Apa itu Dislokasi Prostesis Sendi Pinggul?

Penggantian sendi pinggul adalah operasi tulang untuk mengganti bola dan mata sendi pinggul dengan implan prostetik. Prosedur ini dapat direkomendasi sebagai alternatif terakhir untuk mengobati nyeri sendi kronis dan melemahkan akibat artritis, dislokasi pinggul (tergelincir), dan abnormalitas tertentu pada pinggul. Penggantian sendi menawarkan manfaat sebagai pereda nyeri yang tahan lama dan meningkatkan mobilitas dan kualitas hidup pasien, baik dalam jangka menengah maupun panjang.

Teknik bedah dengan teknologi baru yang canggih membantu mengurangi risiko dan komplikasi akibat penggantian sendi pinggul. Namun, dislokasi prostesis sendi masih terjadi pada 2-10% pasien. Komplikasi ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk tidak mematuhi anjuran kesehatan, penyakit neurologis yang menyertai, usia pasien yang sudah lanjut, tekanan jaringan lunak yang tidak mencukupi, infeksi, dan dokter bedah yang kurang pengalaman.

Dislokasi prostesis sendi pinggul kemungkinan memerlukan bedah revisi, yaitu pengangkatan separuh atau seluruh implan sendi. Bila dibandingkan dengan prosedur sebelumnya, bedah revisi jauh lebih rumit. Sebab, sebagian besar kasus berupa kerusakan pada tulang pendukung dan jaringan lunak terdekat, yang dapat meningkatkan risiko dislokasi baru.

Penyebab Utama Dislokasi Prostesis Sendi Pinggul

Prostesis sendi pinggul dapat tergelincir karena:

  • Faktor dari pasien - Insiden dislokasi lebih tinggi hingga 8% pada pasien dengan penyakit neuromuskular, termasuk penyakit Parkinson, serebral palsy, demensia, dan distropi muskular. Risiko juga lebih tinggi pada pasien lansia yang rentan terjatuh dan pasien yang tidak mematuhi rehabilitasi pasca operasi.

  • Faktor dari prosedur bedah - Yang termasuk ke dalam faktor ini adalah metode bedah, serta kualifikasi dan pengalaman dokter bedah. Analisis yang dilakukan pada lebih dari 13,000 prosedur penggantian pinggul total menunjukkan bahwa metode posterior berisiko lebih tinggi dibandingkan dengan metode anterior, anterolateral, dan lateral. Pengalaman dokter bedah juga merupakan faktor yang memengaruhi tingkat dislokasi. Berdasarkan penelitian, dibandingkan dokter yang lebih berpengalaman, angka kasus dislokasi dua kali lebih tinggi pada dokter bedah tulang yang menangani kurang dari 30 prosedur penggantian sendi.

  • Faktor dari implan - Posisi yang tepat dan desain prostesis sendi dapat meningkatkan stabilitas dan mengurangi risiko dislokasi, serta komplikasi lainnya.

Gejala Utama Dislokasi Prostesis Sendi Pinggul

Risiko dislokasi prostesis lebih tinggi dalam tiga bulan pertama pasca operasi. Saat itu, otot dan ligamen sedang dalam masa penyembuhan. Apabila prostesis tergelincir, pasien dapat mengamati gejala berikut:

  • Bunyi kertakan atau letupan saat sendi tergelincir

  • Kaki yang mengalami dislokasi tampak lebih pendek

  • Kaki yang mengalami dislokasi terpuntir ke luar

  • Tulang pinggul terasa tergelincir dari sendi

  • Kaki atau pinggul tidak mampu menopang berat badan

  • Nyeri di bagian kaki atas, bokong, dan pinggul

  • Nyeri luar biasa pada area selangkangan

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang mengalami dislokasi prostesis harus berkonsultasi pada dokter spesialis tulang untuk mendapat pengobatan.

Prosedur berikut biasanya dilakukan untuk memeriksa dan menentukan pengobatan yang tepat bagi kondisi pasien:

  • Pemeriksaan fisik pada bagian pinggul atau kaki

  • Wawancara medis menyeluruh, di mana pasien akan ditanyai mengenai situasi yang berujung pada dislokasi dan apakah dislokasi merupakan yang pertama kali

  • Tes laboratorium - Untuk memastikan atau menangani radang dan/atau infeksi yang menyebabkan dislokasi

  • Tes pencitraan, seperti pemindaian tulang dan tomografi komputer (CT-scan) – Untuk menentukan apakah implan terasa longgar atau pasien mengalami fraktur

  • Aspirasi sendi

Pada beberapa kasus, dislokasi prostesis dapat dimanipulasi melalui reduksi tertutup. Tujuannya untuk mengembalikan prostesis ke posisi semula. Reduksi tertutup adalah prosedur tanpa operasi, tanpa sayatan atau peralatan bedah. Untuk prosedur ini, lokasi dislokasi akan diberi bius dan pelemas otot (muscle relaxant). Kemudian, dokter akan menyeimbangkan panggul pasien, memberi traksi pada anggota gerak tubuh bagian bawah, dan memutar paha dengan lembut untuk menggeser kepala femur ke lokasi semula, yaitu di dalam acetabulum.

Bila reduksi tertutup tidak dapat menjadi alternatif, maka pasien dianjurkan menjalani bedah revisi pinggul. Melalui prosedur ini, dokter akan mengganti prostesis dari operasi sebelumnya. Ini dilakukan persis seperti operasi sebelumnya, hanya saja lebih rumit, tidak dapat diprediksi, dan seringkali lebih lama, karena hampir selalu ada pengeroposan di sekitar prostesis utama. Oleh sebab itu, dokter bedah umumnya memperkuat tulang dengan cangkok tulang, yang dapat diambil dari tubuh pasien atau bank tulang mm (alograft).

Bedah penggantian prostesis mempunyai risiko dan komplikasi tertentu, termasuk:

  • Reaksi penolakan terhadap obat bius

  • Pembentukan bekuan darah, yang dapar berujung pada emboli paru-paru

  • Dislokasi berulang - Tidak ada jaminan bahwa sendi palsu yang telah diperbaiki tidak akan mengalami dislokasi kembali setelah operasi revisi. Nyatanya, risiko dislokasi dan serta infeksi lebih tinggi setelah prosedur diulangi.

  • Sendi pinggul palsu melonggar

  • Myositis ossificans - Kondisi di mana tulang terbentuk di sekitar sendi pinggul, sehingga pinggul menjadi kaku.

Bedah revisi pinggul tidak dianjurkan oada kondisi tertentu, seperti pada kasus infeksi yang terlampau berat, pengeroposan tulang yang parah, atau bila pasien mengidap penyakit lain yang membuatnya tidak memenuhi syarat untuk operasi. Bila tidak mengganti prostesis yang tergelincir, pasien tidak akan mampu berjalan lagi.

Rujukan:

  • Iorio R, Robb WJ, Healy WL, et al. Orthopaedic surgeon workforce and volume assessment for total hip and knee replacement in the United States: preparing for an epidemic. J Bone Joint Surg. 2008;90:1598–1605.

  • Parvizi J, Picinic E, Sharkey PF. Revision total hip arthroplasty for instability: surgical techniques and principles. J Bone Joint Surg. 2008;90:1134–1142.

  • Zwartelé RE, Brand R, Doets HC. Increased risk of dislocation after primary total hip arthroplasty in inflammatory arthritis: a prospective observational study of 410 hips. Acta Orthop Scand. 2004;75:684–690.

Bagikan informasi ini: