Apa itu Gangguan Saluran Empedu?

Saluran empedu, yang terdiri dari organ dan saluran yang menghasilkan dan menyebarkan cairan empedu ke duodenum (usus kecil), adalah bagian penting dari system pencernaan. Saluran yang terdiri dari hati, pankeras, duodenum, dan saluran empedu umum serta perihilar ini juga dikenal sebagai pohon empedu atau system empedu. Cairan empedu yang disekresi oleh hati memiliki peran penting dalam pencernaan lemak. Pada awalnya, cairan ini disimpan dalam kantong empedu dan ketika sistem pencernaan menemukan adanya lemak, cairan empedu ini kemudian dikirimkan ke duodenum. Sayangnya, saluran empedu rentan terhadap segala macam gangguan, seperti halnya bagian tubuh lainnya. Salah satu gangguan yang paling umum terjadi adalah obstruksi/penyumbatan yang disebabkan oleh batu empedu. Dalam kasus ini, empedu tidak dapat melepeskan cairan empedu ke duodenum, sehingga muncul gangguan hati yang dapat menyebabkan gagal hati. Namun, saluran empedu yang tersumbat juga dapat disebabkan oleh factor lainnya seperti infeksi, jaringan parut, atau bahkan kanker. Masalah saluran empedu lainnya yang tidak begitu umum terjadi namun biasanya menyerang anak-anak adalah penyakit atresia bilier. Gangguan ini mungkin jarang terjadi, namun gangguan ini merupakan penyebab utama dari kebanyakan kasus transplantasi hati pada anak-anak di Amerika Serikat.

Penyebab Gangguan Saluran Empedu

Batu empedu adalah penyebab utama yang paling sering terjadi ketimbang gangguan saluran empedu lainnya. Komunitas medis belum mengetahui alasan mengapa batu empedu dapat terbentuk, namun hal ini diyakini terjadi karena adanya ketidakseimbangan dalam zat-zat yang menghasilkan cairan empedu, kemungkinan terdapat jumlah kolesterol atau bilirubin yang berlebihan, atau kantung empedu tidak benar-benar dikosongkan. Hati menghasilkan kolesterol, namun zat kimia dalam empedu seharusnya sudah cukup untuk melarutkannya. Namun, jika hati mengeluarkan kolesterol lebih banyak dari yang seharusnya dapat dilarutkan oleh empedu, kelebihan kolesterol ini akan membentuk Kristal yang menjadi batu di dalam empedu. Hati juga mengeluarkan zat kimia yang disebut bilirubin. Namun, karena kondisi tertentu seperti sirosis hati, kelainan darah, dan infeksi saluran empedu, hati mungkin mengeluarkan jumlah bilirubin yang berlebihan. Jumlah bilirubin yang berlebihan juga dapat berubah menjadi Kristal dan membentuk batu empedu yang memiliki warna coklat gelap atau hitam.

Gejala Utama Gangguan Saluran Empedu

Gangguan saluran empedu mungkin atau mungkin juga tidak memilki gejala apapun. Sebagai contohnya, batu empedu biasanya muncul tanpa gejala apapun dan umumnya hanya ditemukan selama pemeriksaan medis periodik atau ketika pasien diperiksa melalui sinar-X atau USG untuk beberapa kondisi lainnya. Namun, jika batu empedu menyebabkan munculnya gejala, biasanya akan muncul rasa sakit pada bagian atas perut yang menjalar pada bagian tubuh lainnya, seperti dada dan bahu. Jika menyebar ke dada, penderita gangguan ini mungkin merasa dirinya terkena serangan jantung. Gejala lainnya adalah mual, muntah, demam, kulit kekuningan, dan atau warna mata kekuningan.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Jika Anda mengalami salah satu dari gejala di atas, sebaiknya Anda segera menemui dokter Anda. Bahkan, mungkin Anda harus memeriksakannya ke bagian gawat darurat rumah sakit karena jika rasa sakit akibat saluran empedu menjalar ke dada, rasa sakit tersebut dapat terasa seperti serangan jantung. Dalam situasi darurat, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik mulai dari daerah perut dan menanyakan beberapa pertanyaan mengenai riwayat kesehatan Anda. Jika dokter menyatakan bahwa rasa sakit ini merupakan gangguan dari saluran empedu dan bukan serangan jantung, Anda akan dirujuk ke dokter spesialis, seperti speliasi gastroenterologi. Serangakain tes akan dilakukan untuk menentukan penyebab dari gejala ini. Jika dokter menduga adanya batu empedu, tes yang akan dilakukan mencakup pencitraan magnetic resonance imaging (MRI), endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP), atau hepatobiliary iminodiacetic acid scan (HIDA). Pemeriksaan darah juga akan dilakukan untuk menentukan adanya komplikasi, infeksi, penyakit kuning, atau pankreatitis.

Dalam kasus di mana kondisi pasien tidaklah darurat, pasien harus menemui dokter umumnya yang akan merujuknya ke spesialis yang sesuai dengan hasil pemeriksaan awal. Selama konsultasi, gejala pasien, obat-obatan yang sedang digunakan, dan informasi lainnya yang terkait tentang kesehatan pasien akan didiskusikan. Setelah gangguan saluran empedu diidentifikasi dengan tepat, dokter spesialis akan merancang rencana pengobatan pasien. Pengobatannya dapat menggunakan obat-obatan atau operasi tergantung pada kondisi dan tingkat keparahan kondisi pasien. Batu empedu dapat dilaruktkan dengan menggunakan obat. Namun, jika obat gagal, batu empedu akan diangkat, mungkin dengan kantung empedunya, dengan melalui tindakan operasi rendah risiko. Meskipun tubuh dapat berjalan dengan normal tanpa kantung empedu, pasien mungkin akan mengalami beberapa kali diare. Resiko ini dan resiko lainnya serta komplikasinya akan didiskusikan dengan pasien sebelum operasi dilakukan. Jika gangguan saluran empedu disebabkan oleh penyakit, seperti kanker, dokter spesialis lain seperti onkologi juga akan dilibatkan untuk membantu menangani kondisi tersebut. Pengobatan kanker dapat termasuk terapi radiasi, kemoterapi, pengobatan lainnya, atau bahkan operasi.

Rujukan:

  • Fogel EL, Sherman S. Diseases of the gall bladder and bile ducts. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 25th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2016:chap 158.

  • Stockland AH, Baron TH. Endoscopic and radiologic treatment of biliary disease. In: Feldman M, Friedman LS, Brandt LJ, eds. Sleisenger and Fordtran's Gastrointestinal and Liver Disease. 9th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2010:chap 70.

Bagikan informasi ini: