Apa itu Gagal Ginjal Stadium Akhir?

Gagal ginjal stadium akhir (End Stage Renal Disease/ESRD) adalah kondisi saat ginjal kehilangan kemampuan untuk melakukan fungsinya. Kondisi ini sangat serius, sebab dapat membuat kualitas hidup pasien menurun drastis. Banyak kasus dari penyakit ini yang berujung pada kematian.

Ginjal adalah organ vital. Fungsinya mengeluarkan limbah dan cairan berlebih dari darah. Saat ginjal tidak lagi mampu bekerja dengan baik, limbah dan cairan akan menumpuk di dalam tubuh. Hal ini dapat memicu sejumlah komplikasi. Di antaranya kerusakan pada jantung, pembuluh darah, dan sistem saraf pusat.

Pasien gagal ginjal stadium akhir perlu menjalani dialisis rutin. Prosedur ini akan mengambil alih fungsi ginjal. Ini melibatkan penggunaan mesin untuk membersihkan darah pasien. Dialisis biasanya memakan waktu sekitar empat jam dan harus dilakukan setidaknya tiga kali dalam sepekan.

Pasien ESRD adalah kandidat yang tepat untuk transplantasi ginjal. Prosedur tersebut merupakan opsi yang lebih baik daripada dialisis. Namun, mendapat donor ginjal bukanlah hal yang mudah. Banyak pasien yang harus menunggu selama beberapa bulan atau bahkan tahun untuk mendapatkannya.

Penyebab Gagal Ginjal Stadium Akhir

Gagal ginjal stadium akhir diawali dengan kerusakan ginjal yang memburuk selama lebih dari beberapa tahun. Kerusakan apa pun pada ginjal bersifat permanen. Ini sering kali disebabkan oleh penyakit dan gangguan. Di antaranya termasuk diabetes (baik tipe satu maupun dua) dan tekanan darah tinggi. Penyebab lainnya adalah kerusakan unit dan tubula penyaring ginjal. Stadium akhir juga dapat diakibatkan oleh penyakit ginjal polikistik, infeksi ginjal berulang, dan penyakit autoimun.

Gejala Utama Gagal Ginjal Stadium Akhir

Banyak pasien yang tidak menampakkan tanda apa pun saat masih dalam stadium awal kerusakan ginjal. Mereka mulai menyadari gejalanya saat ginjal tidak mampu menyaring darah secara efisien. Hal ini membuat limbah, cairan, dan elektrolit dengan kadar yang tinggi menumpuk di dalam tubuh. Ini dapat menyebabkan mual, muntah, dan lelah. Tanda-tanda lain termasuk kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan secara drastis.

Ketika kondisinya memburuk, pasien kemungkinan mengalami gangguan jantung (akibat kadar potasium di dalam darah yang meningkat) dan kejang (saat sistem saraf pusat ikut terpengaruh). Komplikasi lainnya termasuk anemia, infeksi berulang, dan risiko fraktur tulang meningkat.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Kerusakan ginjal stadium awal sulit untuk didiagnosis karena tidak menampakkan banyak gejala. Itulah sebabnya, pasien berisiko tinggi dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan rutin. Makin cepat diketahui, prognosis pasien akan makin baik. Gagal ginjal stadium akhir dapat dihindari atau setidaknya diperlambat dengan mengubah gaya hidup menjadi sehat. Pasien harus lebih aktif bergerak dan mengonsumsi pola makan yang seimbang. Penting juga bagi mereka untuk menjaga berat badan ideal. Mereka juga harus memastikan bahwa penyakit mereka yang mereka derita (seperti diabetes dan hipertensi) ada di bawah kendali.

Pasien ditangani oleh dokter spesialis ginjal. Tes dan prosedur untuk mendiagnosis penyakit ini termasuk tes darah dan urine. Tes-tes ini bertujuan untuk mengukur kadar produk limbah di dalam tubuh. Keduanya juga mengukur kadar protein albumin di dalam urine. Apabila hasil tes mengindikasikan adanya abnormalitas, dokter akan melakukan tes pencitraan untuk mendapatkan gambar ginjal. Gambar-gambar inilah yang dapat memperlihatkan perubahan ukuran dan struktur ginjal. Biopsi ginjal juga sering dilakukan. Prosedur ini berupa pengambilan sampel jaringan gjnjal untuk dipelajari lebih lanjut. Biopsi berguna untuk membantu dokter menentukan keluasan penyakit.

Gagal ginjal terdiri dari lima stadium yang ditentukan berdasarkan laju saring glomerulus (GFR). Ini mewakili kadar darah yang mampu disaring oleh ginjal dalam tiap menit. Kadar darah direkam dengan satuan mililiter per menit (mL/min). Makin rendah GFR menandakan stadium gagal ginjal yang makin tinggi. Pasien didiagnosis mengidap gagal ginjal stadium tinggi (stadium lima) apabila GFR mereka kurang dari 15%.

Pasien yang tediagnosis gagal ginjal stadium akhir harus segera menjalani dialisis atau cuci darah. Prosedur ini mengambil alih fungsi ginjal dengan menggunakan mesin yang dirancang untuk membersihkan darah. Pasien harus menjalani dialisis peritoneal atau hemodialisis. Dalam hemodialisis, dua buah jarum ditusukkan ke dalam vena pada lengan pasien. Salah satu jarum digunakan untuk membuat darah mengalir ke penyaringan. Jarum lainnya digunakan untuk mengembalikan darah yang telah disaring. Prosedur ini tidak terasa menyakitkan. Namun jika merasa nyeri, pasien dapat meminta obat untuk membuat mati rasa tiap kali jarum disisipkan.

Dalam dialisis peritoneal, kereter permanen disisipkan ke dalam rongga perut. Larutan pembersih pada area di sekeliling organ dalam akan dikeluarkan melalui keteter. Sebelum dikeluarkan, larutan ini dibiarkan di dalam selama beberapa jam. Proses ini diulangi setiap hari selama 4-5 sehari.

Saat menjalani dialisis, pasien dianjurkan untuk melakukan perubahan gaya hidup yang sehat. Mereka disarankan untuk bekerja sama dengan ahli diet dan berolahraga secara rutin. Pasien juga mendapat perawatan dukungan. Mereka akan diobati untuk komplikasi yang mereka alami. Tujuannya pengobatan ini adalah untuk memastikan mereka dapat merasa lebih baik.

Opsi pengobatan lain untuk gagal ginjal stadium akhir adalah transplantasi ginjal. Prosedur operasi ini melibatkan penggantian ginjal yang rusak dengan ginjal sehat dari donor yang masih hidup atau sudah meninggal. Meski ini adalah opsi invasif, ini lebih alternatif yang lebih baik daripada harus menjalani cuci darah selamanya.

Namun, proses untuk mendapatkan ginjal sering kali panjang dan sulit. Pasien pun harus berada dalam daftar tunggu. Sebagian besar dari mereka harus menunggu selama beberapa bulan atau tahun sebelum mendapatkan donor ginjal. Saat donor sudah tersedia, transplantasi akan dilakukan. Melalui prosedur ini, ginjal donor akan ditaruh ke dalam perut bawah. Kemudian, ginjal dihubungkan pada pembuluh darah dan saluran kemih. Setelah menjalani prosedur ini, pasien diberi obat-obatan yang mencegah sistem imun untuk menyerang ginjal baru.

Masa pemulihan setelah transplantasi ginjal umumnya sekitar tiga sampai delapan pekan. Selama itu, pasien akan terus dipantau secara saksama. Mereka harus menjalani tes darah rutin untuk memastikan bahwa ginjal baru mereka bekerja dengan baik.

References:

  • Kidney failure: Choosing a treatment that’s right for you. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. http://www.niddk.nih.gov/health-information/health-topics/kidney-disease/kidney-failure-choosing-a-treatment-thats-right-for-you/Pages/facts.aspx.

  • Inker LA, et al. KDOQI US commentary on the 2012 clinical practice guideline for the evaluation and management of CKD. American Journal of Kidney Diseases.

  • Chronic kidney disease (CKD) and diet: Assessment, management and treatment. National Kidney Disease Education Program. http://www.niddk.nih.gov/health-information/health-communication-programs/nkdep/a-z/Documents/ckd-diet-assess-manage-treat-508.pdf

Bagikan informasi ini: