Apa itu Diskitis?

Diskitis adalah kondisi medis dimana terjadi pembengkakan pada ruang antara diskus tulang belakang, yang dapat menyebabkan tekanan abnormal pada diskus dan menimbulkan rasa nyeri.

Diskitis adalah jenis peradangan tulang belakang langka yang sering terjadi bersamaan dengan osteomyelitis, yaitu infeksi yang menyerang tulang dan sumsum tulang. Infeksi ini seringkali memengaruhi daerah lumbal, tapi bisa juga memengaruhi tulang belakang servikal dan toraks.

Diskitis juga dapat menempatkan diskus tulang belakang dalam risiko. Diskus adalah organ avaskular terbesar di tubuh, yang berarti tidak memiliki suplai darah sendiri, jadi seseorang yang terkena diskitis akan sangat sulit untuk melawan infeksi karena sumber utama sel darah putih telah menyebar melalui pelat ujung vertebra. Inilah sebab mengapa pasien dengan diskitis harus segera diobati untuk mencegah komplikasi serius.

Penyebab Diskitis

Diskis diklasifikasikan menjadi dua, diskitis spontan dan diskitis pasca operasi. Kemungkinan penyebab dari diskitis spontan meliputi:

  • Infeksi virus

  • Infeksi bakteri

  • Respons abnormal autoimun

Infeksi yang dapat menyebabkan diskitis tidak selalu berasal dari ruang diskus atau tulang belakang itu sendiri. Seringkali, infeksi menyebar melalui aliran darah ke ruang tulang belakang (bakteremia transien). Sebagian besar kasus diskitis terkaitkan dengan infeksi sistemik, seperti infeksi saluran kemih, infeksi jaringan lunak, dan pneumonia. Infeksi-infeksi tersebut paling sering disebabkan oleh spesies bakteri staphylococcus aureus, E.coli, dan Proteus.

Faktor risikonya meliputi:

  • Gangguan autoimun

  • Sistem kekebalan tubuh lemah

  • Penggunaan obat intravena, yang bisa disebabkan oleh penyalahgunaan obat-obatan terlarang IV atau kontaminasi jarum IV

  • Usia - Diskitis lebih sering terjadi pada anak di bawah usia sepuluh tahun

Penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh seseorang juga dianggap sebagai faktor yang dapat menyebabkan diskitis. Contohnya adalah penyakit ginjal stadium akhir dan diabetes mellitus.

Sementara, diskitis pasca operasi terjadi akibat komplikasi pasca operasi. Sekitar 1-2 persen pasien yang menjalani operasi tulang belakang terkena diskitis pasca operasi, yang paling umum adalah diskektomi sederhana.

Gejala Utama Diskitis

Diskitis dapat menyebabkan gejala berikut:

  • Nyeri pada bagian tulang belakang tertentu

  • Nyeri di punggung bagian bawah dan atas

  • Perubahan postur tubuh

  • Kekakuan tulang belakang

  • Kesulitan melakukan rutinitas

  • Demam

  • Sakit perut

Rasa sakit yang disebabkan oleh diskitis bisa sangat parah. Pada anak-anak yang sangat muda, kondisi ini mungkin sangat sulit ditangani dan bisa menyebabkan gangguan berjalan atau tulang belakang melengkung.

Untuk mengetahui apakah gejala ini disebabkan oleh diskitis dan bukan karena kondisi lain yang serupa, dokter mungkin akan melakukan sejumlah tes seperti:

  • Scan tulang - Digunakan untuk mendeteksi infeksi tulang belakan dengan memeriksa ruang di sekitarnya.

  • Tes darah, termasuk CBC (hitung darah lengkap) untuk mendeteksi infeksi

  • Magnetic Resonance Imaging (MRI) - Pemindaian MRI adalah alat diagnostik yang paling meyakinkan dan pasti yang dapat mengkonfirmasi diagnosis diskitis

  • Rontgen

  • Analisis jaringan, di mana dokter mengambil sampel jaringan tulang belakang pasien untuk analisa lebih lanjut

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Diskitis dapat diobati oleh dokter spesialis tulang belakang atau lumbal. Pendekatan utama untuk pengobatan penyakit ini meliputi:

  • Obat - obat antimikroba diresepkan yang berfungsi untuk melawan infeksi, serta analgesik yang berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit. Pasien yang menjalani terapi antibiotik untuk diskitis seringkali memerlukan masa pengobatan standar 6 sampai 8 minggu.

  • Drainase - Jika abses sudah terbentuk, pengobatan juga akan melibatkan proses untuk mengeluarkannya guna mengurangi tekanan pada sumsum tulang belakang dan menstabilkan tulang belakang.

  • Steroid - Disarankan untuk diskitis berat atau kronis. Pasien mungkin juga disarankan untuk memakai peralatan pendukung untuk bagian belakang, seperti braces punggung untuk mengurangi mobilitas bagian yang terkena selama pemulihan.

  • Tempat tidur, yang mungkin diperlukan untuk beberapa pasien

  • Perubahan gaya hidup, termasuk perubahan aktivitas sehari-hari pasien

  • Olahraga ringan untuk bagian tubuh yang terkena diskitis untuk mencegah seluruh tubuh menjadi lemah.

Jika kondisinya tidak kunjung membaik, maka dibutuhkan perawatan yang lebih intensif, seperti pembedehan. Prosedur pembedahan untuk pengobatan diskitis mungkin melibatkan biopsi perkutan dari bagian yang terinfeksi.

Prognosis untuk pasien yang menderita diskitis sangat dipengaruhi oleh seberapa dini kondisi didiagnosis dan diobati. Jika kondisinya disebabkan oleh infeksi, risiko terbesar adalah berkembangnya sepsis atau abses epidural, yang dapat terjadi jika infeksi menyebar ke organ lain atau sistem saraf. Risiko-risiko tersebut mungkin terjadi jika pengobatan tertunda. Komplikasi potensial lain dari diskitis, jika tidak ditangani segera, adalah fusi intervertebralis dan kelumpuhan.

Kesimpulannya, faktor yang dapat memperbaiki prognosis pasien meliputi:

  • Diagnosis dini

  • Penggunaan MRI untuk memastikan diagnosis yang akurat

  • Terapi antimikroba berkepanjangan

  • Intervensi bedah tepat waktu

Rujukan:

  • Marcovici A. “Diskitis.” 2016 Jan 29. Medscape. http://emedicine.medscape.com/article/1263845-overview#a3

  • Parra JLC, Martin A SA, Urda Martinez-Aedo AL, Ivanez IS, Agredo A, Stern LLD. “Management of infectious discitis. Outcome in one hundred and eight patients in a University Hospital.” Int Orthop. 2012 Feb; 36(2): 239-244. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3282861/

  • Bajwa ZH, Ho C, Grush A, Kleefield J, Warfield CA. “Discitis associated with pregnancy and spinal anesthesia.” Anesth Analg. 2002 Feb; 94(2): 415-6. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11812710

Bagikan informasi ini: