Apa itu Kelainan Usus Buntu?

Apendiks atau usus buntu adalah organ yang berbentuk seperti tabung tipis yang terletak di pangkal usus, di mana usus besar dan kecil bertemu. Banyak dokter menyakini bahwa organ ini tidak memiliki fungsi apapun. Namun, beberapa mengatakan organ ini dibutuhkan oleh manusia purba untuk mencerna daun dan kulit kayu yang keras.

Sama seperti organ tubuh lainnya, usus buntu bisa mengembangkan sejumlah kelainan. Salah satu yang paling sering ditemui adalah infeksi, yang bisa memicu pembengkakan dan pecahnya organ. Selain itu, usus buntu bisa mengalami pertumbuhan abnormal.

Saat kelainan muncul, usus buntu seringkali perlu diangkat. Namun, pengangkatan ini tidak perlu dikhawatirkan. Sebab, mengangkat usus buntu melalui operasi tidak menimbulkan masalah kesehatan jangka pendek maupun panjang.

Penyebab Kelainan Usus Buntu

Di bawah ini adalah daftar kelainan yang dapat terjadi di usus buntu dan penyebabnya:

  • Apendisitis - Ini adalah kelainan usus buntu yang paling sering ditemui. Kelainan inini berkembang saat aliran darah ke organ tersumbat atau terputus. Tanpa pasokan nutrisi dan oksigen yang cukup dari darah, organ bisa mati. Hal ini juga meningkatkan risiko infeksi bakteri di dalam organ dan menyebabkan terbentuknya nanah.

  • Tumor - Tumor dapat terbentuk di dalam atau di sekitar organ, jika sel sehat di area tertentu mulai berubah dan tumbuh tidak terkendali. Kemudian, sel-sel ini bisa menumpuk dan membentuk pertumbuhan abnormal. Pertumbuhan jinak atau non-kanker seringkali tidak terdiagnosis karena tidak menimbulkan gejala. Biasanya, pertumbuhan tersebut ditemukan saat pasien menjalani tes pencitraan untuk kondisi medis lain yang tidak terkait.

  • Kanker - Usus buntu juga bisa terkena kanker. Kondisi ini terjadi ketika sel abnormal membentuk tumor dan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Pertumbuhan ini bisa dimulai di dinding usus buntu, di dasar organ, atau di sekitar organ.

Gejala Utama Kelainan Usus Buntu

Pasien dengan usus buntu bengkak sering menderita sakit di sekitar pusar. Rasa sakit juga bisa dirasakan di sisi kanan bawah perut. Gejala lainnya termasuk pembengkakan perut, muntah, dan diare. Pasien mungkin juga mengalami mual dan kehilangan nafsu makan. Banyak juga yang kesulitan untuk buang gas. Jika usus buntu pecah, pasien akan mengalami demam tinggi dan infeksi.

Gejala tumor usus buntu sebagian besar sama dengan apendisitis. Inilah alasan terjadi kasus salah diagnosa. Sementara, kanker usus buntu menyebabkan gejala tambahan dibandingkan apendisitis dan tumor usus buntu. Ini termasuk asites, bertambahnya ukuran lingkar pinggang, dan ketidaksuburan.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Kelainan usus buntu akan ditangani oleh spesialis gastroenterology, yaitu dokter yang mengkhususkan diri pada gangguan dan penyakit pada sistem pencernaan.

Pasien yang menunjukkan tanda dan gejala yang tercantum di atas sering dicurigai menderita radang usus buntu. Untuk melakukan diagnosa, dokter akan meminta pasien menjalani tes darah dan urin untuk mencari tanda-tanda infeksi. Tes ini juga membantu menyingkirkan penyebab lain dari gejala yang ditunjukkan. Seperti, batu ginjal, infeksi saluran kemih (ISK), dan kehamilan ektopik.

Jika tes mendeteksi adanya kelainan, dokter akan memerintahkan pasien menjalani tes pencitraan, termasuk CT scan, x-ray, dan ultrasound. Tes ini akan menghasilkan gambar organ perut. Sehingga, memungkinkan dokter untuk melihat ada atau tidaknya kelainan dengan mudah.

Tes pencitraan juga dapat mengonfirmasi atau menyingkirkan adanya tumor. Jika pertumbuhan abnormal terdeteksi, dokter akan melakukan biopsi. Untuk prosedur ini, sampel jaringan kecil diambil untuk penelitian lebih lanjut. Jika tumornya jinak, dokter akan mengeluarkan usus buntu melalui operasi.

Jika tumornya bersifat kanker, tes lainnya akan dilakukan untuk menentukan ukuran dan lokasinya. Dokter juga akan melakukan tes untuk melihat apakah kanker tersebut telah menyebar ke organ lain atau belum.

Usus buntu yang bengkak diangkat jika telah dipastikan pasien menderita radang usus buntu. Namun, jika organ sudah bernanah, dokter spesialis bedah akan menunda prosedurnya. Karena, ia perlu menguras nanah dan cairan yang terakumulasi di dalam organ. Ini membantu mengurangi risiko meluasnya infeksi. Setelah itu, pengangkatan organ bisa dijadwalkan dalam dua sampai tiga bulan kemudian.

Jika usus buntu sudah pecah, dokter spesialis bedah perlu segera melaksanakan operasi. Jika operasi tertunda, bakteri dan zat berbahaya lainnya dari usus buntu bisa menyebar ke dalam rongga perut. Hal ini akan menjadi perhatian karena bisa sangat sulit diobati.

Apendektomi juga dapat dilakukan. Ada dua pendekatan apendektomi, terbuka tradisional dan minimal invasif.

Pendekatan pertama dilaksanakan jika ada abses dan usus buntu sudah pecah. Pendekatan ini membutuhkan satu sayatan besar di sisi kanan bawah perut. Sayatan tersebut digunakan memberikan akses mudah ke usus buntu dan cara yang lebih mudah untuk membersihkan rongga perut. Kemudian, sayatan tersebut ditutup dengan jahitan.

Sementara, pendekatan kedua dilakukan secara laparoskopi, di mana tabung dengan sumber cahaya dan kamera dimasukkan melalui sayatan kecil. Selain itu, instrumen bedah kecil lainnya juga dimasukkan. Kamera mengambil gambar lampiran dan struktur sekitarnya. Gambar-gambar ini kemudian ditampilkan di layar untuk memandu dokter spesialis bedah saat ia melakukan prosedur. Kelebihan pendekatan kedua adalah berkurangnya risiko dan waktu pemulihan lebih cepat.

Tumor pada usus buntu juga diangkat dengan operasi. Jika tumornya ganas, struktur jaringan di sekitar lokasi penyebaran sel kanker juga harus diangkat. Dalam beberapa kasus, ini berarti pengangkatan usus besar di samping usus buntu atau peritoneum. Operasi bisa diikuti dengan kemoterapi atau terapi radiasi tergantung stadium kanker. Kedua terapi ini digunakan untuk membunuh sisa sel kanker. Selain itu, bisa juga digunakan untuk meringankan gejala bagi penderita kanker usus buntu yang sudah lanjut yang tidak bisa lagi disembuhkan.

Prognosis untuk pasien dengan kanker usus buntu tergantung pada stadium dan seberapa mereka menerima pengobatan. Mayoritas orang yang memiliki tumor kecil dan terlokalisir dapat disembuhkan dengan operasi. Sementara, mereka yang kankernya telah menyebar ke kelenjar getah bening regional hanya memiliki tingkat kelangsungan hidup lima tahun sebesar 78%. Jumlah ini turun menjadi hanya 32% bagi mereka yang kankernya telah menyebar ke bagian organ yang berjarak jauh.

Rujukan:

  • Higa E, Rosai J, Pizzimbono CA, Wise L. Mucosal hyperplasia, mucinous cystadenoma, and mucinous cystadenocarcinoma of the appendix. A re-evaluation of appendiceal “mucocele”. Cancer 1973; 32:1525.

  • Definitions and facts for appendicitis. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/appendicitis/definition-facts

  • Amy Hunter “How Your Appendix Works” 4 June 2008. HowStuffWorks.com. https://health.howstuffworks.com/human-body/parts/appendix.htm 15 November 2017

Bagikan informasi ini: