Apa itu Gangguan Pembekuan Darah?

Gangguan pembekuan darah (yang juga disebut trombofilia atau hiperkoagulasi) adalah penyakit yang melibatkan pembekuan darah secara berlebihan – bahkan pada daerah di mana seharusnya pembekuan tidak boleh terjadi; seperti pada pembuluh darah – sehingga mengakibatkan kondisi yang membahayakan jiwa.

Pembekuan darah adalah cara alami tubuh untuk mencegah kehilangan darah secara berlebihan.

Terluka, melahirkan, dan bahkan cabut gigi pun dapat menyebabkan pendarahan. Bagi yang memiliki gangguan pendarahan seperti hemofilia, hal-hal tersebut dapat menyebabkan pendarahan yang parah.

Pada umumnya, trombosit – jenis sel darah yang beredar di dalam tubuh – akan menuju ke daerah yang terluka dan berkumpul hingga mereka membentuk suatu sumbatan. Proses pembekuan ini secara medis disebut koagulasi. Faktor protein juga terlibat dalam proses pembekuaan, untuk memastikan bahwa trombosit ini saling merekat.

Ketika gumpalan darah telah terbentuk dan pendarahan telah terhenti, gumpalan darah akan diserap kembali oleh tubuh dan menimbulkan jaringan luka.

Untuk mereka yang mengalami gangguan pembekuan darah, trombosit cenderung berkoagulasi bahkan saat tidak ada pendarahan. Darah yang menggumpal pun tidak diserap kembali seluruhnya oleh tubuh. Pada beberapa kasus, gumpalan ikut ke dalam aliran darah dan menempel pada pembuluh dan dinding darah yang ditemukan di daerah paru-paru, otak, dan daerah lainnya.

Penyebab Gangguan Pembekuan Darah

  • Faktor V Leiden – Faktor V adalah salah satu faktor protein yang bertanggung jawab untuk pembekuan. Bagi orang yang memiliki kelainan genetika ini, tubuh mereka tidak dapat “mematikan” protein faktor V sehingga menyebabkan pembekuan darah yang berlebihan. Tingkat keparahan gangguan pembekuan darah tergantung pada banyaknya gen yang terpengaruh. Jika seorang anak hanya memiliki satu gen yang terpengaruh, resiko pembekuan darah adalah sekitar 8 kali lebih besar daripada orang lain. Akan tetapi, resikonya meningkat hingga 80 kali jika seseorang memiliki 2 gen yang terpengaruh. Pasien yang didiagnosa mengalami penyakit ini juga rentan terkena trombosis vena dalam atau DVT, di mana gumpalan darah terbentuk di dalam vena, terutama di daerah kaki. Gumpalan darah juga dapat dilihat pada organ utama seperti ginjal, hati, dan otak.

  • Kekurangan Protein S dan C – Protein tersebut dibutuhkan untuk mencegah pembentukan gumpalan darah pada alirah darah, atau saat sel darah berjalan melalui pembuluh darah. Akan tetapi, mutasi (perubahan) genetik mungkin akan mencegah protein tersebut diproduksi dengan cukup, sehingga meningkatkan resiko pembekuan darah secara berlebihan hingga 20 kali. Walaupun penyakit ini dapat terbentuk sejak kecil, namun biasanya pembekuan darah akan terlihat saat masa dewasa.

  • Tingginya Kadar Homosistein – Homosistein adalah asam amino yang dihasilkan tubuh dengan menggunakan metionin (yang diperoleh dari ikan, susu, dan daging). Metionin diubah menjadi homosistein saat memasuki aliran darah. Dengan bantuan vitamin B6, homosistein diubah menjadi sistein, yaitu asam amino yang bertanggung jawab untuk menjaga bentuk atau susunan protein yang ada pada sel tubuh.

Akan tetapi, untuk beberapa alasan (yang juga dapat disebabkan oleh genetik) tubuh gagal mengubah homosistein menjadi sistein atau kembali menjadi metionin. Pada akhirnya, terdapat kenaikan kadar homosistein, juga disebut hiperhomosisteinemia, yang kemudian meningkatkan resiko pembekuan darah, sekaligus stroke dan serangan jantung.

Resiko terbentuknya gangguan pembekuan darah dapat meningkat oleh faktor-faktor berikut:

  • Obesitas – Hingga saat ini, ahli kesehatan masih tidak mengetahui bagaimana obesitas meningkatkan resiko pembekuan darah. Tetapi mereka yakin bahwa gaya hidup yang banyak duduk, kurang bergerak, perubahan pada kimia darah, dan sebagainya, dapat membentuk suatu hubungan yang menyebabkan pembekuan darah.

  • Pil Keluarga Berencana (KB) – Pil KB meningkatkan kadar estrogen pada tubuh. Tetapi, pil KB juga meningkatkan produksi faktor koagulasi yang menyebabkan peningkatan resiko pembekuan darah.

  • Aterosklerosis – Kondisi di mana arteri mengeras karena timbunan plak. Timbunan plak (kolesterol) memiliki tutup yang pada akhirnya akan pecah. Ketika itu terjadi, tubuh akan mengirim trombosit dan faktor koagulasi ke daerah tersebut untuk memperbaiki robekan. Kemudian, hal itu akan menyebabkan pembentukan gumpalan darah yang dapat semakin mempersempit jalan aliran darah.

Gejala Utama Gangguan Pembekuan Darah

  • Adanya trombosis vena dalam
  • Keguguran, terutama saat 6-9 bulan
  • Hipertensi selama kehamilan
  • Terasa hangat pada kulit tepat di atas gumpalan darah
  • Kulit memerah
  • Sesak napas
  • Terasa pening
  • Batuk
  • Nyeri pada punggung bagian atas atau dada
  • Tidak sadarkan diri
  • Kaki bengkak
  • Terkena stroke di usia muda

Siapa yang Harus Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Ada berbagai dokter yang dapat mendiagnosa, mengobati, dan mengatasi gangguan pembekuan darah. Untuk situasi yang lebih kompleks atau apabila penyebabnya adalah genetik, dokter umum akan merujuk pasien pada hematolog, yaitu dokter dengan spesialisasi darah. Bagi mereka yang mengalami pembekuan darah di dalam sistem peredaran darah, seorang kardiolog akan dapat membantu. Tetapi bila ditemukan pada ginjal, seorang nefrolog yang akan dibutuhkan.

Diagnosis untuk trombofilia membutuhkan berbagai pengujian seperti:

  • Pemeriksaan genetik
  • Pemeriksaan darah
  • Pengujian fisik
  • MRI scan
  • Venografi
  • Ultrasound (USG)
  • CT scan

Bila keadaannya dianggap ringan, terutama apabila gumpalan darah masih belum terbentuk, kemungkinan pasien tidak membutuhkan pengobatan apapun. Namun, penting untuk selalu memantau perkembangan penyakitnya. Tujuan pertama adalah memastikan bahwa pembekuan darah tidak akan berlebihan dan tidak akan menyebabkan bahaya untuk organ tubuh.

Bagi mereka yang telah atau dianggap beresiko terkena pembekuan darah, biasanya akan diberikan zat anti-pembeku. Obat ini, yang juga disebut pengencer darah, mencegah faktor protein dan trombosit menyatu untuk membentuk gumpalan darah. Beberapa jenis yang terkenal adalah heparin dan warfarin. Selain bermanfaat, obat ini juga mengandung resiko, termasuk kemungkinan mengalami gangguan pendarahan. Oleh sebab itu, pasien harus bekerja sama dengan dokter untuk memantau efektivitas dan pengunaan obat tersebut.

Untuk situasi darurat, dokter dapat memberikan trombolitik, yaitu obat dengan reaksi-cepat untuk melawan pembekuan darah. Gumpalan darah juga dapat dihancurkan dengan menggunakan kateter.

Rujukan:

  • Schafer AI. Thrombotic disorders: hypercoagulable states. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman’s Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 179.
Bagikan informasi ini: