Apa itu Pankreatitis Batu Empedu?

Pankreas adalah salah satu organ internal yang paling penting. Letaknya berada di bagian dalam perut dan merupakan bagian dari sistem pencernaan. Tugas pankreas adalah melepaskan insulin yang berfungsi mengatur kadar gula darah (glukosa). Insulin adalah hormon yang membuat tubuh dapat memanfaatkan glukosa sebagai energi. Tanpa insulin, seseorang dapat terserang diabetes.

Pankreas dapat meradang karena sejumlah alasan. Seperti, kebiasaan berat minum alkohol dan penyakit tertentu. Jika muncul akibat batu empedu, kondisi ini disebut pankreatitis batu empedu.

Batu empedu dapat terbentuk saat empedu mengandung terlalu banyak kolesterol atau bilirubin. Bilirubin adalah zat kimia yang diproduksi oleh tubuh saatmemecahkan sel-sel darah merah. Sedangkan empedu diproduksi oleh hati untuk membantu melancarkan pencernaan.

Batu empedu dapat menyumbat saluran pankreas. Jika ini terjadi, seluruh materi dari pankreas dan hati menjadi terjebak. Seiring dengan materi yang menumpuk di area tersebut, pankreas mulai membengkak.

Penyebab Pankreatitis Batu Empedu

Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80% batu empedu terbuat dari kolesterol. Sisanya terbentuk dari garam kalsium dan bilirubin.Dokter belum yakin dengan penyebab terbentuknya batu empedu. Namun, ada beberapa kemungkinan, di antaranya:

  • Kadar kolesterol dalam empedu yang tinggi - Batu empedu dapat terbentuk jika kada kolesterol yang dikeluarkan oleh hati melebihi jumlah yang dapat dilarutkan oleh empedu. Jika kolesterol berlebih itu menumpuk, kristal mungkin mulai terbentuk. Kristal inilah yang kemudian berubah menjadi batu empedu.

  • Kadar bilirubin dalam empedu yang tinggi - Penyakit-penyakit tertentu dapat menyebabkan hati memproduksi terlalu banyak bilirubin. Penyakit itu termasuk jaringan parut di dalam hati atau sirosis dan infeksi saluran empedu. Kadar bilirubin yang tinggi di dalam empedu juga dapat meningkatkan risiko pembentukan batu empedu.

  • Penyakit kantong empedu - Fungsi utama kantong empedu adalah untuk menyimpan dan melepaskan empedu. Namun, kondisi tertentu seperti kolesistitis, dapat membuatnya tak berfungsi normal. Kantong empedu tidak sepenuhnya kosong membuat empedu menjadi sangat padat. Hal tersebut juga meningkatkan risiko munculnya batu empedu.

Faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko batu empedu pada seseorang adalah:

  • Faktor gaya hidup - Ini termasuk pola makan kaya kolesterol dan lemak. Kelebihan berat badan atau obesitas juga merupakan salah satu faktor risiko.

  • Diabetes mellitus - Untuk alasan yang masih belum bisa dipahami, banyak penderita diabetes yang memiliki batu empedu.

  • Riwayat keluarga - Orang-orang yang memiliki anggota keluarga dekat yang mengidap kondisi ini juga cenderung akan mengidap kondisi yang sama.

Gejala Utama Pankreatitis Batu Empedu

Tanda paling umum dari penyakit ini adalah nyeri parah yang muncul secara mendadak. Sering kali, ini mulai dirasakan pada bagian kiri dari perut atas. Nyeri biasanya menjalar ke punggung dan bahu. Gejala lainnya termasuk mual dan muntah, demam, meriang, serta hilangnya nafsu makan.

Jika tidak segera ditangani, pankreatitis batu empedu dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:

  • Infeksi pankreas - Pankreatitis batu empedu dapat meningkatkan risiko infeksi pankreas. Sebab, zat-zat terus tertimbun di dalam sistem empedu. Ini merupakan komplikasi serius yang harus segera diobati. Pengobatan untuk infeksi pankreas melibatkan pengangkatan jaringan yang terinfeksi melalui prosedur bedah.

  • Gagal ginjal - Pankreatitis batu empedu dapat menyebabkan ginjal tak mampu bekerja. Pengobatan untuk kondisi ini adalah prosedur dialisis rutin, yang menggunakan sebuah mesin untuk menyaring darah.

  • Kanker pankreas - Pankreatitis batu empedu adalah salah satu faktor risiko dari kanker pankreas.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pankreatitis batu empedu ditangani oleh ahli gastroenterologi. Ia merupakan dokter yang berspesialisasi dalam mengobati gangguan yang memengaruhi sistem pencernaan.

Dokter mendiagnosis kondisi ini melalui tes-tes berikut:

  • Tes darah - Tes darah digunakan untuk mengevaluasi fungsi organ dalam. Di antaranya termasuk kantong empedu, hati, dan pankreas. Dokter mengukur kadar dari sejumlah enzim yang terkandung dalam darah. Hasil tes yang kurang dari kadar normal menandakan adanya abnormalitas.

  • Analisis tinja - Tes ini dapat mendeteksi kandungan lemak di dalam tinja. Ini merupakan tanda malnutrisi. Kondisi tersebut akan terjadi saat pankreas tak lagi memproduksi enzim yang dibutuhkan oleh tubuh untuk mencerna lemak.

  • CT-scan - Tes pencitraan ini untuk mengetahui penyebab yang mungkin memicu gejala penyakit. Tes ini juga dapat memastikan apakah pankreas telah membengkak. Melalui tes ini pun, cairan yang telah menumpuk di rongga peritoneum akan terlihat.

  • Ultrasound - Tes ini dapat mendeteksi kehadiran batu empedu. Ini juga akan memastikan peradangan yang terjadi di dalam saluran empedu.

  • MRI - Tes ini akan menciptakan gambar pankreas. Gambar tersebut memudahkan dokter untuk memastikan perubahan bentuk atau struktur kantung empedu. Ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi gas dan kalsifikasi.

Pengobatan pankreatitis batu empedu kemungkinan melibatkan:

  • Berpuasa - Pasien yang mengidap pankreatitis batu empedu sering kali menjalani opname. Mereka tidak diperbolehkan makan makanan padat hingga pankreas tak lagi membengkak. Mereka akan menerima asupan nutrien melalui selang infus atau metode tabung makanan.

  • Antibiotik - Antibiotik digunakan untuk mengobati atau mencegah infeksi.

  • Obat-obatan pereda nyeri - Banyak pasien yang menderita nyeri berat karena pankreatitis batu empedu. Oleh sebab itu, pengobatan untuk mereka selalu mencakup konsumsi obat pereda nyeri.

  • Prosedur bedah - Beberapa kasus memerlukan bedah pengangkatan batu empedu dan atau kantong empedu untuk mengobati penyakit ini.

Prognosis keseluruhan bagi pasien pankreatitis batu empedu tergantung pada keparahan penyakit mereka. Jika pankreas hanya sedikit membengkak dan segera diobati, prognosinya akan sangat baik. Namun, pasien dengan kerusakan pankreas yang parah berisiko mengalami komplikasi serius. Beberapa komplikasi itu bisa mengancam nyawa pasien.

Rujukan:

  • Feldman M, et al. Gallstone disease. In: Sleisenger and Fordtran’s Gastrointestinal and Liver Disease: Pathophysiology, Diagnosis, Management. 10th ed. Philadelphia, Pa.: Saunders Elsevier; 2016.

  • American College of Gastroenterology. Young Choi, MD and William B. Silverman, MD FACG, University of Iowa Hospitals and Clinics, Iowa City, IA

  • Portincasa P, et al. (2016). Preventing a mass disease: The case of gallstone disease: Role and competence for family physicians. DOI: 10.4082%2Fkjfm.2016.37.4.205

Bagikan informasi ini: