Apa itu Gangguan pada Implan Defibrilator?

Implan defibrilator atau Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) adalah alat yang digunakan untuk mengatasi detak jantung abnormal yang parah. Alat ini ditanamkan di dada atau perut. Kemudian, ia akan mengalirkan kejutan atau tegangan listrik saat jantung berdetak terlalu lambat atau cepat. Fungsinya adalah mencegah gagal jantung dan serangan jantung mendadak. Serangan jantung adalah kondisi di mana jantung berhenti berdetak. Sehingga, aliran darah ke seluruh tubuh terhenti dan menyebabkan organ vital mati dalam hitungan menit.

Meskipun ICD adalah alat penyelamat nyawa, ia menempatkan pasien pada risiko komplikasi jika mengalami malfungsi. Bagian manapun dari sistem ICD daoar terlepas. Selain itu, ICD juga bisa mengalirkan kejutan atau tegangan listrik saat tidak dibutuhkan. Adapun risiko lainnya yaitu nyeri dan perdarahan. ICD juga bisa menimbulkan masalah yang lebih serius, seperti:

  • Infeksi pada area di mana alat ditanamkan

  • Kerusakan pada pembuluh darah dan saraf di sekitarnya. Alat ini juga dapat menimbulkan kerusakan pada jantung.

  • Paru-paru kolaps - Ini adalah salah satu kemungkinan komplikasi dari bedah pemasangan ICD

  • ICD gagal berfungsi dengan baik saat dibutuhkan - Akibatnya, pasien berada dalam risiko mengalami gagal jantung dan serangan jantung mendadak.

Penyebab Gangguan pada Implan Defibrilator

Penanaman atau pemasangan ICD membutuhkan bedah minor. Bedah dilaksanakan untuk memasukkan kabel utama melalui pembuluh darah guna mencapai jantung. Setelah kabel sampai, generator ICD akan ditanamkan di bawah kulit dan kabel dihubungkan ke generator.

Komplikasi terkait ICD bisa disebabkan oleh pembedahan. Karena prosedur bedah membutuhkan sayatan, ada risiko peradarahan dan infeksi. Selain itu, ada juga risiko merusak pembuluh darah di sekitarnya dan juga jantung. Komplikasi lainnya adalah kolapsnya paru-paru. Ini dapat terjadi ketika lubang muncul pada paru-paru dan memungkinkan udara menumpuk di antara dinding dada dan paru-paru. Namun, biasanya kompikasi terkait pembedahan bersifat ringan dan mudah diatasi.

Selain komplikasi terkait pembedahan, ada juga komplikasi pasca bedah. Komplikasi ini terkait dengan seberapa baik alat dapat bekerja. Kabel utama atau generator memiliki kemungkinan bergeser dari posisinya. Saat ini terjadi, sistem ICD tidak bisa mendeteksi cepat dan lambatnya detak jantung. Ini juga bisa menyebabkan mengalirkan kejutan atau tegangan listrik saat tidak dibutuhkan. Akibatnya, area di mana alat dipasangkan dapat terasa nyeri dan mengalami peradarahan.

Gejala Utama Gangguan pada Implan Defibrilator

Gejala dari kondisi ini termasuk:

  • Peradarahan - Hal ini bisa terjadi jika sistem ICD copot atau sebagai komplikasi pembedahan.

  • Mengalirnya tegangan listrik di saat tidak semestinya - Berdasarkan penelitian, komplikasi ini terjadi pada sekitar 8,5% dari semua pasien dengan ICD.

  • Infeksi - Hal ini dapat terjadi jika patogen masuk ke tubuh melalui sayatan yang dilakukan selama bedah. Hal ini juga dapat terjadi jika pasien memiliki reaksi alergi terhadap sistem ICD.

  • Timbal fraktur - Ini adalah salah satu penyebab utama kegagalan sistem ICD. Hal ini dapat menyebabkan sistem menjadi terlalu sensitif, sehingga generator dapat mengalirkan tegangan listrik meski tidak dibutuhkan.

  • Nyeri - Beberapa pasien mungkin mengalami nyeri dada.

  • Luka dehiscence - ini bisa disebabkan oleh sejumlah faktor. Ini termasuk trauma pada luka setelah bedah, gangguan medis tertentu, dan dokter bedah yang kurang berpengalaman.

  • Kegagalan perangkat - Hal ini dapat menyebabkan gagal jantung dan serangan jantung mendadak.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang ICD-nya bermasalah akan ditangani oleh seorang spesialis jantung.

Umumnya, masalah yang disebabkan oleh bedah ICD sering terdeteksi dan ditangani sebelum pasien dipulangkan dari rumah sakit. Masalah yang sering muncul dan cara penanganannya, antara lain:

  • Infeksi - Masalah ini diobati dengan antibiotik. Pada kasus yang parah, sistem ICD mungkin perlu diganti. Pasien yang menjalani bedah untuk mengganti ICD masih berisiko terinfeksi.

  • Mengalirnya tegangan listrik di saat tidak semestinya - Pasien dengan masalah ini disarankan untuk kembali ke dokter secepatnya. Sebab, sistem ICD mungkin perlu diprogram ulang untuk memperbaiki masalah.

  • Gangguan pada ICD - Sistem ICD mungkin gagal mengalirkan tegangan listrik saat dibutuhkan. Hal ini dapat disebabkan oleh fraktur timbal atau penonaktifan generator secara tidak disengaja. Dalam kasus tersebut, pasien akan diminta menjalani terapi obat untuk menstabilkan ritme jantung. Mereka mungkin juga perlu menjalani bedah lain agar penggantian ICD mereka.

  • Timbal fraktur - Jika timbal telah gagal atau berhenti bekerja dengan baik, dokter bedah akan mengangkat dan mengantinya. Ada juga pilihan membiarkan kabel utama dan generator pada tempatnya, namun menambahkan kabel lain. Dokter bedah akan memutuskan metode terbaik tergantung pada keadaan pasien.

Meskipun banyak masalah terkait ICD dapat diperbaiki, dokter lebih memilih untuk mencegahnya terjadi. Oleh karena itu, pasien diminta melakukan konsultasi ICD lanjutan, yang dijadwalkan seminggu setelah bedah. Dokter juga perlu memastikan bahwa luka bedah sembuh dengan baik dan pasien belum mengembangkan infeksi dan komplikasi lainnya.

Semua pasien dengan ICD harus menemui dokter mereka untuk perawatan lanjutan setidaknya setiap enam bulan sekali. Selama tindak lanjut ini, alat tersebut akan terus diperiksa untuk memastikannya berfungsi dengan baik. Baterai juga diperiksa. Dokter juga akan menganalisa setiap aktivitas yang dicatat oleh perangkat. Hal ini memungkinkan dokter untuk melihat apakah perangkat merespon dengan baik terhadap irama jantung yang tidak normal. Jika perlu, sistem ICD diprogram ulang untuk mencapai hasil yang optimal.

Rujukan:

  • The Antiarrhythmics versus Implantable Defibrillators (AVID) Investigators. A comparison of antiarrhythmic-drug therapy with implantable defibrillators in patients resuscitated from near-fatal ventricular arrhythmias. The Antiarrhythmics versus Implantable Defibrillators (AVID) Investigators. N Engl J Med. 1997 Nov 27. 337(22):1576-83.

  • Moss AJ, Hall WJ, Cannom DS, et al. Improved survival with an implanted defibrillator in patients with coronary disease at high risk for ventricular arrhythmia. Multicenter Automatic Defibrillator Implantation Trial (MADIT) Investigators. N Engl J Med. 1996 Dec 26. 335(26):1933-40.

Bagikan informasi ini: