Apa itu Neuropati Diabetik?

Pasien dengan diabetes tipe 1 atau tipe 2 yang tidak terkontrol berisiko mengalami berbagai komplikasi karena kadar gula darah yang tinggi. Salah satu komplikasi ini adalah neuropati, kondisi medis yang ditandai dengan kerusakan saraf di berbagai bagian tubuh. Kondisi menyebabkan penderitanya kehilangan kemampuan untuk mentransmisikan impuls saraf dengan normal. Sampai 70% pasien diabetes menderita beberapa bentuk neuropati, yang tingkat keparahannya berkisar dari sangat ringan (asimptomatik) hingga parah (gejalanya dapat menyebabkan kelumpuhan dan bahkan fatal). Meski kondisinya bisa memengaruhi semua sistem organ tubuh, termasuk saluran kemih, sistem pencernaan, dan jantung, yang paling sering terkena adalah saraf pada anggota gerak tubuh bagian bawah.

Ada empat jenis neuropati diabetes yang dibagi berdasarkan lokasi saraf yang terkena. Ini adalah:

  • Neuropati diabetik perifer - Bentuk paling umum dari neuropati diabetes yang memengaruhi saraf pada lengan, tangan, kaki, dan telapak kaki. Hal ini dapat menyebabkan kelainan bentuk kaki, infeksi, dan bisul, pada kasus yang paling parah dapat menyebabkan amputasi.

  • Neuropati proksimal - Bentuk neuropati ditandai dengan berkurangnya sensasi, kerusakan saraf, dan nyeri di kaki, paha, pantat, dan pinggul.

  • Neuropati otonom - Bentuk neuropati diabetes yang merusak saraf di jantung dan sistem peredaran darah, mempengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk regulasi suhu, tekanan darah, buang air kecil, dan respons seksual.

  • Neuropati fokal - Jenis yang juga sering disebut mononeuropati ini memengaruhi saraf tunggal pada kaki, paha, atau pergelangan tangan. Hal ini juga dapat memengaruhi saraf di dada, punggung, dan otot yang mengendalikan mata.

Penyebab Neuropati Diabetik

Mekanisme mengenai diabetes tipe berapa yang menyebabkan neuropati belum sepenuhnya dipahami. Namun, berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa risiko melemahnya serabut saraf yang tertinggi adalah pada orang-orang yang:

  • Memiliki masalah dalam menjaga kadar gula darah

  • Obesitas

  • Memiliki tekanan darah tinggi dan penyakit ginjal

  • Merokok

  • Pernah menderita diabetes setidaknya 25 tahun

Gejala Utama Neuropati Diabetik

Tanda dan gejala penyakit ini bervariasi, tergantung pada jenis neuropati yang dimiliki pasien, tingkat keparahannya, dan saraf mana yang terpengaruh.

Neuropati perifer

  • Sensasi kejutan listrik

  • Nyeri kaki, infeksi, borok

  • Hilangnya koordinasi, keseimbangan, dan refleks

  • Melemahnya otot, kram, atau berkedut

  • Mati rasa

  • Menurunnya kemampuan merasakan perubahan suhu dan rasa sakit

  • Kram

  • Kesemutan

  • Gejala semakin memburuk di malam hari

Neuropati proksimal

  • Nyeri atau kelemahan pada lengan

  • Nyeri mendadak dan hebat di paha bagian atas, pinggul, dan bokong (seringkali hanya di satu sisi tubuh)

  • Kesulitan berdiri dari posisi duduk

  • Melemahnya kaki

Neuropati otonom

  • Gangguan kandung kemih

  • Kesulitan menelan

  • Gangguan pencernaan

  • Disfungsi ereksi pada pria

  • Gangguan mata

  • Gastroparesis

  • Hipoglikemia tanpa disadari

  • Ketidakmampuan untuk mengatur tekanan darah dan detak jantung

  • Meningkatnya denyut jantung saat istirahat

  • Keringat yang meningkat atau menurun

  • Mual terus-menerus, muntah, kembung, dan kehilangan nafsu makan

  • Diare yang tidak terkontrol

  • Vagina yang kering (pada wanita)

  • Penurunan berat badan

Neuropati fokal

  • Suara yang rendah

  • Nyeri pada dada atau perut

  • Penglihatan ganda

  • Sakit mata

  • Ketidakmampuan memusatkan mata

  • Nyeri panggul atau punggung bagian bawah

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pengobatan jangka panjang diabetes dilakukan dengan pemeriksaan rutin pasien untuk melihat tanda-tanda neuropati, yang seringkali melibatkan hal berikut:

  • Mengkaji ulang riwayat dan gejala medis pasien

  • Pemeriksaan fisik - Memeriksa tekanan darah pasien, detak jantung, kekuatan otot, refleks, dan kemampuan bergerak

  • Tes darah - Digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab gejala lainnya, termasuk masalah tiroid, infeksi tertentu, dan kekurangan vitamin B12

  • Pemeriksaan kaki - Pemeriksaan kaki menyeluruh direkomendasikan untuk pasien yang didiagnosis dengan diabetes tipe 1 atau tipe 2. Ini melibatkan pengecekan kaki dan telapak kaki pasien untuk melihat tanda-tanda kerusakan saraf, termasuk pembengkakan, luka yang lama untuk sembuh, dan kelainan bentuk. Sensasi atau rasa protektif di kaki juga dinilai melalui prosedur non-invasif yang disebut uji monofilamen. Prosedur ini dilakukan dengan cara menyentuh area tertentu di kaki menggunakan serat nilon yang lembut. Orang yang tidak dapat merasakan tekanan dari monofilamen telah kehilangan sensasi protektif.

  • Studi konduksi saraf - Digunakan untuk mengetahui kerusakan saraf dan tingkat keparahannya dengan mengukur kecepatan konduksi impuls listrik melalui saraf. Ini adalah tes non-invasif yang sangat sederhana yang melibatkan penempatan elektroda pada kulit di atas saraf yang diuji. Tes ini sering diikuti dengan elektromiografi (EMG), yang mengukur aktivitas listrik pada otot. Hasil kedua tes tersebut akan membantu dokter menemukan dan menilai kerusakan saraf.

Pengobatan

Penderita diabetes dapat diobati oleh ahli endokrinologi, dokter dengan pelatihan khusus dalam mengobati dan menangani penyakit sistem endokrin, seperti diabetes. Tidak diketahui obat yang dapat mengobati neuropati diabetes. Perawatan penayakit ini berfokus pada menghilangkan rasa sakit pasien, mengembalikan fungsi, dan memastikan kondisinya tidak berkembang. Prosedur perawatan ini sering melibatkan:

  • Menjaga diabetes tetap terkendali - Menjaga kadar glukosa darah sedekat mungkin dengan normal adalah satu-satunya cara bagi pasien untuk mencegah atau memperlambat perkembangan komplikasi diabetes. Seorang spesialis ndokrinologi membantu pasien menentukan target kadar glukosa darah mereka, dimana hal ini bergantung pada usia mereka, kondisi kesehatan secara keseluruhan, berapa lama mereka memiliki diabetes, dan apakah ada gangguan medis yang lain. Untuk mencapai kadar glukosa darah normal, pasien sering diresepkan dengan insulin dan disarankan untuk melakukan perubahan gaya hidup termasuk mengonsumsi makanan sehat, diet seimbang dan lebih aktif bergerak.

  • Rasa sakit - Nyeri saraf dapat diobati dengan obat-obatan, akupunktur, dan terapi fisik. Obat umum yang diresepkan untuk meringankan nyeri saraf yang terkait dengan diabetes adalah obat anti kejang dan antidepresan. Penting untuk dicatat bahwa obat tersebut terkait dengan komplikasi, di mana dokter harus menjelaskan sepenuhnya kepada pasien. Biasanya, obat ini hanya diresepkan jika manfaat yang diharapkan lebih besar dari kemungkinan risiko atau efek sampingnya.

  • Obat-obatan - Jenis obat lain juga sering diresepkan untuk mengelola komplikasi dan fungsi pemulihan lainnya. Misalnya, masalah saluran kencing sering diobati dengan obat antispasmodik sementara disfungsi seksual dapat dilakukan dengan obat yang dirancang untuk memperbaiki aliran darah ke penis, seperti Viagra.

Rujukan:

  • Diabetic neuropathies: The nerve damage of diabetes. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. http://diabetes.niddk.nih.gov/dm/pubs/neuropathies/index.aspx.

  • Amato AA, et al. Peripheral neuropathy. In: Harrison’s Principles of Internal Medicine. 18th ed. New York, N.Y.: The McGraw-Hill Companies; 2012. http://www.accessmedicine.com.

  • Bril, V., England, J., Franklin, G. M., Backonja, M., Cohen, J., Del Toro, D., … & Zochodne, D. (2011, April 11). Evidence-based guideline: Treatment of painful diabetic neuropathy. Neurology, 76(20), 1758-1765. http://www.neurology.org/content/76/20/1758.full

Bagikan informasi ini: