Apa itu Dystonia?

Dystonia adalah kondisi medis yang dikaraterisasikan dengan kontraksi otot secara tidak sadar yang disebabkan postur abnormal dan gerakan yang berulang. Dalam beberapa kasus, gerakan yang mirip dengan getaran. Gerakan secara sengaja pada otot yang sakit akan membuat kondisi semakin parah dan menyebar ke otot terdekat.

Penyebab pasti dari dystonia belum berhasil ditentukan, namun para peneliti percaya bahwa ketidakmampuan otak untuk melakukan fungsinya berperan dalam mengembangkan kondisi ini. Penyebab lainnya yang memungkinkan adalah kecelakaan (menyebabkan cedera yang memengaruhi otak) dan keturunan. Hasil penelitian menunjukkan anak-anak memiliki risiko tinggi untuk mengembangkan kondisi ini, bahkan jika hanya salah satu orang tuanya yang memiliki gen abnormal yang terkait dengan dystonia.

Oleh karena itu, dystonia diklasifikasikan menjadi tiga jenis: idiopatik, genetik, dan diperoleh. Dystonia idiopatik mengacu pada kondisi di mana penyebab pastinya tidak dapat ditentukan. Dystonia genetik mengacu pada kasus di mana kondisi ini diturunkan oleh orang tua ke anak. Dystonia yang diperoleh adalah akibat sekunder dari kecelakaan, seperti cedera kepala, hipoksia (kurangnya oksigen ke otak), infeksi, stroke, atau pendarahan otak neonatal.

Selain dari tiga klasifikasi utama, dystonia juga diklasifikasikan menurut bagian tubuh yang terkena dystonia:

  • Generalized dystonia mengacu pada kondisi di mana kebanyakan bagian tubuh terpengaruh.
  • Focal dystonia merupakan kondisi di mana hanya bagian tubuh tertentu yang terpengaruh.
  • Multifocal dystonia adalah kondisi di mana dua atau lebih bagian tubuh terpisah terpengaruh.
  • Segmental dystonia adalah istilah medis di mana bagian tubuh yang saling berdekatan terpengaruh.
  • Hemidystonia adalah kondisi di mana lengan dan kaki, baik bagian kanan atau kiri terpengaruh.

Penyebab Dystonia

Meskipun dokter percaya bahwa komplikasi otak berperan dalam menyebabkan dystonia, penyebab pastinya masih belum diketahui. Namun, ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap muncul dystonia. Pada dystonia genetik, salah satu anak mungkin mendapatkan gen abnormal karena kondisi ini, dari orang tuanya. Pada dsytonia yang diperoleh, cedera kepala, infeksi, dan gangguan kesehatan lainnya yang dapat memengaruhi fungsi otak dapat menyebabkan dystonia.

Namun, jika kondisi diklasifikasikan sebagai dystonia idiopatik, ini berarti bahwa dokter tidak dapat menentukan penyebab pastinya dan telah menghilangkan kemungkinan penyakit ini diturunkan atau disebabkan oleh kondisi medis yang telah ada sebelumnya.

Gejala Utama Dystonia

Gejala utama dari dystonia adalah kontraksi otot tidak disengaja. Kondisi ini dapat terjadi pada otot kepala, wajah, dan tubuh. Biasanya, gejala dimulai dengan perlahan dan berkembang hingga parah. Ini dapat memakan waktu beberapa bulan hingga tahun.

Otot yang biasanya terpengaruh oleh penyakit ini adalah otot leher. Kejang pada leher memiliki kecenderungan menggerakan leher ke samping atau dalam gerakan menyentak berulang kali. Jika dystonia berkembang menjadi lebih parah, atau pada tingkat tertinggi, maka akan memengaruhi bahu, lengan, dan juga kaki.

Dalam beberapa kasus, otot wajah juga terpengaruh. Jika dystonia memengaruhi kelopak mata, ini dapat tertutup sepenuhnya dan menyebabkan kebutaan fungsional. Dystonia juga dapat memengaruhi pita suara, sehingga seseorang akan berbicara dengan suara berbisik yang tegang.

Penting untuk diperhatikan, meskipun dystonia adalah penyakit kronis, ini tidak memengaruhi kecerdasan dan kemampuan kognitif apapun.

Saat gejala dystonia muncul pertama kali, biasanya ringan. Faktanya, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka telah mengalami penyakit ini. Namun, paling baik adalah berkonsultasi dengan dokter saat gejalanya masih ringan.

Jika kondisi ini dibiarkan, ada resiko terjadi komplikasi seperti cacat fisik permanen, kebutaan fungsional, masalah berbicara, nyeri dan kelelahan kronis.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Kebanyakan orang mengunjungi dokter, saat mereka menyadari bahwa gejalanya bertambah parah. Pada saat itu, mereka telah merasakan ketidaknyamanan berbulan-bulan bahkan tahunan.

Untuk mendiagnosa kondisi ini, dokter keluarga atau dokter umum akan memulai dengan mendapatkan deskripsi lengkap tentang gejala yang dialami. Pasien akan diminta untuk menyediakan rekam medis yang rinci dan riwayat penyakit pada keluarga. Dokter akan mencoba mengidentifikasi kondisi dasar yang ada. Gangguan mungkin merupakan gejala dari masalah kesehatan lain. Jika iya, pengobatan akan termasuk mencari solusi untuk dasar dari masalah bukan hanya gejalanya.

Sayangnya, tidak ada pengobatan yang tersedia untuk dystonia. Pilihan pengobatan yang tersedia dirancang untuk mengendalikan gejala, sehingga pasien dapat hidup dengan normal.

Sebelum memutuskan rencan pengobatan yang paling tepat, dokter akan meminta beberapa uji diagnostik yang biasanya termasuk tes darah dan urin, pemindaian CT, X-ray, atau MRI. Tes elektromyografi juga dilakukan, yaitu untuk mengukur aktivitas kelistrikan pada otot.

Dystonia tidak dapat disembuhkan dengan obat atau operasi apapun. Namun, beberapa obat-obatan dapat mengurangi gejalanya, terutama jika sudah memengaruhi cara hidup seseorang.

Obat-obatan seperti, Botulinum Toxin A, atau yang lebih dikenal sebagai Botox, dapat mengurangi kontraksi dengan sementara waktu melumpuhkan saraf yang menyebabkan dystonia. Botox hanya efektif dalam jangka waktu tertentu. Namun, bagi sebagai orang, efek Botox hanya bertahan beberapa minggu. Bagi yang lain, efeknya dapat bertahan beberapa bulan atau lebih. Saat, efeknya mulai hilang, orang tersebut perlu berkonsultasi ke dokter untuk suntikkan Botox lainnya.

Obat yang meningkatkan atau mengurangi kemampuan otak untuk menghasilkan dopamine juga dapat mengurangi gejala dystonia. Selain obat-obatan, pasien dystonia juga dapat melakukan terapi fisik, terapi bicara, atau trik sensorik untuk membantu pasien mengatasi gejala yang muncul.

Dalam beberapa kasus, dokter juga menyarakan operasi, seperti stimulasi otak mendalam. Namun, ini hanya disarankan jika metode pengobatan non-bedah gagal untuk meningkatkan kondisi pasien.

Bentuk pengobatan alternatif, seperti yoga, akunpuntur, meditasi, dan pilates juga bermanfaat, selama diperbolehkan oleh dokter Anda.

Rujukan:

  • National Institute of Neurological Disorders and Stroke: "Dystonia Fact Sheet."
  • Dystonia Medical Research Foundation: "What is Dystonia?"
Bagikan informasi ini: