Apa itu Gangguan Manset Rotator?

Manset rotator terdiri dari tendon dan otot, yang bekerja sama untuk menjaga stabilitas lengan atas. Bagian tubuh ini juga memungkinkan bahu untuk bergerak. Sehingga, orang-orang dapat mengangkat lengan melebihi kepala, merentangkan bahu, dan meluruskan lengan mereka.

Gangguan manset rotator merupakan penyebab umum dari nyeri bahu. Kondisi ini dapat terjadi karena sobekan dan keretakan biasa, peradangan, dan trauma. Biasanya, gangguan manset rotator dapat diamati pada orang-orang yang melakukan olahraga tertentu atau pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk menggerakkan tangan dengan gerakan tertentu secara terus menerus. Contohnya adalah olahraga basket dan tenis, serta melukis.

Penyebab Gangguan Manset Rotator

Di bawah ini adalah daftar Gangguan manset rotator berikut penyebabnya:

  • Kalsifikasi tendonitis - Ini terjadi akibat penumpukan timbunan kalsium. Kondisi ini dapat membatasi rentang gerak lengan. Ini pun sering kali menyebabkan nyeri. Umumnya, kondisi ini dialami oleh pasien yang berusia antara 30 dan 40 tahun. Kondisi ini kerap sembuh tanpa pengobatan dalam dua sampai empat minggu.

  • Tendonitis manset rotator - Ini berarti manset rotator mengalami radang. Sering kali, orang yang terlibat dalam aktivitas yang membuat mereka harus mengangkat lengan dengan tinggi secara terus menerus.

  • Bursitis - Kondisi ini merujuk pada pembengkakan bursa. Bursa adalah kantong yang terletak di antara tulang yang berada di atas bahu dan manset rotator. Ini mengandung cairan pelumas. Tugasnya adalah memastikan tendon manset rotator mampu menggelincir secara halus saat lengan digerakkan. Bursitis sering kali disebabkan oleh trauma kecil berulang pada persendian bahu. Kondisi ini pun dapat disebabkan oleh infeksi.

  • Sobekan manset rotator - Manset rotator yang sobek adalah salah satu penyebab umum dari kelemahan bahu. Ini membuat aktivitas ringan menjadi terasa sangat menyakitkan. Pasien dengan kondisi ini sering kali kesulitan hanya untuk menyisir rambut atau saat mengenakan sabuk pengaman. Sobekan dapat berupa total atau parsial. Tendon yang terluka, namun tetap tersambung pada tulang merupakan kondisi sobekan parsial. Tendon yang terpisah dari tulang merupakan kondisi sobekan total. Keduanya dapat disebabkan oleh degenerasi tulang. Ini pun dapat terjadi akibat trauma. Contohnya saat seseorang jatuh dengan posisi lengan yang terentang atau saat mengangkat benda yang terlalu berat.

Gejala Utama Gangguan Manset Rotator

Tanda awal dari kondisi ini adalah nyeri berat. Nyeri yang terasa sering kali dimulai dari wilayah depan dan sisi bahu. Pasien menjadi tidak mampu merentangkan lengan mereka. Bahkan, bagi pasien yang mengalami sobekan manset rotator total, mereka tidak mungkin mengangkat lengannya dengan lebar. Pada kasus yang berat, nyeri bahu dapat dirasakan saat pasien sedang beristirahat. Gejala seperti itu dapat membuat mereka kekurangan tidur. Gejala umum lainnya adalah rentang gerak lengan yang berkurang dan bahu yang lemah. Keduanya membuat pasien tidak mampu mengangkat benda-benda dan merentangkan lengan mereka.

Gangguan ini harus diobati secepatnya. Jika bahu masih tidak dapat digerakkan dalam waktu yang panjang, kemungkinan akan timbul kondisi yang disebut sindrom bahu beku.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang mengalami gangguan manset rotator harus mengunjungi spesialis ortopedi. Dokter inilah yang berspesialisasi dalam mengobati gangguan yang menyerang tulang dan otot. Beberapa tes untuk mendiagnosis kondisi ini termasuk:

  • Tes fisik - Dokter akan memeriksa wilayah bahu untuk menemukan tanda-tanda cedera. Selama tes, pasien diminta untuk melakukan beberapa gerakan lengan. Mereka akan diminta untuk mengangkat lengan mereka ke atas kepala. Apabila memungkinkan, mereka juga diminta untuk merentangkan lengan mereka. Dokter juga akan mencari tanda-tanda cedera fisik. Ini termasuk radang dan tenderness di wilayah bahu. Hal ini membantu memeriksa keparahan kondisi pasien.

  • Meninjau riwayat kesehatan pasien - Dokter ingin tahu apakah pasien memiliki riwayat atas penyakit tertentu, seperti diabetes. Pasien juga dimintai keterangan mengenai pekerjaan mereka dan apakah mereka terlibat dalam jenis-jenis olahraga tertentu.

  • Tes pencitraan - Dokter sering kali meminta prosedur rontgen untuk mendapatkan gambar dari bagian bahu yang cedera. Tes MRI pun dapat dilakukan. MRI memberi informasi yang lebih detail daripada rontgen. Dengan memadukan keduanya, dokter akan mampu mendiagnosis kondisi pasien dan tingkat keparahannya.

Kasus yang ringan dan sedang sering kali ditangani dengan pengobatan tanpa operasi. Tujuannya adalah untuk mengobati nyeri dan meningkatkan fungsi bahu. Pasien akan diberi obat-obatan pereda nyeri dan antiradang. Mereka juga disarankan untuk memakai kompres es dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kerusakan lebih parah pada persendian. Pada sejumlah kasus, gangguan manset rotator merespons pengobatan ini dengan sangat baik. Pasien akan mampu kembali ke aktivitas normal mereka dalam dua hingga empat minggu.

Kondisi yang parah memerlukan operasi. Contohnya saat manset rotator benar-benar sobek atau saat pasien mengalami bahu beku. Operasi dapat melibatkan penjahitan ujung sobekan manset rotator. Lalu, semua itu disambungkan kembali pada tulang humerus. Kemungkinan, fragmen-fragmen yang tergelincir pun harus diangkat untuk meningkatkan hasil dari prosedur ini. Fragmen-fragmen ini bisa termasuk bagian bursa dan taji tulang yang meradang. Apabila manset rotator tertekan, dokter juga akan memangkas tulang di sekitarnya.

Operasi dapat dilakukan dengan memakai metode konvensional. Pada prosedur ini, dokter beda akan membuat sayatan panjang di wilayah bahu. Metode alternatif yang lebih baik disebut perbaikan artroskopis. Jika dibandingkan, prosedur ini tidak terlalu invasif dan hanya memerlukan beberapa sayatan kecil. Ini dikenal dapat meminimalisir risiko operasi, seperti perdarahan dan infeksi. Dokter bedah memilih metode yang terbaik berdasarkan sifat dan keparahan cedera yang dialami pasien.

Operasi sering kali diikuti dengan terapi fisik. Bekerja sama dengan terapis fisik, pasien akan mampu mengembalikan kekuatan bahu mereka dengan cepat. Hal ini membuat mereka dapat segera melakukan kembali ke rutinitas mereka.

Rujukan:

  • Kasper, D.L., et al., eds. Harrison’s Principles of Internal Medicine, 19th Ed. United States: McGraw-Hill Education, 2015.

  • Frontera WR, et al. Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation: Musculoskeletal Disorders, Pain, and Rehabilitation. 2nd ed. Philadelphia, Pa.: Saunders Elsevier.

Bagikan informasi ini: