Apa itu Gangguan Hormon Seksual

Hormon seks adalah sekelompok hormon yang bertanggung jawab untuk mengendalikan pubertas, reproduksi, kelahiran, dan menyusui. Hormon seks dapat mengalami gangguan, yang juga dikenal sebagai gangguan hormon reproduksi. Kondisi ini memengaruhi berbagai kelenjar dan organ tubuh yang bertanggung jawab menghasilkan hormon seks.

Hormon seks, antara lain testosteron (laki-laki) dan estrogen (wanita). Keduanya merupakan zat yang sangat penting bagi tiap organ tubuh, terutama yang berkaitan dengan fungsi seksual dan reproduksi. Hormon-hormon ini dapat ditemukan dalam tubuh laki-laki maupun perempuan, hanya saja kadarnya berbeda-beda tergantung dari jenis kelamin. Kadar testosteron laki-laki lebih tinggi, sementara pada perempuan kadar estrogennya yang lebih tinggi.

Gangguan hormon seksual dapat mengganggu jumlah hormon yang dihasilkan. Sehingga, dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, seperti kurangnya gairah seks atau libido rendah,vagina kering, infertilitas, atau produksi rambut tubuh berlebih.

Penyebab Gangguan Hormon Seksual

Wanita lebih rentan terhadap gangguan hormon seksual daripada pria. Karena, perempuan mengalami perubahan normal dalam tubuh yang memengaruhi produksi hormon seksual. Antara lain, menstruasi dan menopause.

Gangguan hormon seksual juga bisa disebabkan oleh cedera atau penyakit pada kelenjar dan organ utama yang bertanggung jawab memproduksi dan mengatur hormon. Pada pria, produksi utama testosteron terjadi di testis. Namun, ada bantuan kelenjar lain dan organ dalam sistem endokrin seperti kelenjar adrenal dan hipofisis. Sedangkan pada wanita, ovarium memproduksi estrogen. Tetapi, kelenjar adrenal dan kelenjar pituitari juga membantu dalam memproduksi dan mengatur hormon.

Selain kelenjar endokrin, jantung, hati, ginjal, dan gonad juga membantu untuk memproduksi hormon seksual. Oleh karena itu, gangguan hormon seksual dapat disebabkan oleh masalah pada kelenjar endokrin atau organ lainnya.

Penyebab utama dari gangguan hormon seksual meliputi:

  • Infeksi pada kelenjar atau organ
  • Penyakit
  • Konsumsi alkohol yang berlebihan atau penggunaan narkoba
  • Cedera pada testis
  • Operasi pengangkatan testis
  • Obat-obatan, termasuk steroid
  • Faktor keturunan


Gangguan hormon seksual juga bisa disebabkan oleh:

  • Kegemukan
  • Lemak tubuh yang rendah
  • Masalah kesehatan lainnya
  • Suplemen hormon
  • Masalah tiroid
  • [Kista ovarium] (http://www.docdoc.com/info/condition/ovarian-cysts)
  • Tumor ovarium


Perlu dipahami bahwa ada beberapa kelenjar dan organ terlibat dalam produksi hormon seksual. Jika terjadi masalah pada salah satu kelenjar atau organ, maka gejala yang timbul bisa berbeda. Sehingga, diagnosis akurat diperlukan, agar pasien mendapatkan pengobatan yang sesuai.

Gejala Utama Gangguan Hormon Seksual

Gangguan hormon seksual menyebabkan berbagai kondisi medis, yang kemudian akan menampilkan gejala yang berbeda. Beberapa yang paling umum adalah sindrom ovarium polikistik, hirsutisme, dan hipogonadisme.

  • Sindrom ovarium polikistik, juga disebut sindrom ovarium polikistik. Kondisi ini terjadi ketika seorang wanita mengalami ketidakseimbangan hormon. Akibatnya, wanita dapat mengalami kesulitan menstruasi atau masalah dalam mengandung seorang anak. Selain itu, sindrom ini dapat menyebabkan perubahan yang tidak diinginkan dalam penampilannya.

  • Hirsutisme ditandai dengan pertumbuhan pola rambut laki-laki yang berlebihan yang disebabkan oleh peningkatan kadar hormon testosteron laki-laki dan androgen lainnya.

  • Hipogonadisme juga disebut sebagai kekurangan hormon seks, adalah suatu kondisi yang ditandai kurangnya produksi hormon seks. Beberapa gejala yang paling umum adalah kelelahan, kehilangan otot, kepadatan tulang yang rendah, [anemia] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/anemia), dan mengurangi gairah seks.


Gejala lain dari gangguan hormon seksual termasuk perubahan kepribadian, pembengkakan payudara, debit payudara, impotensi, hasrat seksual berlebih, dan perilaku agresif.

Siapa yang Perlu Ditemui & Jenis Pengobatan Tersedia

Pasien yang mengalami gejala di atas, biasanya akan dirujuk oleh dokter ke ahli endokrinologi, dokter yang mengkhususkan diri dalam diagnosis dan pengobatan penyakit dan gangguan dari sistem endokrin.

Spesialis akan melakukan serangkaian tes untuk menentukan masalah secara tepat. Sehingga, dapat memberikan diagnosis yang akurat dan merumuskan rencana perawatan yang sesuai. Pengobatan untuk gangguan hormon seksual akan berbeda sesuai dengan jenis dan tingkat kondisi serta jenis kelamin pasien.

Misalnya, pengobatan disfungsi seksual wanita dapat mencakup non-medis (seperti konseling, perubahan gaya hidup, dan penggunaan pelumas atau perangkat seksual lainnya) dan metode medis (seperti terapi estrogen dan terapi androgen). Obat-obat yang digunakan dalam pengobatan untuk kondisi ini termasuk Flibanserin, Tibolone, dan inhibitor phosphodiesterase.

Contoh lain, perawatan untuk pria dengan kadar testosteron rendah. Pengobatan dapat meliputi terapi testosteron atau pengobatan untuk penyakit tertentu yang memengaruhi testis mengakibatkan rendahnya produksi testosteron.

Di sisi lain, pengobatan untuk hirsutisme dapat meliputi resep dari Glukokortikoid, Spironolactone, Finasteride, Flutamide, Cyproterone Asetat, dan sensitizer insulin.

Dalam kebanyakan kasus gangguan hormon seksual, dokter biasanya memilih untuk mencoba metode pengobatan non-medis. Jika gagal memperbaiki kondisi tersebut, maka obat akan diresepkan. Ketika kedua metode gagal, spesialis dapat memilih untuk prosedur invasif seperti pembedahan.

Rujukan:

  • The American Medical Association: "Endocrine System"
  • The Hormone Society: "Endocrine System."
  • National Institute of Child Health and Human Development: "Polycystic Ovary Syndrome."
  • American Association of Clinical Chemistry, Lab Tests Online: "Endocrine Syndromes."
Bagikan informasi ini: