Apa itu Penyakit Ginjal Diabetik?

Penyakit ginjal diabetik yang juga dikenal sebagai nefropati diabetik, mengacu pada kondisi di mana terjadi kerusakan ginjal yang tidak dapat diperbaiki, yang disebabkan oleh tingginya kadar glukosa dalam darah (gula). Penyakit ini berkembang pada sekitar 35% pasien penderita diabetes dan merupakan salah satu komplikasi diabetes yang mematikan karena dapat memicu gagal ginjal. Berdasarkan penelitian, kondisi ini menyumbang lebih dari 50% kasus penyakit ginjal stadium akhir di Amerika Serikat.

Mereka yang dianggap paling berisiko terkena ginjal diabetik adalah orang gemuk yang berjuang mengendalikan diabetes dan tekanan darah. Penyakit ini dapat terjadi ketika pembuluh darah kecil di dalam ginjal mengalami kerusakan berulang dan mulai kehilangan kemampuannya untuk menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah. Jika ginjal berhenti bekerja sepenuhnya, limbah dan cairan ekstra akan terbentuk di aliran darah, sehingga dapat mengakibatkan pembengkakan ginjal dan kekurangan suplai darah bersih untuk tubuh. Kondisi seperti ini akan membutuhkan dialisis, yaitu pengobatan yang mengambil alih fungsi ginjal. Prosedur pengobatan ini melibatkan penggunaan mesin yang berfungsi untuk menyaring dan memurnikan darah. Seiring waktu, pasien yang menjalani prosedur dialisis mungkin akan memerlukan transplantasi ginjal di mana ginjal yang sakit dikeluarkan dan kemudian diganti dengan ginjal sehat yang didapatkan dari donor.

Ada cara yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ginjal diabetik ini berkembang. Pasien dengan diabetes harus bekerja sama dengan ahli endokrinologi untuk mencapai kadar glukosa darah yang ditargetkan lalu mempertahankannya, dibantu dengan mengonsumsi obat-obatan dan menerapkan gaya hidup sehat. Hal tersebut dapat mengurangi secara signifikan risiko terkena komplikasi dari penyakit ini.

Penyebab Penyakit Ginjal Diabetik

Orang dengan diabetes yang tidak terkontrol dan tekanan darah tinggi berisiko tinggi terkena penyakit ginjal diabetik. Bila digabungkan, kedua kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada sistem penyaringan ginjal yang halus. Seiring waktu, kerusakan ini dapat memburuk dan menyebabkan goresan dan penebalan pembuluh darah sehingga mencegah ginjal untuk menyaring darah secara efisien dan menyebabkan ginjal meloloskan protein ke dalam air kencing (urin). Kerusakan ini bisa terjadi bertahun-tahun sebelum terlihatnya gejala, biasanya ketika ginjal mulai mengalami kegagalan.

Selain tekanan darah tinggi, faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terkena penyakit ginjal adalah:

  • Tingkat gula darah yang tidak terkontrol

  • Diet yang tinggi kandungan garam

  • Obesitas atau kelebihan berat badan

  • Gaya hidup yang minim gerak

  • Diabetes tipe 1 yang dimulai sebelum pasien berumur 20 tahun

  • Riwayat keluarga yang terkena penyakit ginjal dan diabetes

  • Merokok

  • Ras - Studi menunjukkan kondisinya lebih umum terjadi di Afrika Amerika, Amerika Asli, dan Hispanik daripada ras lainnya.

  • Penyakit jantung

Gejala Utama Penyakitv Ginjal Diabetik

Penyakit ginjal diabetik tidak menunjukkan gejala nyata pada tahap awal. Satu-satunya cara bagi pasien untuk mengetahui bahwa mereka terkena penyakit tersebut atau tidak adalah dengan memeriksa ginjal mereka secara teratur. Ketika ginjal kehilangan kemampuan mereka untuk menyaring limbah dan cairan berlebih dari darah, maka gejala berikut akan timbul:

  • Kebingungan

  • Kelelahan

  • Sering infeksi

  • Perasaan sakit yang umum

  • Meningkatnya intensitas buang air kecil

  • Kadar gula darah rendah, yang bisa terjadi jika ginjal tidak mampu mengeluarkan kelebihan insulin dari darah

  • Gatal yang tak kunjung hilang

  • Penurunan nafsu makan

  • Adanya kandungan protein dalam urin

  • Pembengkakan mata, tangan, pergelangan kaki, dan kaki

  • Gangguan tidur

  • Penurunan berat badan

Jika kondisi berlanjut sampai ke tahap akhir gagal ginjal, pasien akan mengalami hal berikut:

  • Ritme jantung tidak normal

  • Kram otot

  • Nyeri perut

  • Diare

  • Demam

  • Mimisan

  • Ruam

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Penyakit ginjal diabetik dapat didiagnosis melalui:

  • Tes darah dan urin - Tes ini adalah tes rutin yang digunakan untuk memantau secara ketat kondisi dan fungsi ginjal penderita diabetes. Tes urin dapat mendeteksi adanya protein dalam urin, yang merupakan tanda awal penyakit ginjal diabetic. Di sisi lain, tes darah dapat menunjukkan tingkat gula rata-rata pasien selama tiga bulan terakhir. Tes darah dan urin biasanya merupakan langkah awal dalam menilai kerusakan pada ginjal. Jika hasilnya menunjukkan kelainan, tes diagnostik dan pencitraan tambahan akan dilakukan.

  • Tes Imaging - Magnetic Resonance Imaging (MRI), computed tomography (CT) scanning, x-ray, dan ultrasound ginjal dapat memberikan gambaran rinci tentang ginjal dan struktur sekitarnya. Ini dapat membantu dokter dengan mudah menemukan adanya kelainan, seperti perubahan ukuran ginjal dan adanya pertumbuhan yang abnormal.

  • Biopsi ginjal - Pengambilan sejumlah kecil jaringan ginjal untuk analisis di laboratorium. Hal itu bisa dilakukan secara perkutan atau melalui operasi terbuka. Biopsi ginjal perkutan dilakukan dengan memasukkan jarum khusus ke ginjal melalui sayatan kecil. Dalam biopsi terbuka, dokter akan membuat sayatan untuk mengangkat beberapa jaringan sampel dari ginjal sementara pasien berada di bawah pengaruh bius total.

Pengobatan penyakit ginjal diabetik berfokus untuk mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut. Pasien akan diobati oleh ahli endokrinologi (dokter spesialis yang mengkhususkan diri dalam pengobatan diabetes) dan ahli nefrologi (dokter yang mengkhususkan diri pada diagnosis dan pengobatan kelainan yang mempengaruhi ginjal). Pengobatan dimulai dengan menjaga kadar diabetes dan tekanan darah tinggi agar tetap terkendali. Hal ini dapat dicapai dengan menggabungkan penggunaan obat-obatan dan melakukan perubahan gaya hidup.

Obat yang sering diresepkan untuk pengobatan penyakit ginjal diabetic meliputi:

  • Penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE)

  • Statin atau obat penurun kolesterol

  • Dosis insulin yang tepat

Gaya hidup sehat juga memainkan peranan penting selama fase pengobatan. Untuk mencapai hasil terbaik, pasien harus:

  • Makan makanan seimbang yang tinggi buah dan sayuran

  • Berolahraga secara teratur - Dokter menyarankan setidaknya satu jam latihan lima sampai tujuh hari seminggu

  • Berhenti merokok dan hindari minuman beralkohol sebanyak mungkin

  • Minumlah setidaknya 8 gelas air setiap hari karena ini membantu tubuh membersihkan racun secara efektif

Jika kondisinya telah berkembang menjadi penyakit ginjal stadium akhir, satu-satunya pilihan pengobatan untuk pasien adalah cuci darah atau dialisis dan transplantasi ginjal.

Rujukan:

  • American Diabetes Association (2015).Standards of medical care in diabetes-2015. Diabetes Care, 38(Suppl 1): S1-S93.

  • Brownlee M, et al. (2011). Complications of diabetes mellitus. In S Melmed et al., eds., Williams Textbook of Endocrinology, 12th ed., pp. 1462-1551. Philadelphia: Saunders.

  • Yip JW, Jones SL, Wiseman MJ, Hill C, Viberti G. Glomerular hyperfiltration in the prediction of nephropathy in IDDM: a 10-year follow-up study. Diabetes. 1996 Dec. 45(12):1729-33.

  • Bherwani S, Saumya AS, Ahirwar AK, et al. The association of folic acid deficiency and diabetic nephropathy in patients with type 2 diabetes mellitus. Endocr Metab Immune Disord Drug Targets.2016 Apr 15.

Bagikan informasi ini: