Apa itu Limfoma Folikuler Ganas?

Limfoma folikuler ganas adalah jenis limfoma non-Hodgkin yang biasanya timbul sebagai tumor nodus limfa yang tidak menyakitkan dan berkembang lambat.

Limfoma adalah kanker pada sistem limfatik. Limfoma berawal di sel darah putih bernama limfosit. Fungsi sel ini adalah melawan penyakit dan sangat penting bagi sistem kekebalan tubuh. Ketika limfosit abnormal bertambah banyak dan berkumpul di satu bagian, nodus limfe akan membengkak. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan.

Ada dua jenis limfoma, yaitu Hodgkin dan non-Hodgkin. Perbedaan utama adalah jenis limfosit yang terlibat. Limfoma dikategorikan sebagai Hodgkin jika terdapat jenis sel abnormal bernama sel Reed-Sternberg. Selain itu, maka dikategorikan sebagai non-Hodgkin.

20% dari kasus limfoma non-Hodgkin adalah limfoma folikuler ganas. Kondisi ini biasanya tidak menyebabkan gejala pada stadium awal. Sehingga, pasien sering didiagnosis setelah limfoma berkembang. Kondisi ini tidak dapat disembuhkan, namun banyak pasien mendapatkan remisi jangka panjang dengan radiasi dan kemoterapi.

Penyebab Limfoma Folikuler Ganas

Limfoma folikuler ganas terjadi ketika tubuh menghasilkan terlalu banyak limfosit abnormal. Limfosit abnormal ini terus membelah diri hingga membentuk tumor dan menyebabkan pembengkakan nodus limfa. Pada umumnya, semua jenis kanker terjadi akibat mutase DNA yang mengaktifkan onkogen (gen yang membantu sel tumbuh dan tetap hidup) atau menonaktifkan gen penekan tumor (gen yang membuat sel mati pada waktunya dan mengendalikan pembelahan diri sel).

Pada limfoma folikuler ganas, risiko mutasi DNA dan replikasi sel yang abnormal dapat meningkat akibat:

  • Virus, termasuk virus lymphotropic sel T manusia tipe 1, virus Epstein-Barr, dan virus herpes yang berkaitan dengan sarkoma Kaposi. Diyakini bahwa virus tersebut memaksa sistem kekebalan tubuh untuk terus menghasilkan limfosit untk melawan infeksi. Akibatnya, risiko kesalahan DNA bertambah.

  • Kelainan imun kongenital dan infeksi HIV (human immunodeficiency virus).

  • Kelainan imun akibat penyakit dan prosedur medis, seperti transplantasi organ dan pengobatan dengan obat tertentu. Limfoma pada pasien dengan sistem imun yang lemah biasanya menyebar atau serius.

Faktor risiko lainnya meliputi usia lanjut (sebagian besar pasien berusia 60 tahun ke atas) dan terpapar zat kimia tertentu, termasuk pembunuh serangga.

Gejala Utama Limfoma Folikuler Ganas

Limfoma folikuler ganas umumnya tidak menimbulkan gejala pada stadium awal. Selain pembengkakan yang tak menyakitkan pada pangkal paha, ketiak, dan leher, biasanya tidak ada gejala lain.

Saat kondisi ini berkembang, pasien akan merasakan berbagai gejala sistemik dan tanda disfungsi sumsum tulang. Di antaranya adalah:

  • Demam

  • Penurunan berat badan

  • Banyak berkeringat pada malam hari

  • Anemia

  • Leukopenia, atau berkurangnya jumlah sel darah putih

  • Trombositopenia, atau jumlah trombosit yang sangat rendah

  • Kelelahan

  • Infeksi kronis

  • Sesak napas

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Limfoma folikuler ganas didiagnosis dengan tes laboratorium rutin, tes pencitraan, dan biopsi eksisi.

  • Uji penghitungan sel darah lengkap dan apusan darah tepi - Digunakan untuk memeriksa kelainan sel darah.

  • Uji fungsi hati

  • Uji kadar asam urat, laktat dehydrogenase, dan kreatinin

  • PET dan CT scan pada dada, panggul, dan perut - Digunakan untuk memeriksa apakah tumor menyebabkan penyumbatan. Kedua tes pencitraan ini juga dapat mengetahui jumlah nodus limfa yang terpengaruh dan apakah sel kanker menyebar ke bagian tubuh lainnya.

  • Biopsi eksisi - Dilakukan dengan mengangkat nodus limfa yang membesar dan mencari adanya sel limfoma. Prosedur ini dapat menggunakan bius lokal atau total.

  • Rontgen

Hasil dari tes di atas dapat memastikan diagnosis limfoma folikuler ganas dan stadium penyakit. Stadium kanker menjelaskan jumlah nodus limfa yang terpengaruh, lokasi, dan apakah hati dan sumsum tulang juga terpengaruh.

  • Stadium 1 - Satu kelompok nodus limfa

  • Stadium 2 - Dua kelompok nodus limfa pada bagian tubuh atas atau bawah

  • Stadium 3 - Nodus limfa yang terpengaruh ditemukan di atas dan di bawah diafragma

  • Stadium 4 - Kanker menyebar ke organ lain, seperti paru-paru, tulang, sumsum tulang, dan hati

Limfoma folikuler ganas stadium 1 dan 2 dikategorikan sebagai kanker lokal, sedangkan stadium 3 dan 4 adalah limfoma yang telah menyebar.

Pengobatan biasanya tidak diperlukan pada stadium awal. Jika gejala hanya sedikit atau sama sekali tidak ada, maka dokter akan menggunakan metode pengawasan. Kondisi pasien akan terus diawasi dengan pemeriksaan rutin serta tes laboratorium dan pencitraan berkala. Pengobatan aktif akan dimulai jika ditemukan tanda penyakit telah berkembang.

Pengobatan standar untuk limfoma folikuler ganas adalah radiasi dan kemoterapi. Keduanya terbukti dapat memberikan remisi jangka panjang, khususnya jika limfoma belum menyebar. Apabila limfoma telah menyebar, pasien biasanya diobati dengan perpaduan obat kemoterapi dan antibodi monoclonal.

Banyak pasien yang mengalami kondisi berulang dalam beberapa tahun setelah pengobatan yang berhasil. Jika hal ini terjadi, pasien dapat menjalani pengobatan yang sama. Dokter juga dapat memberikan terapi tambahan untuk meningkatkan hasil pengobatan. Transplantasi sel punca juga digunakan, namun biasanya hanya pada pasien berusia muda yang mengalami kambuh, kondisi berulang, atau tidak merespons pengobatan.

Kemungkinan bertahan hidup dalam lima tahun dari penyakit ini dapat mencapai 77%. Namun, pasien berusia lanjut dan pengidap penyakit lain memiliki kemungkinan 36%.

Rujukan:

  • Tan D, Horning SJ, Hoppe RT, Levy R, Rosenberg SA, Sigal BM, et al. Improvements in observed and relative survival in follicular grade 1-2 lymphoma during 4 decades: the Stanford University experience. Blood.

  • Press OW, Unger JM, Rimsza LM, Friedberg JW, Leblanc M, Czuczman MS, et al. Phase III Randomized Intergroup Trial of CHOP Plus Rituximab Compared With CHOP Chemotherapy Plus 131Iodine-Tositumomab for Previously Untreated Follicular Non-Hodgkin Lymphoma: SWOG S0016. J Clin Oncol.

  • Ekström Smedby K, Vajdic CM, Falster M, et al. Autoimmune disorders and risk of non-Hodgkin lymphoma subtypes: a pooled analysis within the InterLymph Consortium. Blood. 2008 Apr 15. 111 (8):4029-38.

Bagikan informasi ini: