Definisi dan Ringkasan

Fibrilasi Atrium (FA) adalah salah satu jenis aritmia, yaitu kondisi kesehatan yang mengacu pada hantaran sinyal listrik yang tidak benar atau tidak teratur pada jantung. FA ditandai dengan denyut jantung tidak teratur dan sering cepat atau bergetar.

FA dapat bersifat paroksisimal (serangan atau kekambuhan gejala secara tiba-tiba), persisten (serangan atau kekambuhan gejala yang akan berhenti dengan pemberian obat), atau permanen (serangan atau kekambuhan gejala yang menetap dan tidak berhenti walau diberi obat). Biasanya pasien datang tanpa gejala, dan kondisi ini ditemukan ketika dilakukan tes seperti EKG untuk penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya.

Kondisi ini menjadi faktor resiko stroke karena ketidakmampuan jantung untuk memompa darah . Darah menjadi terkumpul di atrium atas dimana gumpalannya menjadi penghalang aliran darah di jantung sehingga meningkatkan tekanan darah. Hal ini juga dapat menyebabkan kelelahan berkepanjangan dan gagal jantung.

Gejala FA terkadang mirip dengan serangan jantung. Kondisi ini kadang menghilang bahkan ketika gejala sudah dirasa cukup parah. Jika dianggap persisten atau lebih bertahan lama, obat-obatan dan terapi tertentu dapat membantu pasien mengelola gejala atau mengembalikan irama menjadi normal.

Penyebab

FA tidak memiliki penyebab yang pasti. Beberapa pasien mengalaminya setelah mereka menjalani bedah jantung, baik untuk mengurangi penyumbatan atau untuk memperbaiki katup. Ahli kesehatan lainnya menganggap beberapa hal berikut sebagai penyebab kemungkinan:

  • Penyakit paru
  • Berat badan berlebih (obesitas) dan diabetes
  • Kondisi jantung tertentu seperti kardiomiopati hipertrofi (penebalan bagian dari otot jantung)
  • Serangan jantung
  • Aterosklerosis (penumpukan plak di arteri jantung)
  • Gangguan tiroid

Untuk memiliki pemahaman yang lebih menyeluruh dari penyakit ini, sebaiknya pahami cara kerja jantung.

Jantung terdiri dari 4 ruang: dua disebut ventrikel (sebelah bawah; kiri dan kanan) dan dua lainnya disebut atrium (sebelah atas; kiri dan kanan).

Ketika darah masuk ke jantung, nodus sinoatrial (nodus SA), sekelompok sel yang ditemukan di atrium kanan, mengirimkan sinyal-sinyal listrik dari atrium kanan ke atrium kiri sehingga memungkinkan otot-otot berkontraksi dan memompa darah ke ventrikel. Sinyal kemudian berjalan ke nodus penjaga pintu yang disebut atrioventrikular (nodus AV) di tengah-tengah kedua kamar. Sinyal mulai melambat ketika ventrikel mencoba untuk mengisi darah kembali. Dari nodus AV, sinyal pindah ke ventrikel untuk memungkinkan ruang untuk berkontraksi dan memompa darah menuju berbagai bagian tubuh termasuk paru.

Masalah terjadi ketika sinyal listrik dimulai bukan pada nodus SA atau sinyal mengalir tidak teratur. FA juga dapat terjadi ketika nodus AV tidak dapat mengendalikan sinyal listrik dan menyebabkan kontraksi lebih cepat dari ventrikel (hingga 50 sampai 75 denyut lebih cepat dari denyut jantung normal). Akibatnya, sinyal mulai berfibrilasi (bergetar) atau menjadi tidak teratur.

Hal ini membuat persediaan darah menjadi tidak teratur juga. Jika paru dan bagian tubuh lainnya tidak menerima jumlah darah yang cukup dari biasanya, pasien mungkin akan mengalami kondisi yang berbahaya lainnya.

Faktor resiko FA meliputi:

  • Usia tua (biasanya terjadi pada pria dan wanita yang berusia minimal 60 tahun)
  • Riwayat keluarga
  • Mengkonsumsi alkohol
  • Takikardia Supraventricular (TSV – peningkatan denyut jantung tiba-tiba), yang umum di kalangan atlet
  • Tekanan darah tinggi terus menerus

Gejala Utama

  • Palpitasi (jantung terasa berdenyut lebih cepat, bergetar, atau dada berdebar-debar)
  • Lemah secara umum
  • Kesulitan bernafas
  • Mual
  • Merasa ringan atau pusing
  • Nyeri dada
  • Kelelahan kronis
  • Tekanan darah tinggi
  • Pingsan
  • Berkeringat berlebihan
  • Tangan dingin
  • Tekanan pada dada

Banyak pasien tidak menunjukkan gejala FA.

Pada Siapa Merujuk dan Perawatan yang Tersedia

Seringkali, pasien tidak mengetahui bahwa mereka memiliki FA, kecuali mereka telah menjalani pemeriksaan diagnostik rutin atau khusus untuk penyakit lain. Jika dokter (yang mungkin seorang ahli jantung atau elektrofisiologis, ahli dalam denyut jantung tak teratur/aritmia) mendiagnosis FA, maka mereka dapat menganjurkan beberapa tes berikut:

  • EKG (elektrokardiogram), alat yang dapat mendeteksi dan mencatat kegiatan sinyal listrik jantung
  • Foto dada (toraks) untuk melihat kondisi umum paru dan jantung
  • Tes darah untuk menyingkirkan penyakit lain seperti gangguan tiroid dan diabetes, serta untuk memantau kadar oksigen darah dan elektrolit
  • Ekokardiogram yang memperoleh gambar jantung menggunakan gelombang suara
  • Transesophageal echorcardiography (TEE), pencitraan atrium menggunakan gelombang suara
  • Tes ketahanan, di mana pasien diminta untuk berjalan di alat berlari (treadmill) dengan tanjakan dan kecepatan pengaturan disesuaikan; pasien terhubung ke EKG untuk memantau tingkat tekanan yang dapat ditangani oleh jantung

Oleh karena gejala terkadang hilang pada siang hari, maka dokter akan meminta pasien untuk memakai pemantau Holter yang menghitung detak jantung dalam waktu 24 jam atau lebih.

FA dapat digolongkan menjadi tiga jenis. Jika gejala berlangsung selama hanya beberapa menit serta timbul dan hilang di siang hari, maka dianggap FA sesekali (paroksisimal).

Jika ritme tidak dapat dikembalikan tanpa jenis perantara (biasanya gejala berlangsung selama 7 hari atau lebih), kondisi ini dianggap persisten. Jika obat-obatan dan perawatan lainnya lebih bertahan lama, FA mungkin dapat bersifat permanen yang ditandai dengan sulitnya mengembalikan irama menjadi benar atau normal.

Dokter biasanya menyarankan obat sebagai tahap awal perawatan. Hal ini dilakukan untuk menendalikan denyut jantung (penghambat beta seperti Metroprolol atau glikosida jantung seperti Lanoksin), mengembalikan irama jantung (misalnya, Betapace atau Pacerone), atau mencegah pembekuan darah (misalnya, warfarin).

Jika obat-obat tersebut tidak membantu atau jika kondisi sudah terlalu parah, dokter mungkin menyarankan tindakan MAZE seperti Cox dan mini Maze. Secara umum, MAZE melibatkan pembuatan sayatan ke dalam atrium sehingga menghasilkan jaringan parut. Jaringan ini menyebabkan tidak diterimanya sinyal listrik dan dengan demikian dapat mencegah sinyal listrik yang tidak menentu.

Pilihan lain adalah ablasi kateter, yang kurang invasif dibandingkan MAZE. Kateter tipis dapat dimasukkan ke dalam pembuluh darah di selangkangan, lengan, atau leher. Pembuluh darah kemudian mengarahkan kabel lentur ke jantung. Ketika mencapai jantung, dokter memberikan tenaga RF (radiofrekuensi) ke organ untuk menghancurkan beberapa jaringan dan membentuk jaringan parut.

Pasien FA masih dapat bertahan selama hal tersebut tidak menyebabkan gejala penyakit yang lebih parah.

Referensi:

  • http://www.nhlbi.nih.gov
  • http://www.mayoclinic.org
  • http://www.heart.org
  • http://www.medicinenet.com/atrial_fibrillation/page5.htm
  • http://www.stopafib.org/
Bagikan informasi ini: