Apa itu Endokarditis?

Jantung adalah organ yang sangat terlindungi dari serangan bakteri yang berbahaya. Biasanya, bakteri hanya akan melalui jantung tanpa menimbulkan bahaya. Namun, jika jantung bermasalah (terutama pada katupnya), bakteri dapat menempel di lapisan dalam jantung dan akan menimbulkan infeksi. Kondisi infeksi ini disebut dengan endokarditis. Endokarditis adalah penyakit yang jarang ditemui, tetapi dapat menimbulkan komplikasi dapat menyebabkan kematian jika tidak segera diobati. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah gagal jantung dan stroke.

Meskipun penyakit ini dapat menyerang siapa saja, penyakit ini lebih sering ditemui pada orang yang sudah berumur dan pernah memiliki riwayat masalah pada jantung, seperti pada mereka yang sudah pernah menjalani bedah penggantian katup jantung, atau sedang menggunakan alat pacu jantung atau alat pacu jantung yang ditanam (implantable cardioverter-defibrillator – ICD). Namun, meskipun pasien memiliki masalah pada jantungnya, tidak berarti risiko terserang endokarditis menjadi lebih besar. Contohnya, coronary artery stents, bedah bypass jantung, dan serangan jantung adalah masalah jantung yang biasa terjadi dan tidak selalu disebabkan oleh endokarditis.

Penyebab Endokarditis

Endokarditis disebabkan oleh adanya kuman yang masuk ke dalam peredaran darah. Karena setiap tetes darah yang mengalir dalam tubuh akan melewati jantung, kuman akan juga mengalir lewat jantung. Normalnya, jantung memiliki pertahanan yang cukup kuat untuk melawan bakteri, dan karenanya jantung jarang terkena serangan bakteri. Namun, dalam beberapa kasus, pertahanan jantung ini dapat melemah dan kuman pun akan menempel pada lapisan dalam jantung. Jika hal ini terjadi, kuman dapat menimbulkan infeksi, yang akan menyebabkan endokarditis.

Infeksi bakteri dan jamur yang disebut candida adalah penyebab endokarditis yang paling umum. Hanya saja, terkadang dokter tidak dapat menentukan penyebab pasti dari terjadinya penyakit ini.

Kuman dapat masuk ke aliran darah dengan berbagai cara, seperti jarum suntik yang tidak steril dalam penggunaan infus, atau saat seseorang menggunakan narkoba dengan suntikan. Kuman juga dapat masuk saat pembedahan gigi atau pembedahan lain pada organ pernapasan, organ kemih, tulang, otot, atau kulit.

Sangat penting untuk pasien yang mengalami infeksi untuk segera mendapatkan perawatan endokarditis sesegera mungkin. Sayangnya, karena sifat dari gejalanya yang sulit dideteksi, beberapa orang tidak pernah didiagnosa mengalami endokarditis sampai penyakitnya sudah berkembang.

Gejala Utama

Salah satu alasan kenapa pasien tidak segera melakukan pengobatan untuk penyakit ini adalah karena gejalanya mirip dengan penyakit flu, seperti menggigil, demam, kelelahan, rasa sakit di bagian sendi, dan keringat dingin, Pasien biasanya akan merasakan penurunan berat badan, kesulitan bernapas, dan batuk-batuk. Dalam beberapa kasus, titik-titik kecil berwarna merah atau ungu dapat dilihat di bawah kulit, dan bahkan darah dapat tampak pada kuku.

Namun, tidak seperti flu, gejala-gejalanya tidak cepat hilang dengan mudah. Beberapa orang mungkin akan merasakan gejalanya hilang untuk beberapa waktu, tetapi gejalanya akan kembali lagi.

Jika Anda merasakan gejala-gejala ini, jangan langsung berasumsi Anda hanya menderita flu, terutama jika anda telah mengalami satu atau beberapa gejala endokarditis. Sebaiknya, Anda segera berkonsultasi kepada ahli medis untuk mengurangi risiko kemungkinan perkembangan penyakit tersebut sebelum menjadi komplikasi yang lebih serius.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Jika Anda merasakan gejala-gejala yang sudah disebutkan, pastikan anda berkonsultasi dengan dokter keluarga anda, yang akan memeriksa riwayat penyakit keluarga anda sebelum melakukan pemeriksaan menyeluruh, yang termasuk memeriksa detak jantung menggunakan stetoskop, terutama jika anda pernah menderita debaran jantung yang tidak normal.

Dokter Anda akan mendengarkan debaran jantung yang tidak normal ataupun perubahannya dengan riwayat medis debaran jantung yang pernah Anda derita. Karena gejala endokarditis sering disalahartikan dengan gejala penyakit lainnya, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan lainnya untuk memastikan penyebab penyakit Anda. Pemeriksaan ini mencakup pemeriksaan darah, electrocardiogram, echocardiogram transesofagus, sinar-X pada dada, CT Scan, atau MRI.

Pemeriksaan darah akan dilakukan untuk menentukan ada atau tidaknya keberadaan bakteri pada darah. Echocardiogram transesofagus akan membantu dokter untuk menganalisis kondisi jantung Anda, dan mencari kemungkinan adanya infeksi. Sedangkan electrocardiogram (ECG) akan menentukan apakah Anda memiliki kelainan detak jantung, yang biasa ditemui pada pasien endokarditis. Pemeriksaan dengan pengambilan gambar santir menggunakan sinar-X, MRI, atau CT Scan akan memberi tahu dokter jika ada perubahan yang terjadi pada jantung.

Jika dokter sudah memastikan Anda menderita endokarditis, Anda akan menerima perawatan sesegera mungkin. Perawatan pertama yang akan dilakukan adalah pemberian obat untuk mengatur infeksi yang sudah terjadi. Obat-obatan yang akan diberikan adalah antibiotik dosis tinggi yang akan diberikan melalui infus. Jika dokter menyatakan kondisi anda stabil, anda akan diperbolehkan pulang. Namun, biasanya anda tetap akan melanjutkan perawatan menggunakan antibiotik tersebut.

Dokter Anda akan meminta anda jika Anda perlu untuk melapor ke klinik untuk pemeriksaan reguler. Namun, dalam hal ini tidak berarti anda hanya akan datang ke dokter pada tanggal yang sudah ditentukan. Jika Anda merasakan demam, menggigil, susah bernapas, sakit kepala, dan rasa sakit pada persendian, anda perlu segera kembali ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang akan diatur kembali.

Alasan kenapa endokarditis perlu segera diobati adalah karena penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius. Komplikasi akan tampak jika obat-obatan yang diberikan tidak berhasil memulihkan kondisi anda. Ini mungkin menandakan adanya kemungkinan infeksi yang terjadi sudah menyebar ke salah satu katup jantung Anda.

Dokter akan perlu memeriksa katup jantung Anda dan memberika perawatan yang diperlukan. Perawatan yang akan dilakukan salah satunya adalah pembedahan minim risiko untuk memperbaiki atau mengganti katup jantung Anda.

Perawatan endokarditis yang sukses tidak mengurangi kemungkinan Anda terserang lagi dengan penyakit yang sama. Bahkan, risiko Anda terserang lagi akan semakin tinggi. Endokarditis biasa muncul pada pasien yang memiliki riwayat pernah mengalami penyakit yang sama. Untung mengurangi risiko Anda terserang endokarditis, anda perlu melakukan perubahan gaya hidup. Perubahan ini mencakup perlunya mengonsumsi antibiotik sebelum dan setelah pembedahan jenis apapun, dan menghindari apapun yang mungkin dapat membuat kuman masuk ke dalam aliran darah anda, seperti cabut gigi, suntikan, dan penggunaan narkoba.

Anda juga perlu merawat gigi Anda dengan lebih baik dan juga menjaga kesehatan Anda secara umum. Dengan cara merawat kesehatan Anda dan melakukan pemeriksaan pencegahan, anda akan mengurangi risiko perlunya melakukan pembedahan atau pencabutan gigi, atau pembedahan gigi yang lainnya.

Rujukan:

  • Baddour LM, Freeman WK, Suri RM, Wilson WR. Cardiovascular infections. In: Mann DL, Zipes DP, Libby P, Bonow RO, Braunwald E, eds. Braunwald's Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 10th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2015:chap 64.

  • Fowler VG Jr, Scheld WM, Bayer AS. Endocarditis and Intravascular Infections. In: Mandell GL, Bennett JE, Dolin R, eds. Principles and Practice of Infectious Diseases. 7th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Churchill Livingstone; 2009; chapt 77.

  • Wilson W, Taubert KA, Gewitz M, et al. Prevention of infective endocarditis: guidelines from the American Heart Association: a guideline from the American Heart Association Rheumatic Fever, Endocarditis, and Kawasaki Disease Committee, Council on Cardiovascular Disease in the Young, and the Council on Clinical Cardiology, Council on Cardiovascular Surgery and Anesthesia, and the Quality of Care and Outcomes Research Interdisciplinary Working Group. Circulation. 2007 Oct 9;116(15):1736-54.

Bagikan informasi ini: