Apa itu Kelainan Neuromuskular yang Menyebabkan Gangguan Tidur?

Kelainan neuromuskular adalah kondisi medis yang ditandai dengan ketidakmampuan sistem saraf dan otot untuk bekerja sebagaimana mestinya. Pasien yang memiliki kelainan tersebut biasanya menunjukkan beberapa gejala, seperti gangguan tidur karena masalah pernapasan.

Sistem otot bekerja dengan dua cara, secara sadar dan tanpa sadar. Sistem otot tubuh yang bekerja dengan sadar adalah otot tangan dan kaki, yang dapat dikendalikan oleh kontrol oleh tiap individu. Sementara itu, sistem otot yang bekerja tanpa sadar adalah otot sistem pernapasan, yang dapat bekerja secara otomatis tanpa perlu perintah.

Kelainan neuromuskular memengaruhi kekuatan dari kedua sistem otot tubuh; yang dapat menyebabkan otot pernapasan juga ikut melemah. Melemahnya otot pernapasan ini dapat menyebabkan masalah pernapasan, terutama saat orang tersebut sedang tidur.

Proses tidur biasanya berlangsung dalam 4 tahapan, termasuk tahap REM (pergerakan cepat mata – rapid eye movement). Tahap pertama dimulai saat seseorang merasa mengantuk dan akan berkembang ke tahap dua saat seseorang sedang tidur ringan sampai ke tahap 3 dan 4, saat seseorang masuk ke tahap tidur nyenyak. Setelah tahap 4, orang tersebut akan mencapai tahap REM, saat seseorang bermimpi.

Selama tidur, tubuh tidak memiliki kendali atas sistem otot yang bekerja secara sadar maupun yang tidak sadar. Bahkan, pada saat tidur tubuh manusia melumpuhkan otot yang bekerja dengan sadar saat seseorang sedang tertidur lelap. Sementara itu, otot sistem pernapasan terus bekerja agar orang yang sedang tertidur tetap bernapas. Namun, pasien dengan masalah neuromuskular dapat memiliki otot sistem pernapasan yang melemah, yang membuat tubuh pasien tersebut kesulitan mendapatkan pasokan oksigen yang cukup.

Akibat dari kekurangan suplai oksigen adalah kurangnya kandungan oksigen dalam darah (hypoxemia) atau meningkatnya kandungan karbon dioksida dalam darah (hypercapnia), yang dapat menyebabkan kematian, seperti gagal pernapasan kronis.

Penyebab Kelainan Neuromuskular yang Menyebabkan Gangguan Tidur

Ada beberapa kelaian neuromuskular. Kelainan yang tidak mempengaruhi otot pernapasan dan menyebabkan gangguan tidur adalah poliomyelitis, amyotrophic lateral sclerosis, sindrom post-polio, kelainan neuromuskular yang menempel, distrofi myotonic, miopati, distrofi otot, dan polyneuropathies.

Semua gangguan di atas dapat melemahkan sebagian otot pernapasan, yang akan menyebabkan kesulitan bernapas saat tidur, seperti hipoventilasi saat tidur. Hipoventilasi adalah kelainan proses bernapas yang melambat, yang membuat kadar oksigen dalam darah dan meningkatkan kandungan karbon dioksida dalam darah.

Hipoventilasi juga dapat disebabkan oleh napas pendek (hipopnea) atau napas yang lambat (bradypnea). Orang yang mengidap kondisi ini biasanya sering mengalami apnea tidur atau berhenti bernapas saat tidur.

Gejala Utama Kelainan Neuromuskular yang Menyebabkan Gangguan Tidur

Keluhan umum dari pasien yang mengalami kelainan neuromuskular adalah gangguan tidur, seperti mengantuk di siang hari karena kualitas tidur yang buruk pada malam harinya. Tidur yang baik tidak bergantung dari lamanya, melainkan kualitasnya.

Tidur berkualitas baik dimulai dari tahap pertama sampat tahap ke-4 dan kemudian ke tahap REM. Siklus tidur biasanya memerlukan dua jam hingga selesai, dan kemudian akan di ulang ke tahap ke-2 dan berulang terus sampai orang tersebut tidur dengan cukup.

Pasien dengan kelainan neuromusukular biasanya memerlukan waktu yang lebih lama untuk tahap pertama hingga tahap kedua. Bahkan beberapa di antaranya tidak dapat mencapai tahap REM. Hasilnya, seseorang mungkin tidur sepanjang malam, tetapi tidak dengan kualitas tidur yang cukup yang diperlukan tubuh untuk beristirahat.

Banyak orang mengalami gangguan tidur karena kelaian neuromuskular tidak mendapat diagnosis dan ditangani dalam tahap awal, terutama jika mereka tidak menunjukkan gejala (asimtomatik). Namun, saat kondisnya berkembang menjadi lebih parah, gejala akan mulai muncul.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Perawatan yang Tersedia

Pasien yang mengalami masalah pada tidurnya perlu berkonsultasi dengan dokter keluarga agar penyebab utama dari masalah tidur tersebut dapat ditentukan dan ditangani agar tidak semakin parah.

Selama proses konsultasi, dokter akan menanyakan gejala-gejala yang dialami, termasuk kelelahan di siang hari, kesulitan bernapas, kesulitan untuk tidur, dan sakit kepala di pagi hari. Jika dokter mencurigai akan adanya pelemahan otot pernapasan, beberapa pemeriksaan akan dilakukan untuk menentukan penyebab gangguan tersebut.

Namun, sebelum pemeriksaan dilakukan, dokter akan terlebih dahulu memeriksa rekam medis dari pasien, riwayat tidur mereka, penyakit yang pernah dialami anggota keluarga lainnya, dan juga gaya hidup pasien. Informasi ini dapat membantu dokter dalam mencoret beberapa penyebab gangguan tidur yang tidak terkait dengan gangguan neuromuskular.

Dalam semua pemeriksaan laboratorium yang akan dilakukan, pemeriksaan yang paling penting adalah perekaman data polysomnographic selama satu malam. Pemeriksaan ini akan dilakukan bagi pasien yang merasa ngantuk di siang hari yang sudah parah. Bagi pasien yang mengalami gangguan sistem saraf, kondisi mereka biasanya tidak mempengaruhi diagnosis dan perawatan untuk gangguan tidur, sehingga mereka tidak perlu menjalani pemeriksaan tersebut. Pemeriksaan lainnya adalah pemeriksaan fungsi pulmonari untuk memeriksa performa paru-paru.

Beberapa jenis pemeriksaan di atas akan membantu dokter untuk mendiagnosis penyebab utama dari gangguan tidur yang dialami. Hal ini penting dalam menentukan metode perawatan yang tepat. Sebagian besar dari pasien yang mengalami gangguan tidur biasanya memiliki kecenderungan mengidap kondisi medis lain yang lebih berbahaya. Perawatan untuk gangguan tidur ini diharapkan dapat membuat pasien menjadi lebih mudah tidur dan juga mengatasi gejala-gejala lainnya, yang pada dasarnya dilakukan untuk memperbaiki kemampuan bernapas pasien tersebut. Dahulu, tindakan perawatan yang paling umum adalah tindakan bedah terbuka yang disebut trakeoktomi. Namun, perkembangan teknologi membuat tindakan bedah non-invasif dapat dilakukan, seperti penggunaan ventilator positif atau ventilator tekanan negatif.

Ventilator dapat mencegah hipoxemia atau hipercapnia dan meningkatkan kualitas hidup pasien tanpa perlu mengatasi penyebab kondisi yang sebenarnya. Namun demikian, tindakan perawatan seharusnya difokuskan untuk mengatasi penyebab utama dari gangguan yang dialami dan tidak hanya mengatasi gangguan tidur saja.

Selain perawatan medis, pasien perlu mengganti gaya hidupnya. Seperti menghindari konsumsi minuman beralkohol dan kafein sebelum tidur, atau mengubah tempat tidur agar tidur menjadi lebih nyaman.


Rujukan:

  • Sateia MJ. International classification of sleep disorders-third edition: highlights and modifications. Chest. 2014;146:1387-1394. PMID 25367475 www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25367475.

  • Wakefield TL, Lam DJ, Ishman SL. Sleep apnea and sleep disorders. In: Flint PW, Haughey BH, Lund VJ, et al., eds. Cummings Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2015:chap 18.

Bagikan informasi ini: