Apa itu Gagal Jantung Diastolik?

Gagal jantung adalah kondisi medis di mana jantung tidak dapat memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Akibatnya, berbagai organ, seperti otak dan paru-paru, tidak menerima oksigen serta nutrisi yang dibutuhkannya. Kondisi ini bisa mengancam nyawa. Namun, obat-obatan dan perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat dapat membantu pasien menjalani hidup utuh nan aktif.

Gagal jantung bisa terjadi sisi kiri atau kanan. Gagal jantung sisi kiri disebabkan oleh masalah pada ventrikel kiri jantung. Ventrikel tersebut memasok sebagian besar tenaga agar jantung bisa memompa. Ventrikel ini dapat kehilangan kemampuannya berkontraksi (sistolik) atau rileks secara normal (gagal diastolik).

Pada gagal jantung sistolik, jantung tidak mampu memompa cukup darah untuk dialirkan ke bagian tubuh lain. Sementara, pada gagal jantung diastolik (DBD) otot jantung menjadi kaku. Selain itu, jantung tidak dapat beristirahat dengan cukup di antara detak jantung. Akibatnya, jantung tidak mengisi dengan cukup darah. Hal ini bisa menyebabkan darah berbalik ke bagian tubuh yang lain. Lama kelamaan, kondisi ini dapat meningkatkan tekanan pada ventrikel karena darah dari detak jantung berikutnya mencoba memasuki jantung.

Penyebab Gagal Jantung Diastolik

Gagal jantung diastolik dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti:

  • Tekanan darah tinggi kronis - Ini mengacu pada kondisi di mana tekanan darah di arteri tinggi. Pada orang dewasa, tekanan darah normal adalah 120/80. Angka pertama (120) menunjukkan tekanan pada pembuluh darah saat darah terdorong keluar dari jantung (tekanan darah sistolik). Sementara, angka kedua (80) menunjukkan tekanan saat jantung relaks untuk mengisi dengan darah (tekanan darah diastolik). Tekanan darah tinggi membuat jantung bekerja lebih keras. Hal ini bisa membuat otot jantung lebih tebal atau lebih besar.

  • Penyakit jantung koroner - Penyakit ini terjadi saat arteri yang memasok darah ke otot jantung tersumbat. Biasanya, sumbatan disebabkan oleh penumpukan plak.

  • Penuaan - Gagal jantung diastolik umumnya didiagnosis pada pasien berusia 50 dan ke atas. Seiring bertambahnya usia, keelastisan pembuluh darah berkurang.

  • Stenosis aorta - Ini mengacu pada penyempitan arteri aorta. Aorta adalah arteri utama tubuh. Arteri tersebut bertanggung jawab untuk mendistribusikan darah ke berbagai bagian tubuh dan organ tubuh.

  • Kardiomiopati hipertrofik - Kondisi ini terjadi saat otot jantung membesar.

  • Kardiomiopati restriktif - Penyakit otot jantung di mana bilik jantung bagian bawah tidak dapat berkembang saat pengisian darah.

Gejala Utama Gagal Jantung Diastolik

Gagal jantung diastolik mencegah jantung memompa cukup darah ke bagian tubuh lainnya. Kondisi ini mengurangi jumlah oksigen dan nutrisi yang masuk ke organ vital, seperti paru-paru dan otak. Karena itu, pasien dengan gagal jantung diastolik biasanya menunjukkan gejala berikut:

  • Napas tersengal - Penderita sering terengah-engah, terutama saat mereka berbaring. Hal ini bisa mengganggu tidurnya. Gejala ini juga menyebabkan kelemahan dan kelelahan.

  • Tungkai bawah yang membengkak

  • Kurang nafsu makan dan mual

  • Denyut jantung cepat

  • Penumpukan cairan di area dada

  • Hati yang membesar

  • Vena leher yang menonjol atau membesar

  • Batuk kronis atau mengi

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Mendiagnosis gagal jantung diastolik terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi dokter. Ini karena gejalanya juga bisa disebabkan oleh penyakit lain, seperti obesitas dan paru-paru. Selain itu, dokter kadang mengalami kesulitan membedakan gagal jantung sistolik dan diastolik.

Tes yang paling umum digunakan untuk mendiagnosis gagal jantung adalah adalah kateterisasi jantung. Untuk tes ini, dokter memasukkan kateter tipis dan fleksibel ke dalam pembuluh darah untuk mencapai jantung. Tes ini bisa memastikan adanya masalah dengan kemampuan jantung untuk rileks dan mengisi dengan darah atau tidak. Ekokardiografi doppler juga sering digunakan. Tes ultrasound ini memungkinkan dokter memperoleh gambar jantung serta menentukan kecepatan dan arah aliran darah. Tes lain yang digunakan meliputi rontgen dada, elektrokardiogram, dan tes olahraga.

Pengobatan gagal jantung diastolik berfokus untuk mencegah perkembangannya. Ini melibatkan penanganan penyakit mendasar, seperti termasuk diabetes dan tekanan darah tinggi.

Untuk mengobati gagal jantung diastolik, dokter biasanya memberikan resep obat untuk mencapai tekanan darah normal sekaligus mencegah denyut jantung abnormal. Obat yang menghilangkan penumpukan plak dan memperlebar pembuluh darah juga sering diberikan. Penderita juga disarankan untuk melakukan perubahan gaya hidup sehat. Seperti, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan yang sehat, dan berolahraga secara teratur. Cukup tidur dan minum delapan gelas air setiap hari juga membantu. Selain itu, mereka juga harus berhenti merokok dan sebisa mungkin menghindari minum alkohol.

Dengan pengobatan yang cepat dan tepat, prognosis untuk pasien gagal jantung diastolik pada umumnya baik. Banyak yang bisa hidup normal dan bahkan aktif dengan bantuan obat-obatan.

Rujukan:

  • Heart failure (HF). The Merck Manual Professional Edition. http://www.merckmanuals.com/professional/cardiovascular_disorders/heart_failure/heart_failure_hf.html?qt=heart%20failure&alt=sh.

  • Yancy CW, et al. 2013 ACCF/AHA guideline for the management of heart failure. Journal of the American College of Cardiology. 2013;62:e147.

Bagikan informasi ini: