (DI) adalah kondisi yang langka. Kondisi ini membuat penderita sering buang air kecil dengan volume yang lebih banyak. Dalam satu hari, penderita dapat membuang air kecil sampai 15 liter. Volume tersebut lima kali lebih banyak daripada volume urine normal. Karena hal itu, penderita akan terus merasa haus tak peduli seberapa banyak dan sering mereka minum.

Kondisi ini terjadi karena terdapat gangguan pada hipotalamus. Hipotalamus adalah bagian otak yang ikut berperan dalam memproduksi sejumlah hormon. Salah satunya adalah hormon antidiuretik (ADH).

ADH mengatur dan menyeimbangkan kadar air di dalam darah. Tugasnya adalah memberi tahu ginjal mengenai jumlah air yang perlu disimpan berdasarkan asupan cairan dan tingkat aktivitas seseorang. Contohnya, jika seseorang berlari maraton dan mengeluarkan banyak keringat, ADH akan memerintahkan ginjal untuk menghemat air agar urine lebih terkonsentrasi. Hal ini memastikan agar pasien tidak akan mengalami dehidrasi.

Ada dua situasi yang memungkinkan terjadinya diabetes insipidus. Pertama, jika hipotalamus tidak memproduksi ADH dalam jumlah yang cukup. Kedua, jika ginjal tidak merespon ADH sebagaimana mestinya.

Diabetes insipidus tidak memengaruhi fungsi ginjal. Artinya, penderita tak perlu mengkhawatirkan kebutuhan akan dialisis di kemudian hari. Meski menderita kondisi ini, ginjal masih dapat menyaring darah, serta membuang limbah dan air berlebih yang tidak lagi diperlukan oleh tubuh.

Penyebab Diabetes Insipidus

Ada empat jenis diabetes insipidus. Tiap jenisnya dipicu oleh penyebab yang berbeda, di antaranya:

  • Diabetes insipidu pusat - Ini terjadi saat kadar ADH di dalam tubuh tidak mencukupi. Kondisi ini merupakan akibat dari hipotalamus yang mengalami kerusakan karena terdapat tumor, operasi otak, atau cedera kepala.

  • Diabetes insipidus nefrogenik - Ini terjadi karena tubula ginjal tidak merespon ADH dengan baik. Akibatnya, mereka tidak mampu menyerap kembali air yang telah tersaring ke dalam tubuh sebagaimana mestinya. DI nefrogenik dapat terjadi sebagai kondisi turunan. Pada kasus lain, ini dapat disebabkan oleh obat tertentu dan penyakit ginjal.

  • Diabetes insipidus gestasi - Meski termasuk kasus yang langka, gangguan ini dapat dialami oleh wanita hamil. Ini dapat terjadi saat plasenta (organ yang memasok nutrien yang dibutuhkan oleh fetus selama di dalam kandungan) melepaskan sebuah enzim yang merusak ADH. Diabetes insipidus jenis ini tidak memerlukan pengobatan. Ini akan sembuh dalam beberapa minggu pasca melahirkan.

  • Diabetes insipidus dipsogenik - Berbeda dengan ketiga jenis DI pertama, yang terakhir ini terjadi bila seseorang terlalu banyak meminum air sehingga melampaui kebutuhan tubuh. Ini sering kali terjadi pada orang yang memiliki gangguan kejiwaan. Terlalu banyak air di dalam tubuh membuat pasokan ADH menurun. Hal ini membuat tubuh menahan lebih banyak cairan. DI dipsogenik pun tidak memerlukan pengobatan. Pasien akan sembuh saat dia menghentikan kebiasaan minum terlalu banyak air.

Gejala Utama Diabetes Insipidus

Pasien dengan gangguan ini perlu buang air kecil setiap saat. Biasanya, mereka pergi ke kamar kecil setiap jam. Ini berlangsung sepanjang siang dan malam hari. Mereka juga merasa haus meski telah banyak minum, bahkan mereka pun dapat mengompol. Di sisi lain, anak kecil akan merasa sulit tidur. Mereka juga menderita demam, serta pertumbuhan terhambat.

Gangguan ini dapat menyebabkan sejumlah komplikasi. Dehidrasi merupakan komplikasi yang paling umum. Pasien yang mengalami dehidrasi berat dapat terlihat dari mulut dan kulit yang tampak kering, serta tekanan darah rendah dan sakit kepala. Mereka juga mengalami demam dan detak jantung menjadi cepat.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang menampakkan tanda-tanda diabetes insipidus dianjurkan untuk menjalani uji puasa air (water deprivation test). Untuk menjalani tes ini, mereka tidak diperbolehkan meminum air sampai mereka kekurangan cairan. Lalu sampel urine dan darah akan diambil untuk uji laboratorium. Melalui ini, dokter dapat menentukan konsentrasi darah dan urine, serta kadar ADH dan mineral di dalam darah.

Tes ini hanya dilaksanakan oleh dokter spesialis. Ini hal yang mutlak, terutama jika pasien masih anak-anak atau wanita hamil. Dokter spesialis harus memantau pasien dengan saksama hingga tes selesai. Mereka harus memastikan pasien tidak kehilangan lebih dari 5% berat badannya selama tes berlangsung. Jika tidak, pasien akan mengalami dehidrasi. Bila itu terjadi, pasien kemungkinan akan mengalami komplikasi atau bahkan gangguan medis serius.

Diabetes insipidus tidak selalu menjadi alasan kekhawatiran. Kondisi ini tidak menyebabkan gejala berat pada orang yang mudah mendapatkan air. Namun, banyak orang yang merasa kerepotan jika harus pergi ke kamar kecil setiap jam.

Sementara itu, pasien dapat menghadapi masalah serius jika mereka tidak segera mengganti cairan yang hilang. Hal ini dapat menjadi masalah bagi anak kecil yang tidak memberi tahu kepada orang dewasa mengenai gejala yang mereka rasakan. Hal yang sama dapat terjadi pada orang dewasa yang memiliki gangguan kejiwaan.

Pilihan pengobatan dimulai dari mengubah pola makan sederhana hingga mengonsumsi hormon sintetik bagi penderita yang kekurangan ADH. Apabila kondisi ini merupakan akibat dari ginjal yang tidak merespon ADH dengan baik, pasien dianjurkan mengurangi asupan garam saat mereka makan. Mereka juga diberi obat untuk mengurangi volume urine. Di sisi lain, penderita diabetes insipidus dipsogenik dapat menyembuhkan gejala hanya dengan mengurangi minum.

Rujukan:

  • Ferri FF. Diabetes insipidus. In: Ferri’s Clinical Advisor 2016. Philadelphia, Pa.: Mosby Elsevier; 2016. https://www.clinicalkey.com.

  • Nephrogenic Diabetes Insipidus Foundation: “NDI Facts and Statistics.”

  • Diabetes Insipidus Foundation: “What Is Diabetes Insipidus?”

Bagikan informasi ini: