Definisi dan Ringkasan

Endometriosis adalah keadaan ketika sel-sel endomentrium berpindah dari uterus (rahim) ke anggota tubuh lainnya. Sel-sel endometrium adalah sel-sel yang membentuk pelapis uterus, sehingga ketika sel-sel tersebut berada tidak pada tempatnya, akan timbul masalah pada sistem reproduksi wanita. Pada umumnya, sel-sel tersebut kemudian akan membentuk jaringan pada ovarium, bagian luar dari uterus, atau tuba falopii. Jaringan tersebut juga dapat berkembang pada usus, berbagai bagian dari perut, dan bahkan lebih lanjut.

Meskipun penempatan dari sel-sel tersebut tidak pada tempatnya, sel-sel ini tetap merespon terhadap stimulasi dari hormon-hormon reproduksi. Hal ini akan menyebabkan pendarahan menstruasi setiap bulannya, sehingga pendarahan ini akan terjadi diluar uterus. Darah ini tidak akan bisa keluar dari tubuh setiap bulannya. Simpanan darah yang tidak normal ini, dalam jangka panjang, dapat berakumulasi dan membentuk jaringan parut. Meskipun hal tersebut tidak berbahaya, akan terasa nyeri dan dapat mencegah terjadinya kehamilan.

Endometriosis, yang mempengaruhi 5% dari populasi wanita Amerika, dianggap sebagai salah satu penyebab tertinggi dari infertilitas pada wanita sedunia.

Penyebab

Hal yang secara spesifik menyebabkan endomentrium untuk tumbuh diluar uterus masih belum diketahui. Namun, beberapa faktor sudah diketahui dapat berkontribusi kepada masalah tersebut, yaitu:

  • Menstruasi refluks – Terjadi ketika darah menstruasi mengalir kembali kedalam tuba falopii, dan bukan keluar dari tubuh

  • Fungsi tidak normal dari hormon estrogen – Temuan menyatakan bahwa endometriosis umumnya menyerang wanita pada usia childbearing, yaitu diantara usia remaja dan usia empat-puluhan. Karena pada usia ini wanita memiliki tingkat estrogen yang tinggi dan gejala dari endometriosis menghilang setelah menopause, diyakini bahwa estrogen memegang peranan dalam terjadinya endometriosis.

  • Hereditas – Beberapa penelitian membuktikan bahwa dengan adanya anggota keluarga inti (first degree relative) yang mengidap endometriosis, meningkatkan risiko hingga sepuluh kali lipat untuk berkembangnya endometriosis. Penelitian lain meningkatkan risiko ini hingga hampir 50%, dengan menyatakan bahwa wanita yang memiliki riwayat keluarga endometriosis memiliki risiko 59% untuk mengembangkan kondisi tersebut.

  • Berat yang tidak normal – Sejumlah penelitian telah menetapkan sebuah relasi antara kondisi kegemukan (overweight), khususnya pada tahap lanjut dari anak dan tahap awal dari remaja, dengan risiko yang lebih tinggi untuk memiliki kondisi endometriosis

  • Siklus menstruasi yang ireguler – Wanita, yang memiliki siklus menstruasi kurang dari 28 hari atau menstruasi lebih dari seminggu dalam sebulan, memiliki risiko yang meningkat untuk berkembangnya kondisi endometriosis

  • Kelainan pada organ reproduksi – Dalam beberapa kasus, bentuk dari uterus, vagina, atau serviks wanita dapat menghambat aliran darah menstruasi. Hal ini dapat menyebabkan endometriosis dalam jangka panjang.

Gejala

Endometriosis tidak selalu menimbulkan gejala, sehingga banyak kaum wanita yang mengetahui kondisi mereka ketika ada keluhan sulit untuk mendapatkan anak. Namun, jika gejala timbul, umumnya gejala tersebut berupa:

  • Nyeri pada panggul
  • Dismenorrhea atau rasa sakit saat datang bulan
  • Menstruasi dengan volume yang besar secara ireguler
  • Timbul bercak atau bercak darah diantara masa datang bulan
  • Infertilitas
  • Kecenderungan untuk keguguran
  • Timbul rasa sakit pada saat berhubungan intim atau keluar darah setelah hubungan
  • Nyeri pada saat buang air kecil
  • Nyeri pada saat buang air besar
  • Diare
  • Konstipasi atau sulit buang air besar
  • Rasa mual
  • Rasa kembung

Rasa nyeri juga dapat timbul pada bagian tubuh dimana sel-sel endometrium tersebut tumbuh. Oleh karena itu, rasa nyeri pada perut dan rasa nyeri pada punggung bagian bawah, juga dapat mengindikasikan endometriosis.

Tingkat rasa nyeri yang dialami pasien cenderung berbeda-beda; beberapa hanya merasakan nyeri yang ringan, sehingga seringkali rasa nyeri ini salah ditafsirkan sebagai rasa nyeri yang biasa dialami saat datang bulan. Disisi lain, beberapa wanita mengalami rasa nyeri yang hebat hingga mereka tidak dapat melanjutkan aktifitas sehari-hari.

Sebagian besar dari gejala ini menjadi lebih jelas ketika menstruasi.

Siapa yang harus saya temui?

Jika anda mengalami salah satu dari gejala diatas, khususnya jika anda belum pernah mengalaminya sebelumnya, temui dokter umum atau dokter obsgyn segera. Untuk masalah fertilitas, seperti ketika anda sedang berusaha untuk hamil untuk lebih dari 12 bulan dan belum berhasil, sebaiknya anda menemui dokter ahli endokrinologi reproduksi. Segera cari pertolongan medis apabila:

  • Datang bulan anda yang pada umumnya tidak nyeri, tiba-tiba menjadi nyeri

  • Nyeri yang dirasakan terlalu intens dan mengganggu aktifitas sehari-hari

  • Terdapat darah pada urin atau feses

  • Anda mengalami perubahan yang tidak dapat dijelaskan pada saat menstruasi atau saat buang air besar

Dokter anda akan melakukan pemeriksaan fisik dari abdomen (perut) dan pelvis (panggul) anda, dan juga dapat melakukan pemeriksaan pencitraan ultrasound dan MRI. Pemeriksaan pencitraan tersebut akan menentukan secara pasti apakah anda memiliki endometriosis atau tidak. Jika pemeriksaan tersebut tidak berhasil menentukan keluhan yang anda miliki, laparoskopi juga dapat dilakukan. Prosedur bedah ini melibatkan masuknya tangkai fiber optic yang dipasangkan kamera kedalam sayatan kecil yang dibuat di daerah pusar anda.

Jenis Pengobatan yang Dapat Dilakukan

Untuk sekarang, belum ada obat untuk endometriosis, tetapi, wanita dapat mencari opsi pengobatan lain yang cocok untuk kasus mereka secara spesifik. Pada umumnya, pengobatan yang dilakukan bergantung pada keparahan dari gejala yang dirasakan. Opsi pengobatan termasuk:

  • Terapi hormon – Terapi ini direkomendasikan untuk wanita yang merasa nyeri, tapi tidak merasakan gejala lainnya. Terapi ini dapat membantu mengontrol tingkat estrogen, menyusutkan sel yang tidak pada tempatnya, dan meringankan rasa nyeri. Tipe terapi hormon yang sedang digunakan termasuk Gonadotropin-releasing hormone agonist (GnRH-a) yang memicu kondisi seperti menopause, pil progestin yang memberhentikan proses ovulasi, dan Danazol yang meningkatkan tingkat androgen. Namun, perlu diketahui bahwa terapi-terapi ini juga memiliki efek samping yang perlu diperhatikan secara serius sebelum terapi dilaksanakan.

  • Kontrasepsi – Pil kontrasepsi dapat membantu meringankan gejala, seperti pendarahan dengan volume besar dan ireguler. Selain mengontrol pendarahan menstruasi, pil kontrasepsi juga dapat mencegah memburuknya kondisi. Namun, opsi ini hanya dapat dilakukan untuk mereka yang tidak berencana untuk hamil dalam waktu dekat. Penggunaan pil kontrasepsi secara terus menerus untuk endometriosis juga dapat mengurangi risiko terjadinya kanker ovarium, yang merupakan kondisi umum pada wanita yang menderita endometriosis.

  • Obat nyeri – OAINS (Obat Anti Inflamasi Non-Steroid) atau obat anti-inflamasi seperti ibuprofen, dapat digunakan untuk meringankan rasa nyeri yang berhubungan dengan endometriosis

  • Tindakan bedah – Meskipun jarang direkomendasikan, tindakan bedah menjadi penting pada kasus dimana terdapat pertumbuhan yang tidak normal dan mulai mempengaruhi organ lainnya. Dalam kasus yang berat, prosedur bedah yang dikenal sebagai ooforektomi dan histerektomi, yang merupakan pengangkatan dari ovarium atau uterus, juga dapat dipertimbangkan. Namun, tindakan tersebut akan menghilangkan kesempatan untuk kehamilan.

Ada beberapa tips pengobatan di rumah yang dapat membantu pasien dengan gejala endometriosis, yaitu:

  • Mengkompres bagian tubuh yang nyeri dengan kompres hangat, umumnya pada perut

  • Melakukan olahraga dan latihan secara rutin untuk meningkatkan aliran endorfin yang berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri

  • Berbaring dengan meletakkan bantal dibawah lutut

  • Melakukan teknik relaksasi untuk manajemen rasa nyeri

Wanita yang berkeinginan untuk hamil namun memiliki kondisi endometriosis, membutuhkan perlakuan khusus, seperti:

  • Pengangkatan dari pertumbuhan yang tidak normal / jaringan parut secara bedah
  • Pengobatan infertilitas
  • Obat fertilitas / kesuburan

Solusi untuk kesuburan lainnya, seperti inseminasi dan fertilisasi in vitro, dapat dipertimbangkan apabila pasien masih belum berhasil untuk hamil setelah tindakan bedah dari endometriosis.

Referensi:

  • University of Maryland Medical Center: “Endometriosis.”
  • The New England Journal of Medicine: “Endometriosis.”
  • Bulleti C, Coccia ME, Battiston S, Borini A. (2010). “Endometriosis and infertility.” J Assist Reprod Genet
  • Journal of Endometriosis and Pelvic Pain Disorders. “Power over pain: a brief review of current and novel interventions for endometriosis-associated pain.”
Bagikan informasi ini: